Rabu, 01 Mei 2019

Sebuah Surat Digital


Hari ini, pada tanggal saat semua buruh diliburkan termasuk saya, surat digital ini dituliskan.

Kau tahu kan bagaimana mekanisme sebuah surat digital? Tidak mungkin setelah menulisnya, saya titipkan pada merpati lalu diterbangkan ke awan-awan, tidak mungkin juga saya selipkan dalam botol untuk dihanyutkan di laut dan disampaikan lewat neptunus.
Tentu ketika surat ini diterbitkan, maka siapapun bisa menemukannya, siapapun bisa mengetahui apa yang hati saya sedang bicarakan.  
Untuk itu, saya ingin mengiba maaf: karena malah berterus terang lewat surat digital; bukan di dalam kamar, menutup pintu, melipat tangan, lalu berdoa; saya malah membiarkan orang lain membacanya.

Kau tahu kenapa saya ingin menulisnya di sini? Supaya saya terus mengingat, untuk banyak hal yang sudah saya lalui dan mengabaikannya.

Semua berjalan dengan baik. Kuliah, menjalani proses skripsi, diwisuda, dapat kerja. Tidak ada yang menjadi kendala, semuanya tepat waktu. Malah saya bertemu pengalaman baru. Berjabat erat dengan orang baru. Menikmati hal baru. Bahkan kalau orang lain melihat, rasanya saya melewatinya tanpa ada kesulitan meski hanya sedikit saja. Tapi karena itulah surat ini ada. Saya ingin kau melihatnya.

Saya paling benci ini: berdamai dengan diri sendiri. Bisakah kau ajar saya berdamai? Saya benci diri saya yang sering mengeluhkan hari-hari, menggampangkan kemudahan, mengabaikan kebaikan, mencaci kecukupan. Saya benci dikala saya terlambat menyadari sesuatu, merasa bersalah, lalu lupa mengadukannya padamu.

Ada teman yang belum selesai skripsinya, ada yang sudah berbulan-bulan belum mendapat panggilan kerja, ada yang dilema antara kesehatan atau cita-cita, ada yang kesusahan dengan lingkungan barunya, ada pula yang patah hati tapi mesti menjalani hari.
Sedangkan saya? Hanya menjalani saja, namun berontaknya banyak.

Buruh berdemo satu kali dalam satu tahun, tapi saya? Bahkan saya berdemo hampir setiap bangun tidur di pagi hari. Maka di hari ini, ketika para buruh berdemo di hadapan yang memerintah, maka saya sangat cukup untuk bilang terima kasih dihadapanmu. Ada kalanya saya tersenyum ketika jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Senyum itu tidak kunjung hilang saat saya tiba di sebuah rumah, membuka pagar, berteduh di bawahnya, dan melanjutkan malam. Dan sebelum esok pagi tiba, saya ingin sekali mengucap terima kasih berulang kali, karena hingga kini saya masih bisa mengulangi itu semua setiap hari.

Barangkali, kemudahan macam apalagi yang akan kau beri? Saya bertanya-tanya.


Salam,
Onix Octarina.
Untuk, Yang Maha Kuasa: Tuhan.

3 komentar:

  1. jadi lupa mau ngomong apa kan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gimana kalau via whatsApp aja? biar ingat mau ngomong apa. Sekalian aku kirim golok virtual.

      Hapus
  2. Dikira mau disebutin juga bentuk berontaknya seperti apa jadi lebih jelas. Tapi terlepas dari itu, intinya harus bisa selalu bersyukur ya dari semua tahap di kehidupan yang udah terjadi ataupun yang akan datang.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.