Tampilkan postingan dengan label heart talks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label heart talks. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 November 2023

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

foto jadul bgtt waktu masih culun


Sejak tulisan terakhir di blog ini dipublikasikan (tahun 2021), saya memutuskan untuk menutup akses publik. Alasannya sederhana, setiap kali membaca tulisan di sini saya seperti bertualang ke masa lalu yang jalannya tidak mudah, seperti melihat luka yang terus terulang bahkan belum selesai. Mengupas kejadian dengan menulis membutuhkan keterbukaan yang jika dilakukan malah bisa menjatuhkan diri sendiri ke tempat yang lebih dalam, pekat, gelap, dan tidak ada ujungnya. Meski begitu, saya tau kemana akan melangkah saat suatu waktu ingin mengingatnya dengan baik, entah itu kepedihan atau kebahagiaan.

 

Yes, ke blog ini.

 

Saya kembali lagi ke sini.

 

Menulis bahwa hidup yang tau-tau ini terlalu dekat dan cepat, tau-tau rutinitas yang dijalani sudah 9am to 6pm, tau-tau mengidolakan BTS, tau-tau jadi pengangguran di usia hampir kepala 3, tau-tau trauma memeluk dengan paksa, tau-tau kehilangan seorang teman, tau-tau hari ini dia sudah tiada.

 

Kata orang begini: “Mau seberapa sering menghadapi kehilangan, kamu tidak akan pernah terbiasa”, sampai suatu ketika saya menangis dalam diam. Berjam-jam. Tanpa menyadari apa yang sudah membuat saya begitu terluka. Waktu itu di siang hari menjelang sholat jumat, saya dikabari kalau seorang teman sudah pergi, menginjakkan garis finish setelah berjuang semampunya.

 

Pertemanan yang saya ingat bukan seperti ke sahabat dekat cerita dari A sampai kembali lagi ke A, bukan yang pernah 'deep talk' meski sama-sama introvert yang tertutup rapat, bukan haha-hihi dan huhu-huhu bersama, bukan yang setiap ada waktu luang nongki cantik supaya instastory estetik, bukan yang saling mengirimi hampers dan kado ulang tahun. Bahkan saya tidak tau dia berapa bersaudara dan berapa sapi yang dia punya (arek boyolali soale wk).

 

Pertemanan yang saya ingat cukup sederhana:

ketika saya belum menuliskan kehadiran saat buka puasa bersama, dia bertanya: “wujudmu dimana?”;

ketika dia lembur dan twitternya penuh karena mengeluh, saya menyela: “octo bgt yaallah”;

ketika saya jengkel karena responnya menyebalkan, dia terbahak: “wahaha yaampun happiest, duh senang sekali”;

ketika tiba momen hari raya, dengan sopan dia menyapa: “njing, test. Minta maaf kene mbe aku”; dan

ketika di suatu sore yang teduh saat pulang dari kampus saya iseng bertanya ingin menikah di usia berapa, katanya: “30 sih nik kalau aku”. Dan dia sudah lebih dulu pulang tanpa sempat menyelesaikan sisa tahunnya di usia 20.

 

Ini hanya pertemanan biasa yang isinya lempar argumen, debat nasib, adu ego, sampai sambat tanpa lihat tempat. Tapi saya tau tidak ada yang hati yang terluka karena kata-kata, saya tau kalau ini adalah cara berteman paling efektif karena misuh-misuh dan berbagi kabar bisa didapat sekaligus.  

 

Saya menyadari dia bukan hanya teman kuliah yang setelahnya tidak ada memori lain untuk dikenang. Dia teman sederhana, tengil, dan tidak terganti. Dia teman yang hangat, mengesalkan, dan akan selalu diingat. Dia teman yang murah senyum, gengsian, dan menularkan tawa. Dia teman yang ambis, rapuh, dan banyak cita-cita. Dia teman yang tidak sempurna, banyak luka, dan tidak putus asa. Dia adalah teman yang sering saya ceritakan ke teman lain.


Dari banyak hal tentang kehilangan, saya belajar bahwa semua orang yang ditinggalkan tetap melanjutkan hidup, tidak ada yang berubah sampai nanti 5, 20, atau 50 tahun mendatang suaranya pelan-pelan terlupakan oleh waktu. Tapi ya tidak apa, kan katanya yang patah akan tumbuh dan yang hilang akan berganti. Saya yakin dia bukan sekedar ‘pergi’ tapi pulang menuju tempat yang indah, sejuk, berwarna, estetik, damai, yang belum pernah dia datangi. Bahagia-bahagia kelak datang berlipat ganda, semoga.

 

Semoga saya tidak akan sering ke sini untuk menuliskan banyak hal-hal yang pedih.

Semoga badai marah riuh yang berisik cukup di tahun ini, berikutnya hanya ketenangan jiwa, tidak perlu sampai petualangan wara-wiri penuh makna.

Semoga, hari ini, besok, dan besoknya lagi masih ada ruang yang menyisakan tawa dan senang-senang saja.

 

Ah saya baru ingat, nangis yang terlalu waktu itu karena yang bikin hidup jadi lucu pergi satu persatu. Asu. Wkwk. 

 

- ditulis dengan hati yang penuh –

 

P.S: you are not that special To, I just want to remember you before I can’t remember anymore wk :P

 

Rabu, 28 Juli 2021

Perihal tepat waktu

Sudah setahun berlalu tapi hanya ada satu tulisan anyar di sini, saya tidak tau mengapa begitu nyaman tidak menulis di blog berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan jika dibiarkan bisa bertahun-tahun. Padahal dulu saat situasi sedang kritis, saya mencari apa saja yang bisa ditulis. Dulu saat saya sedang butuh penghasilan tambahan untuk bayar tagihan, secepat mungkin saya berlari ke blog ini. Dulu saat ada begitu banyak kenangan yang harus dibagikan, saya mengetuk pintu, masuk ke dalamnya, lalu menulis dengan bahagia. Dulu saat ingin menumpahkan isi kepala yang tidak tau harus dilempar kemana, saya menulis dengan sukarela, dengan berlapang dada tanpa penuh kehati-hatian.   


Barangkali sekarang kondisinya sudah berbeda.


Bukan karena tidak lagi mengalami hal pelik atau tidak ada lagi yang bisa dibagikan, namun karena ingin menyimpannya dalam-dalam di ruang pikiran, yang kira-kira tidak dapat ditemukan oleh siapapun, kecuali diri sendiri. Bukan lagi harus mencari tempat pelarian untuk bercerita lebih banyak, tapi karena sengaja “tidak menyadari” perubahan yang ada, sengaja “pura-pura tidak memahami” kondisi saat itu, sengaja “tidak berbuat apa-apa” untuk menghadapinya, hanya membiarkan terjadi begitu saja.  


Tidak memaksa dan tidak berusaha mencari solusi.


Saya tau sampai kapanpun saya akan kembali ke blog ini, menulis apapun yang ingin ditulis, menulis untuk mengingat, dan menulis untuk diri sendiri. Kata orang menulis bisa mengobati, menjadi sebuah cara untuk menyembuhkan luka, meski sampai saat ini saya belum benar-benar menemukannya.


Ada saat di mana yang dibutuhkan bukan menulis, tapi menangis.

Ada kalanya menulis tidak lagi menggugah, tapi penyangkalan diri supaya tidak jujur terhadap situasi yang dialami. Menulis membutuhkan keterbukaan, yang jika dilakukan malah bisa menjatuhkan diri sendiri ke tempat yang lebih dalam, pekat, gelap, dan tidak ada ujungnya.

Ada waktunya, yang dibutuhkan bukan lagi menulis, melainkan keheningan tanpa suara-suara dalam kepala, ketenangan tanpa mimpi buruk, kesendirian tanpa tuntutan, mencapai tujuan tanpa ketakutan, menikmati hidup tanpa rasa bersalah, meski kadang kala semua tercipta atas kesadaran diri sendiri (baca: overthinking). Lagi-lagi tulisan seperti ini saya ciptakan tengah malam, saat usaha untuk kompromi dengan diri sendiri meluap tak beralasan.




Laci-laci mirip sekali dengan memori dan cerita. Ada yang sering dibuka, ada yang kuncinya sudah rusak dan tidak perlu diperbaiki, ada yang digunakan untuk menyimpan barang berharga, ada yang rapi dan terorganisir dengan baik, ada juga yang berantakan dan tidak ingin dibenahi. 
Laci-laci ini mirip sekali dengan keputusan-keputusan yang diambil. Ada yang sengaja menyisakan ruang di dalam, ada yang penuh namun masih tetap dalam kendali, ada yang tidak ingin diketahui orang lain, bahkan ada juga yang menyembunyikan rapat-rapat, tanpa diambil lagi.




Tidak banyak yang ingin saya tulis setelah dari Juli 2020 tidak menceritakan apapun.

Hanya saja, ada begitu banyak hal yang setahun ini sudah dilewati dan kenyataan yang baru disadari, salah satunya adalah perihal tepat waktu. Ia bisa menjadi amat sederhana jika dilihat lebih dekat. Misalnya, ada hari di mana pas sekali saya tiba di stasiun, lalu turun hujan. Pas sekali sudah di peron, kereta datang. Pas sekali sudah pesan ojek online, baterai telepon genggam habis. Detik-detik kritis itulah yang justru menyelamatkan saya. Semua terjadi tepat waktu bahkan baru menyadarinya setelah sampai di rumah dengan kondisi baik-baik saja.


Saya pernah memikirkan “kemungkinan” jika memilih keputusan lain yang bukan terjadi saat itu. Bagaimana jadinya jika saya tidak mengikuti semua hal yang sudah dilewati hari ini? Apakah akan ada situasi berbeda? Akhirnya akan seperti apa ya? Saya bertanya-tanya.


Kadang kala, ekspektasi kita terhadap perihal tepat waktu begitu rumit, sampai bisa kecewa jika segala rencana tidak terjadi tepat sesuai waktu yang diharapkan. 
Kadang kala, kita juga tidak menyadari bahwa ada hal-hal yang diciptakan bukan untuk kita, diusahakan sekeras apa, jika ia bukan untukmu lantas bisa berbuat apa? Perhitungan tepat waktu versimu tidak lagi berlaku.


Tepat waktu yang bisa kelihatan hanyalah saat kita bisa mengaturnya, sisanya? Ada di luar kendali kita.


Semoga, fakta bahwa saya jarang menulis bukan karena sudah dewasa. Sebab katanya menjadi dewasa adalah hal yang melelahkan.

 

  

Love, peace, love, and peace again. Pada akhirnya yang dibutuhkan dalam hidup adalah cinta dan kedamaian, bukan?

- Onix 

Kamis, 09 April 2020

Kabar-kabar yang hidup berdampingan

Dahulu kala jauh sebelum ada teknologi, sebelum bioskop belum popular di kalangan masyarakat, dan berkabar antar satu dengan yang lain masih melalui merpati, seseorang yang memiliki hak penuh atas langit dan bumi berkata, “Kamu akan bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan.” 
Setelah itu, tahun 1876 Alexander Graham Bell menemukan telepon. Manusia merayakannya.
Sekitar hampir 4 dasawarsa kemudian, pada tahun 1914-1918 perang dunia I terjadi. Lebih dari 9 juta orang gugur. Manusia berkabung. 

Ia berkata lagi, “Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari.”

Sampai hari ini, setelah teknologi ditemukan; peradaban manusia berkembang; gawai menjadi kebutuhan; pun COVID-19 menyerang, kalimatNya tidak pernah kedaluwarsa. Kabar bahagia dan dukacita selalu hidup berdampingan. Bahkan saya bingung bagaimana caranya merespon kondisi sekarang, kabar baik dan buruk berseliweran dalam satu waktu.

Memang begitu banyak perubahan yang terjadi sejak Koronavirus hadir di bumi, tapi tetap saja ada banyak hal yang bisa dipelajari:
Di satu sisi, ribuan nyawa menjadi korban, tidak peduli apakah dia orang hebat atau bukan, keluarganya tetap kehilangan. Di sisi lain, semua orang berupaya hidup sehat dan bersih.
Di satu sisi dukacita menyelimuti seisi muka bumi, tapi siapa yang tidak lega ketika tahu bahwa polusi udara di 7 kota besar menurun akibat pandemi ini?
Di satu sisi banyak yang bersedih karena ibadah umrah ditunda sepanjang tahun, kebaktian hari minggu tidak lagi di gereja, shalat jumat sudah lebih dari 3 kali harus dirumahkan. Tapi akibat adanya pembatasan mobilitas di Jakarta, sampah jadi berkurang 620 ton per hari; konsumsi listrik menurun sebanyak 30%, perubahan kualitas udara berubah dari unhealthy menjadi moderate; bahkan indeks kemacetan di jam sibuk turun drastis di angka 14%. Lagi dalam fakta lain, PHK terhadap ribuan karyawan terancam dan kondisi ekonomi menjadi rentan, tapi sikap kepedulian terhadap kemanusiaan bermunculan.

Saya bingung harus bahagia atau turut berduka. Harus berkabung atau merayakannya. Saat sedang sibuk-sibuknya bekerja, mengumpulkan semua anggota keluarga untuk bertegur sapa lewat video call whatsapp adalah sebuah prestasi. Kini seminggu bisa 2 kali diskusi bersama tanpa bingung harus menentukan akan bertatap muka di layar jam berapa.

Kabar-kabar memang ditakdirkan untuk hidup berdampingan. Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk meratap, dan ada waktu untuk menari.
Seperti juga yang terjadi di tengah situasi ini, saya sampai memutar ulang semua lagu-lagu karya Glenn Fredly karena Indonesia sedang berduka, sang legendaris telah berpulang ke pangkuan si Pencipta. Saya ingat betul, dulu saat pekerjaan tidak bisa ditoleransi, lagu yang berkali-kali menemani adalah terserah. 
“Terserah kali ini, sungguh aku takkan peduli, ku tak sanggup lagi, mulai kini semua terserah”
LIVE Streaming KompasTV, Suasana Pemakaman Glenn Fredly di TPU ...
Sumber: instagram/@kuyou.id
Saya bisa putar lagu Glenn sampai se-album saking karya-karyanya menghidupi banyak aspek. Saya tidak pernah bertemu beliau secara langsung, tidak pernah hadir dalam konsernya, juga tidak saling kenal. Tapi sedih dan patah hati tidak dapat disangkal. Ini adalah sebuah kabar duka di tengah pandemi. Saya ingin bercanda seperti biasa, tapi hati segan karena ikut kehilangan. Meski hal yang paling sulit dari mengetahui kabar duka ini adalah dengan menerimanya, tapi yang saya yakini adalah karya-karya Glenn tidak akan tergerus waktu. Usia terhenti, tapi ia abadi.

Semoga tulisan ini akan menjadi pengingat bahwa kabar-kabar yang hidup berdampingan bisa terjadi secara bersamaan dalam satu waktu. Saya tidak akan menyalahkan tahun 2020 yang seenaknya mencatat sejarah, karena seseorang yang memiliki hak penuh atas langit dan bumi ini pernah bilang, Ia akan menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.

Untuk semua generasi yang hidup dengan lagu-lagu Glenn yang juga kehilangan, I’m so very sorry for your loss, I’m going to miss him too, he will be missed by so many.
You’re in our prayers, buddy. Rest in Love, dear Glenn Fredly. 
Selamat jalan, selamat bertemu dengan si Pemilik penuh atas langit dan bumi.



Anw, kalian udah berapa kali bolos shalat jumat? Belum murtad kan?
Sungguh dark jokes L

sumber pendukung: ruangguru//kompas//kumparan

Sabtu, 21 Maret 2020

Kalau bumi hancur, kita juga

Ilustrasi//shutterstock
“Aku, biarlah seperti bumi. Menopang meski diinjak, memberi meski dihujani, diam meski dipanasi. Sampai kau sadar, jika aku hancur, kau juga.” Fiersa Besari

Merebaknya Koronavirus adalah bencana yang tidak hanya membahayakan, tapi juga mematikan. Data dari John Hopkins University per tanggal 20 Maret, terdapat lebih dari 200.000 pasien positif Coronavirus Disease (Covid-19), dengan lebih dari 9.000 orang meninggal dunia, dan 80.000 lebih orang sembuh. Sedangkan di Indonesia, per tanggal 20 Maret, terdapat 369 kasus, 32 meninggal, dan 17 sembuh.

Terhitung sejak Presiden RI mengumumkan 2 pasien yang terjangkit Korona di Indonesia, virus ini ditetapkan sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa) di Kota Solo dan Provinsi Banten. Tidak hanya itu, efek dari keberadaan Covid-19 yang mendunia benar-benar menimbulkan banyak perubahan maupun kebijakan baru.   

Sepanjang sejarah Indonesia, baru kali ini saya melihat kondisi tidak biasa yang terjadi secara bersamaan seperti: wisuda ditunda, sistem belajar di sekolah berubah daring, mahasiswa belajar di rumah sampai 1 semester selesai, tercipta “Work From Home” untuk para pekerja, Monas dan Dufan tutup sementara, sterilisasi terjadi di beberapa tempat, harga rempah-rempah melonjak, hand sanitizer juga masker diburu, bahkan ibadah dianjurkan di rumah.
Dampak wabah ini juga melebar sampai ke industri hiburan: jadwal rilis film diundur, konser musik tanah air memasuki masa penundaan, standup comedy show diberi “libur”, proses shooting beberapa film dihentikan sementara, sampai Resepsi Jesika Iskandar juga ditunda banyak industri travel merugi bahkan terancam kolaps.

Dampak dari Korona memang tidak main-main. Untuk skala besar: Liga Inggris dan Liga Spanyol sudah ditunda, berbagai tempat wisata di belahan dunia ditutup dalam waktu yang tidak ditentukan, warga Jepang sebagai yang paling sibuk pun tidak terlihat keluyuran, Italia sudah mirip kota mati, sampai Pemerintah Arab Saudi menutup Masjidil Haram untuk kegiatan ibadah umrah.

Se-gila itu, cuk!
Malah yang lebih gila lagi, warga Iran sampai keracunan alkohol karena mengira dengan meneguknya akan menjaga diri tertular dari Korona. Belum lagi di Korea Utara, siapapun yang terjangkit Korona akan ditembak mati jika meninggalkan karantina tanpa izin. 

Di sini saya tidak menyoroti bagaimana kondisi perekonomian dunia setelah virus ini semakin meluas atau Korona yang menjadi isu “pembunuh” umat manusia, tapi bagaimana Bumi diminta untuk beristirahat sejenak dari tugasnya menopang manusia-manusia dan segala tindak-tanduknya, termasuk ulah nakal yang melakukan penyelundupan satwa liar. Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi atau wabah penyakit global yang berasal dari satwa liar seperti kelelawar. Dalam kurun waktu 1 dekade, banyak satwa liar yang masuk pasar internasional secara ilegal.
Mungkin kita diminta untuk sadar dan berhenti menyusahkan lingkungan, atau barangkali kita ditegur agar berupaya menjaga keseimbangan ekosistem di bumi sebaik mungkin, dan hidup berdampingan dengan alam yang sudah memberikan tumpangan pada kita.
Faktanya, sebelum terjadinya wabah Korona, perubahan iklim hanya disibukkan dengan tanggung jawab kita untuk mengurangi emisi karbon. Tampaknya hanya menciptakan kesan “iya iya aku ngerti kok” saat isu perubahan iklim menjadi masalah besar. Kita masih bandel jika diminta untuk ikut terlibat dalam mencegah situasi lingkungan yang semakin kritis. Dari data  yang saya temukan (baca:NOAA) tahun 2019 merupakan tahun kedua yang terpanas setelah 2015. Suhu bumi mencapai 2 derajat Celcius yang dapat menyebabkan kekeringan ekstrem dan kenaikan permukaan laut.

Namun akhir-akhir ini, kabar dari ESA-NASA cukup mengejutkan saya. Katanya, udara di Italia lebih bersih dari polusi sejak pemerintah setempat memberlakukan lock down. Terjadi penurunan emisi nitrogen-dioksida secara drastis. Hal ini juga berlaku di Cina, polusi udara mengalami penurunan tajam antara awal Januari dan akhir Februari.
ESA, NASA
Memang tidak ada yang menyebutkan “untung” dari situasi sekarang. Bukan karena Bumi jadi bebersih, kedatangan Koronavirus adalah sebuah keuntungan. Bukan, bukan begitu konsepnya. Kita tetap tidak boleh panik, harus selalu waspada, jaga kesehatan agar imunitas tidak turun, tetap produktif dan istirahat cukup, juga tidak ngeyel saat diminta untuk melakukan penjarakan sosial, bukan malah liburan dan makan siang ke mall dong ((Otaknya pada ketinggalan apa gimana, hadeh)).

Jika memang ini adalah saatnya, maka izinkan Bumi untuk istirahat sebentar saja. Semoga dengan mengurangi aktivitas di luar rumah, Ibu Pertiwi juga ikut membaik kondisinya, kembali seperti sedia kala, entah itu karena Korona atau perubahan iklim yang semakin melanda. Kalau yang kemarin melakukan sesukanya, maka kali ini tahan sebisanya. Cuci tangan sesering mungkin, pakai masker saat sedang sakit, dan tidak nongkrong dulu di cafe ala-ala. 

Ah, ayolah, kerja sama. Kurangi gobloknya. 

Betul juga kata Fiersa, kalau Bumi hancur, kita juga.



Sumber pendukung:
www.kompas.com
www.mongabay.co.id
ESA, NASA (www.nasa.gov)

Minggu, 02 Februari 2020

Jika hal yang paling sulit adalah menerima, maka lainnya adalah kompromi dengan segala

0202-2020. Hari ini tanggal cantik ya? Kira-kira ada berapa kabar bahagia yang menguap ke udara? Termasuk Isyana, kita tahu kalau hari ini betapa rekah tak terkira pasangan-pasangan kekasih meresmikan hari jadinya. Semoga sampai akhir cerita, bahagianya masih sama, seperti hari ini di minggu yang mendung namun semesta mendukung.
Siapa yang akan bilang “sudah cukup” kalau semua orang mengaku sama-sama sedang berjuang?
(source: @piokharisma)
Kira-kira sudah berapa lama si pemilik blog ini tidak mampir dan merapikan debu-debu yang melekat di beranda? Ah ya, lebih dari 6 bulan. Ini rekor paling lama saya tidak menulis di blog, atau sekadar basa-basi basi seperti biasanya. Tidak ada alasan remeh selain karena tanggal cantik, saya putuskan untuk menulis lagi meski masih membiarkan perabot berserakan di sela blog archive sampai tidak sadar kalau widget visitor sudah usang dan bertuliskan “error”.  Waw. Sungguh pencapaian nirfaedah yang paling tinggi. Tapi saya tahu, ketika membuka blog yang terkunci rapat, bahkan sudah tidak ada pembaca, saya akan kembali lagi ke sini. Sepenuh apapun isi kepala, sehebat apapun kabar di luar sana, atau sesulit apa merencanakan masa depan, saya selalu menulis di rumah ini: di halaman digital yang diisi oleh ingatan-ingatan setiap waktu.

Anggaplah tulisan ini sebagai bentuk pengingat perjalanan yang sudah dilewati sepanjang tahun. Saya pernah bilang, bahwa hal yang paling sulit adalah menerima. Tentang bagaimana kita diajak untuk berdamai terhadap kabar-kabar yang menyesakkan atau justru bahagia. Nyatanya, semakin menginjak usia, menerima saja belum cukup. Ada tagihan yang harus dibayar setiap bulan, ada keinginan yang harus ditunda, ada kesiapan yang dipaksa, ada embel-embel “kan sudah kerja”, ada mau-tidak-mau suka-tidak-suka harus bisa, ada keluh yang tertahan, ada alasan-alasan yang harus diciptakan, ada riuh gemuruh di dada yang harus didiamkan, ada juga tanggungjawab yang “kelihatannya” tidak seberapa padahal entah bagaimana bisa melaluinya. Nyatanya, menjadi dewasa bukan semudah usia bertambah. Jika hal yang paling sulit adalah menerima, maka lainnya adalah kompromi dengan segala. Tentang bagaimana harus rela kalau rencana yang didamba gagal di depan mata, atau menahan keluh meski sudah mendapat kecukupan dan kemudahan, bahkan sekadar protes karena proses yang berat dan perjalanan menuju bijaksana tidak bisa seenaknya diungkapkan. Ya karena harus kompromi dengan segala. Hari ini ada rencana, besok juga, seterusnya sampai “kalau yang ini gagal, masih ada yang lain.”

Saya tahu, semua orang mengalaminya. Semua orang berencana: memutuskan apa yang baik untuknya. Tapi, pertanyaannya: Kalau kita yang harus mereda suara, menenangkan keadaan, berupaya semua harus baik-baik saja, maka siapa yang menepuk pundak kita untuk bilang “percayalah, kamu sudah berusaha”?

Siapa yang akan bilang “sudah cukup” kalau semua orang mengaku sama-sama sedang berjuang?

Siapa yang membentuk siklus semacam ini dalam kehidupan manusia? Perihal bertahan, berjuang, dan menerima. Kenapa harus selalu ada rencana dalam kepala, bahkan ketika tahu itu sia-sia?

Kenapa “seharusnya” atau “sebaiknya” mengikut serta atas pilihan-pilhan kita?

Saya menerka-nerka.



Jakarta, 0202-2020


Rabu, 08 Mei 2019

Semoga setiap orang di luar sana mampu mengenali dirinya sendiri

Saya suka senja, barangkali kamu suka pagi. Kita beda? Tak apa, karena setiap
punya pilihannya masing-masing tentang apa yang ia suka
Source image: Akbar

23:27

Iya. Saya menulis ini di jam 23:27, yang satu jam sebelumnya baru saja selesai menelepon Ibu di rumah.
“Mam tau nggak sih, di sini orang-orang bangunin sahur udah kek ngajak ribut. Hahaha,” saya memulainya dengan kalimat sederhana. Saya tahu setelah ini yang kami bicarakan akan lebih berat, maka saya awali saja dengan yang lucu menggemaskan namun ingin lempar obor dari kamar, kalau bisa. Kalau tidak bisa? Ya lanjut tidur, lah.

“Halah kalau kau tidur di rumah juga banyak yang keliling bangunin sahur, kek nggak pernah aja.” Ibu menjawab begini biar menghibur sekadarnya, saya tahu itu.

“Hee beda tau. Di sini anarkis. Kek mau suporteran sepak bola.” Tentu saya tidak mau kalah.

“Ah, ikut aja sekalian biar rame.”

“Ok.”

Jika Ibu menghubungi saya dari seberang telepon, ia hanya ingin tahu tentang bagaimana harimu, apakah pekerjaanmu menyenangkan, pulang jam berapa tadi, kapan perjalanan dinas, mengapa tidak mau jadi cpns, dan seterusnya-seterusnya. Karena yang paling menarik adalah soal pulang jam berapa, maka itu saja yang saya jawab paling panjang.

“Jam 3 dong, kan puasa.” Tentu kalimat ini saya ucapkan dengan nada penuh kesombongan.

“Ih, orang yang puasa kau yang ambil hikmahnya ckck,” jawab Ibu datar.

“Hahaha, thanks to teman-teman yang puasa lah, mam.”

“Jadi kalau udah pulang, habis itu ngapain?” Ibu bertanya lagi.

“Tidur.”

“Apalah kerja anak-anakku ini, si abang kerjanya makan, kau tidur. Sibuk tidur terus. Weekend tidur, pulang kerja tidur. Halah.” Ibu mulai naik pitam. Tapi saya biasa saja tentunya, karena Ibu sudah sangat tahu apa yang menyenangkan bagi saya dan apa yang tidak.

“Hahahaha, biasalah. Passion, mam.” Balas saya mengejek.

“Kerjain yang lain kek.” Ibu saya ini paling anti jika melihat orang hanya ongkang-ongkang kaki, tidur, dan tidak berbuat apa-apa, lalu saya tanya dengan serius, “Mam, emang nggak suka tidur?”

“Nggaklah, buat apa,”

“Terus sukanya ngapain?”

“Hmm apa ya? Nggak tau.”

“Masa mama nggak tau sukanya apa. Aku sukanya tidur, kalau bosan ada opsi lain, bisa nulis. Abang sukanya makan, punya cadangannya lagi, main game. Adek suka make-up. Bapak juga suka tidur, kalau ada buku pas lagi makan, dibaca. Masa mama nggak ada?”

“Nah emang nggak tau sukanya apa,” Ibu saya mulai menjawab ini dengan serius.

Saya bertanya lagi, memberikan pilihan “Kemarin waktu bikin tanaman di sana suka, nggak?”

“Nggak.”

“Lah, ngapain dikerjain?”

Ibu saya diam.

“Ah masa nggak punya hobi sih? Suka masak kan, mam?”

“Nggak juga.”

“Lah? Tapi kok enak.”

“Nah aneh. Kan masakan enak karena udah biasa masak, belum tentu karena suka,” Ibu mulai ketus.

“Jadi sukanya apa?”

“Ya mana tau.”

Setiap kali Ibu saya jawab ‘tidak tahu’ saya jadi berpikir, apa yang selama 20 tahun ini saya kerjakan, sampai saya tidak tahu apa yang Ibu saya suka ketika melakukannya. Jangan-jangan ini adalah kali pertama seseorang bertanya padanya tentang apa yang ia suka. Saya tertegun.

Saya tanya lagi, masih dengan nada bercanda, “Mam, coba deh cari tau kesukaanmu apa. Menjahitkah, menyulam, berkebun, apa ajalah. Tapi jangan nyanyi ya, nggak bisa.”  

“Kampret, hahahaha.”

“Hahaha, nggak usah dipaksa kalau nggak bisa nyanyi mah.” Kami tertawa bersama.

“Emang kalau udah tau sukanya ngapain, terus kenapa?”

“Mam, aku kalau lagi bête, lagi sedih atau capek, aku tidur. Pas bangun udah lupa semuanya. Fresh lagi. Abang juga gitu. Kemarin dia jemput aku pulang kerja, sepanjang jalan ngomel-ngomel. Beh. Kacau. Tapi karena dia suka makan, setelah aku ajak makan, dia happy. Kan aku jadinya nggak kena omel. Jadi kalau kita udah tau diri sendiri, kita bisa ngerti harus ngapain, nggak perlu minta bantuan sama orang atau uring-uringan,” jawab saya serius.

“Oh gitu.”

“Iya. Kalau mau bikin orang lain di sekitar kita happy, kita juga harus happy dulu.”

“Hmm bener juga sih ya.” Kalau percakapan ini tatap muka, saya tahu kalau Ibu sedang mengangguk setuju.

“Jadi, sekarang hobimu apa, mam?”

“Tidur ajalah hahahaha.”

“Hadeh.”

Selama saya berusaha melihat diri sendiri, saya baru tahu bahwa orang yang paling dekat dengan saya bahkan belum mengetahui tentang dirinya. Lalu saya menyadari, Ibu sudah bahagia jika saya dan anak-anak Ibu yang lain juga bahagia. Bahkan jika dirinya sendiri tidak merasa cukup dengan apa yang sedang ia lakukan, ia juga bahagia, karena itu untuk saya. Untuk kami yang bahkan tidak tahu apa yang membuatnya bisa tersenyum.

“Ya udah, kalau gitu aku tunggu seminggu ya, mam. Cari tau hobimu apa. Pokoknya minggu depan aku tanya harus udah ada jawabannya.”

“Caranya gimana sih?”

“Cobain semua hal. Nanti kalau ada yang pas, berarti suka. Lakukan terus, nanti jadi hobi. Gitu, mam.”

“Iya deh iya. Mama udah ngantuk ini,”

“Dicoba ya? Bener ya?”

“Iya.”

“Oke, mam. Nite,”

“Nite, kak.”

“Yaa.”

“Malam.”

“Hah nite sama malam sama aja, mam. Ah udah matiin lah.”

“Yaa.”

-Tuuuut-


Semoga setiap orang di luar sana mampu mengenali dirinya sendiri, bisa membedakan apa yang menyenangkan baginya dan apa yang tidak, apa yang ia butuhkan, kapan merasa cukup, pilihan mana yang membuatnya bisa bahagia, cara apa yang ia suka, dan bagaimana ia tidak menjadi orang lain. Karena mengenali diri sendiri bukan tergantung dengan usia.


Jakarta, 00:23.
Iya. Saya selesai menuliskan ini pukul 00:23, ditutup dengan topik yang agak berat. Wha, sejak kapan saya bisa menasehati Ibu sendiri?



SELAMAT SAHUR 2 JAM LAGI!
SEBENTAR LAGI LAGU-LAGU YANG BERDENDANG MERDU ITU AKAN MENGISI MIMPIKU.

Rabu, 01 Mei 2019

Sebuah Surat Digital


Hari ini, pada tanggal saat semua buruh diliburkan termasuk saya, surat digital ini dituliskan.

Kau tahu kan bagaimana mekanisme sebuah surat digital? Tidak mungkin setelah menulisnya, saya titipkan pada merpati lalu diterbangkan ke awan-awan, tidak mungkin juga saya selipkan dalam botol untuk dihanyutkan di laut dan disampaikan lewat neptunus.
Tentu ketika surat ini diterbitkan, maka siapapun bisa menemukannya, siapapun bisa mengetahui apa yang hati saya sedang bicarakan.  
Untuk itu, saya ingin mengiba maaf: karena malah berterus terang lewat surat digital; bukan di dalam kamar, menutup pintu, melipat tangan, lalu berdoa; saya malah membiarkan orang lain membacanya.

Kau tahu kenapa saya ingin menulisnya di sini? Supaya saya terus mengingat, untuk banyak hal yang sudah saya lalui dan mengabaikannya.

Semua berjalan dengan baik. Kuliah, menjalani proses skripsi, diwisuda, dapat kerja. Tidak ada yang menjadi kendala, semuanya tepat waktu. Malah saya bertemu pengalaman baru. Berjabat erat dengan orang baru. Menikmati hal baru. Bahkan kalau orang lain melihat, rasanya saya melewatinya tanpa ada kesulitan meski hanya sedikit saja. Tapi karena itulah surat ini ada. Saya ingin kau melihatnya.

Saya paling benci ini: berdamai dengan diri sendiri. Bisakah kau ajar saya berdamai? Saya benci diri saya yang sering mengeluhkan hari-hari, menggampangkan kemudahan, mengabaikan kebaikan, mencaci kecukupan. Saya benci dikala saya terlambat menyadari sesuatu, merasa bersalah, lalu lupa mengadukannya padamu.

Ada teman yang belum selesai skripsinya, ada yang sudah berbulan-bulan belum mendapat panggilan kerja, ada yang dilema antara kesehatan atau cita-cita, ada yang kesusahan dengan lingkungan barunya, ada pula yang patah hati tapi mesti menjalani hari.
Sedangkan saya? Hanya menjalani saja, namun berontaknya banyak.

Buruh berdemo satu kali dalam satu tahun, tapi saya? Bahkan saya berdemo hampir setiap bangun tidur di pagi hari. Maka di hari ini, ketika para buruh berdemo di hadapan yang memerintah, maka saya sangat cukup untuk bilang terima kasih dihadapanmu. Ada kalanya saya tersenyum ketika jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Senyum itu tidak kunjung hilang saat saya tiba di sebuah rumah, membuka pagar, berteduh di bawahnya, dan melanjutkan malam. Dan sebelum esok pagi tiba, saya ingin sekali mengucap terima kasih berulang kali, karena hingga kini saya masih bisa mengulangi itu semua setiap hari.

Barangkali, kemudahan macam apalagi yang akan kau beri? Saya bertanya-tanya.


Salam,
Onix Octarina.
Untuk, Yang Maha Kuasa: Tuhan.

Rabu, 07 November 2018

Kebahagiaan pada porsinya

Meski aroma tanah menyeruak ke permukaan dan udara pagi sedang sejuk akibat hujan deras tadi malam, saya memulai hari dengan biasa saja. Padahal sudah begitu lama Semarang tidak dihujani lagi seperti ini, tapi tetap saja, tidak ada yang istimewa.
Meski sudah ada daftar pekerjaan yang harus saya selesaikan di kampus, saya, masih saja merasa tidak ada sukacita yang menggebu dalam dada.
Meski sebenarnya tidak ada hambatan yang begitu berarti sepanjang hari atau hal yang menjengkelkan, tapi tetap saja, seperti ada yang hilang dari dalam diri saya.

Saya menerka-nerka apa penyebab jelasnya.
Hasil gambar untuk bahagia
Source: di sini
-++-
Sekitar pukul 8 malam, saya menelepon Bapak. Rindu. Padahal baru 3 hari lalu meninggalkan Semarang, tapi sepi cepat sekali muncul. Kami selalu berbincang sederhana: bagaimana harimu, apa kabar yang baru, bangun jam berapa tadi pagi, kenapa saya tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik, dan sebagainya.

Saya selalu mengusahakan agar kami membicarakan hal-hal yang menyenangkan, pun jika ada sesuatu yang sulit maka secukupnya saja.
Di sela-sela itu, obrolan kami pelan-pelan mengarah pada peristiwa duka dari kecelakaan pesawat Lion Air JT610 sepekan lalu. Membahas ini dengan Bapak, saya selalu merinding. Mengucap syukur berkali-kali.
-++-

Cara Tuhan selalu tidak pernah diduga. Tentang apapun yang terjadi dalam hidup kita.
Ada satu hal yang baru saya sadari hal apa yang hilang dari diri saya pagi ini. 
Ya, berbahagia secukupnya. Berbahagia pada porsinya. Itu yang hilang. 

Saya seringkali protes pada Tuhan, padahal selalu dicukupkan.
saya seringkali mengeluhkan dan menuntut ini itu, merasa semuanya selalu kurang, padahal segala sesuatu sudah baik-baik saja.
Saya seringkali fokus pada hal-hal yang belum tercapai, padahal ada banyak kebaikan-kebaikan kecil yang diterima setiap hari.
Saya seringkali berambisi supaya bisa melampaui ekspektasi, padahal punya harapan saja sebenarnya sudah cukup.
Berbahagialah sesuai porsimu.

Jika kurang, maka cepat kita risau. Jika mengusahakan yang lebih, maka cepat hati kita kosong.
Bahagialah pada apa dan siapa yang masih kita punya, selagi bisa berbincang sederhana dengan mereka. 
Rasanya, setiap hari saya ingin menyampaikan terima kasih dan maaf untuk Bapak dan Ibu saya. 


Semarang, 07 November 2018
Di luar dari semua tulisan ini, saya ingin mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya untuk seluruh awak dan penumpang Lion Air JT610 serta keluarga yang ditinggalkan.
Cara Tuhan selalu tidak terduga, senantiasalah berbaik sangka padaNya. Ia selalu menemukan langkah, merencanakan yang terbaik bagi kebahagiaan kita semua, umatNya.

Diberdayakan oleh Blogger.