Senin, 15 Juni 2020

Meracik 6 bumbu utama untuk memaksimalkan teknologi di tengah pandemi

Kalau ada yang bertanya “Apa yang membuatmu betah di rumah aja selama masa karantina?” Maka akan saya jawab tanpa ragu: “Kemudahan internet dan keberadaan gadget.” Mungkin kalau tanpa kehadiran keduanya, saya bisa mati kutu di kosan karena nggak tau harus ngapain lagi. Situasi Pandemi Covid-19 yang mengharuskan kita semua untuk berada di rumah secara tidak langsung memaksa kita untuk berpikir kreatif. Hari ini ngapain ya? Besok ngapain lagi? Dan seterusnya sampai hari ini.   
Ada apa dengan milenial dan Revolusi Industri 4.0?
Kemudahan teknologi itu menyenangkan. Semua pekerjaan yang dulu perlu pengorbanan terkait jarak dan waktu kini bisa berlangsung lebih mudah dan cepat, bahkan sebagian di antaranya bisa dilakukan dari rumah. Penggunaan internet dan gadget sangat identik dengan generasi milenial. Generasi Milenial – atau Generasi Y, yang disebutkan oleh mayoritas peneliti serta ahli demografi sebagai generasi yang lahir pada dalam rentang 1980-an hingga 2000-an merupakan generasi unik yang lahir di tengah-tengah pertumbuhan internet dan kemudahan informasi. 

Milenial adalah generasi kreatif dan cepat yang memanfaatkan perubahan dan peluang yang ada. Mereka (termasuk saya juga sih) saat ini sedang berada dalam Era Disrupsi atau era yang diramaikan dengan munculnya berbagai inovasi dalam teknologi digital serba canggih maupun dalam lingkup hidup sosial sehari-hari. Kelompok umur ini diidentifikasi memiliki karakter yang lebih kritis dan sangat dekat dengan teknologi. Walaupun karakteristik milenial ini berbeda-beda karena tergantung wilayah, kondisi sosial ekonomi, hingga pola hidup tiap individunya, namun terdapat beberapa kesamaan dalam hal penggunaan teknologi. Misalnya saja beralihnya preferensi masyarakat dari taksi konvensional/ojek pangkalan pada layanan ride sharing berbasis on-demand. Orang-orang gemar memulai sesuatu yang sifatnya anti mainstream dan tentunya tidak berbelit-belit.

Kata Chairman CT Corp Chairul Tanjung dalam sebuah artikel, saat ini kita mengalami dua disrupsi yang luar biasa yaitu bidang teknologi karena revolusi industri 4.0 dan gaya hidup karena adanya perubahan generasi. Revolusi industri 4.0 menjadi salah satu alasan yang membawa banyak perubahan dalam kehidupan. Saat ini kita berada pada awal sebuah revolusi yang mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan satu sama lain (Prof Klaus Martin Schwab).
Apa itu Revolusi industri 4.0?
Industri 4.0 adalah tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Pada industri 4.0, teknologi manufaktur sudah masuk pada tren otomatisasi dan pertukaran data. Hal tersebut mencakup sistem cyber-fisik, internet of things (IoT), komputasi awan, dan komputasi kognitif. Secara sederhana, revolusi industri 4.0 menanamkan teknologi cerdas yang dapat terhubung dengan berbagai bidang kehidupan manusia.

Meracik 6 bumbu utama untuk memaksimalkan teknologi di tengah pandemi
Sejarah telah mencatat bahwa cara kerja mesin yang lama akan digantikan dengan teknologi baru. Dengan bermodal gadget dan akses internet, kita sudah bisa mempelajari banyak hal dan mendapatkan rasa aman supaya bisa betah di rumah aja di tengah situasi Pandemi Covid-19. Sejak Maret 2020, imbauan untuk tidak kemana-mana dan tetap di rumah merupakan gerakan bersama untuk menghentikan rantai penyebaran virus korona. Mau tidak mau, kita harus bisa bertahan dan mengusir kebosanan di rumah demi keselamatan diri. Setiap orang bebas memilih bagaimana cara ia mengisi hari-hari dalam kurun waktu yang tidak pasti seperti ini. Tentu saya juga punya cara tersendiri untuk bisa betah di rumah a.k.a kosan. Caranya adalah dengan meracik 6 bumbu utama untuk memaksimalkan teknologi di tengah pandemi. Meracik bumbu ini tidak perlu banyak peralatan seperti ulekan atau blender. Jika kamu ingin mencoba meraciknya, bisa juga dilakukan di rumah yaa! Meski nanti akan memakan waktu berjam-jam, ingatlah yang penting tidak menggunakan bumbu instan yang sudah jadi atau beli di supermarket. Yuk coba! 
Bumbu utama:
1 butir film favorit/video lucu
Kerja dari rumah secukupnya
2 siung komunikasi
1 lembar kursus online
500 gram e-book
1 sdt blog

Cara meracik:
1. Nonton film/drama/video lucu
Alih-alih menonton berita sepanjang hari di rumah, nonton video lucu adalah cara mudah untuk menyelematkan diri sendiri dari tekanan negatif. Setelah mengikuti tayangan Tonight Show yang mengocok perut, saya juga ikuti konten receh di IG @kristo.immanuel yang isinya menirukan suara kambing/ti-rex hahaha. Nonton keduanya bisa bikin ngakak sampai capek juga ternyata. Kalau sudah mulai bosan, saya menggantinya dengan film rekomendasi orang-orang atau drama korea pemenang Baeksang Art Awards. Sejauh ini nonton video receh dan film/drama bisa membantu mengurangi negative vibes dari berita Covid-19 yang berseliweran di luar sana.

2. Work from home (WFH)
Work from home atau bekerja dari kosan adalah pilihan yang diberikan untuk karyawan di kantor karena masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) diberlakukan. Dengan kondisi bekerja dari kosan, maka kebutuhan akses internet yang memadai dan laptop mumpuni sangat diperlukan. Meski sudah memasuki New Normal atau Tatanan Baru untuk beraktivitas kembali, namun WFH masih aktif sampai sekarang sehingga teknologi informasi tetap dimaksimalkan.

3. Video call bersama keluarga/sahabat (jaga komunikasi)
Untuk mengurangi kesendirian dan kekhawatiran, cara ini yang bisa saya lakukan selama di rumah aja. Jauh dari rumah dan menjadi anak rantau sejak 6 tahun lalu adalah tantangan yang saya hadapi. Tapi lagi-lagi, menjaga komunikasi dengan orang terdekat juga perlu. Saling memberi kabar, saling memperhatikan dan mendukung satu sama lain supaya kita juga tidak mudah menyalahkan diri sendiri. Dulu video call bersama keluarga bisa dihitung jari, sekarang jadi rutinitas sehari-hari. Kami sering membahas kondisi, hal-hal baru, aktivitas ringan, bahkan yang serius, yang penting jaga komunikasi.

4. Kursus online
Perlu digaris bawahi kalau di masa pandemi ini kita bukan sedang kecanduan sibuk. Kata Adjie Santosoputro, tidak apa-apa kalau menghadapi situasi saat ini tidak bertambah kemampuan baru atau tidak belajar. Adjie menekankan kalau hidup ini tidak selalu soal kompetisi produktif, bro. Jangan sampai karena mengikuti tren “kursus online” atau “webinar” kita malah lupa untuk rehat dan makin mempersulit keadaan untuk bertahan. Pada dasarnya saya mengikuti kursus di salah satu platform kursus online adalah untuk menambah pengetahuan yang berkaitan dengan blogging. Kursus online yang saya ikuti bertajuk Optimasi SEO untuk Membuat Website Eksis di Halaman Depan Google. Akses internet untuk kursus online sangat dibutuhkan dalam mengikuti materi-materi yang diberikan. Belum lagi harus praktik langsung di laptop, beruntunglah karena kehadiran teknologi memudahkan hidup saya.

5. Baca e-book
Kalau penasaran apa e-book yang saya baca dan mengapa harus baca itu, jawabannya e-book dari Qwords yang berjudul “Cara menghasilkan uang dari blog” adalah pilihan yang saya baca. Sebetulnya ini sederhana saja, saya bukan mau menekankan dua hal yang kontras antara “kompetisi produktif” dan “berhenti kecanduan sibuk”. Tapi saya hanya ingin memperdalam skill dalam dunia blog aja, demi menghasilkan cuan/passive income yang tidak tau kapan akan datang hahaha. Jadi intinya belajar untuk menghidupi atau sekedar upgrade pengetahuan adalah pilihan masing-masing orang. Pilih saja apa bahan bacaan yang membuatmu senang dan tenang, bukan malah terbeban. Sekali lagi, ini adalah berkat kemajuan teknologi.

6. Mulai rajin nge-blog
Kadang-kadang saya merasa terlambat. Saya sudah menekuni dunia blog sejak tahun 2013, tapi tampaknya masih di situ-situ aja. Melihat teman-teman blogger yang sudah melambung dan mengalami kemajuan, saya merasa belum memaksimalkan blog saya dengan baik. Secara tidak langsung era digital mengharuskan kita pintar-pintar melihat peluang, karena peluang akan menghasilkan bagi yang benar-benar memanfaatkan. Kilas balik saat dulu saya sempat punya domain berbayar karena sedang rajin-rajinnya ngeblog, namun itu hanya berlangsung sebentar. Kemudian blog saya kembali tidak terurus, domain itu saya biarkan begitu saja sampai sudah tidak berlaku lagi. Setelah mengikuti kursus online tadi, saya baru sadar kalau domain berbayar bukan hanya sekedar style sebuah blog, namun juga menjadi salah satu teknik SEO. Kata kuncinya adalah “Trusted”. Website kita bisa dipercaya google, misalnya dengan menggunakan template yang profesional, menggunakan HTTPS, ada Customer Service 24 jam, dan sebagainya. Hal ini yang bikin saya ingin fokus dan mulai rajin ngeblog lagi.
Mulai rajin ngeblog
Situasi Pandemi Covid-19 secara tidak langsung menarik saya untuk mengevaluasi banyak hal. Tahun lalu menjadi tahun terpanjang saya untuk hibernasi dari menulis dan dunia blog. Sekarang saya ingin mengisi kekosongan itu dengan berbagai jenis tulisan dan tentu mengganti domain blogspot tersebut menjadi (dot) com lagi. Kali ini saya akan memutuskan untuk membeli domain berbayar di Qwords. Qwords adalah salah satu web hoster yang terpercaya di Indonesia. Qwords juga menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan dunia website karena sampai sekarang mampu menghadirkan berbagai layanan paket terbaik kepada pelanggannya. Tidak hanya dalam skala kecil saja, produk Qwords bisa dibilang mumpuni untuk digunakan oleh para pemilik website atau blog seperti saya. 
Mengapa harus beli domain di Qwords?
Dengan taglinenya "Reliable Fast Web Hosting With Reasonable Price!" saya memilih Qwords karena memiliki server yang cepat dengan harga hosting murah. Kenapa harus Qwords? Berikut ini ada 6 alasan kenapa saya ingin membeli domain di Qwords:
1. Kualitas produk yang utama
Dengan menghadirkan paket unggulan, Qwords menawarkan 2 pilihan paket shared hosting, yaitu paket personal dan paket bisnis dan menyediakan fasilitas terbaik yang dapat dinikmati pelanggan. Qwords merupakan salah satu web hoster yang aman dan andal, sehingga pemilik website bisa memanfaatkan sistem keamanan lebih baik. Selain itu, Qwords juga bisa memberikan akses lebih cepat ke seluruh dunia. Melalui Qwords, kita juga dapat mengoptimalkan traffic website menggunakan teknologi cloud hosting Indonesia dengan layanan unggulan. Sejak tahun 2005, Qwords menghadirkan teknologi menarik dalam mengembangkan akses website dalam skala besar atau kecil. Dari sisi kapasitas teknologi yang digunakan, biasanya dimanfaatkan pada pelayanan perusahaan besar terutama dari sisi web hosting, sedangkan konsep digital terintegrasi juga sudah dikembangkan hingga akhirnya dijadikan sebuah pilihan menarik bagi pengembang website baik berbentuk perusahaan atau perorangan.

2. Layanan support yang responsif
Qwords memiliki layanan support yang responsif. Saat ingin mengganti domain dari blogspot menjadi (dot) com, saya mencoba chat melalui CS (Customer Service) di hari libur dan di luar jam kerja. Hasilnya? Qwords memberikan fasilitas layanan support yang siap sedia kapan pun. Respon terbilang cepat dan jelas, karena pesan saya ditanggapi kurang dari 5 menit. Admin menjelaskan tentang tata cara mengganti domain dan cara memesan melalui link yang sudah disediakan. Jika kita ingin menggunakan fitur WhatsApp, Qwords juga menyediakannya lho! Siapa tahu ingin private dan ringkas melalui fitur chat yang  satu itu.

3. Domain bisa kustom
Domain yang ingin dipakai bisa kustom alias keinginan sendiri. Nama domain digunakan untuk mempermudah pengunjung menuju blog kita. Selain untuk mencerminkan blog, nama domain juga dapat memperkuat branding. Saya akan memilih (dot) com untuk mengganti blog yang lama karena 4 alasan seperti yang dijabarkan Qwords, yaitu: International, Popular, Professional, serta Attention & Trust. Setelah saya cek domain yang saya inginkan di Qwords, ternyata onixoctarina.com masih tersedia. Semoga setelah niat ini terwujud, saya bisa menerapkan teknik SEO dengan maksimal dan juga makin konsisten mengisi beranda di blog.

4. Memiliki panduan lengkap untuk pengguna
Panduan yang lengkap adalah cerminan dari layanan yang bagus, apalagi web hoster adalah salah satu jenis layanan yang memerlukan banyak penjelasan/tata cara. Berita baiknya, Qwords menyediakan panduan lengkap yang bisa kita temukan di halaman http://kb.qwords.com/. Panduan/dokumentasi lengkap tersebut berisi tentang layanan Qwords dan ratusan panduan terkait domain, hosting dan lainnya yang dapat dipelajari. Ketersediaan panduan lengkap dari Qwords ini juga menjadi salah satu andalan bagi pemula. Proses belajar sampai penggunaan layanan web hosting dari Qwords ini bisa dicermati secara detail agar nantinya pelanggan tahu seperti apa proses yang harus diikuti. Seperti halnya penjelasan yang diarahkan Admin (Layanan Support) ke link terkait untuk memudahkan pengguna membeli dan mengganti domain baru.

5. Banyak promo/diskon
Siapa yang tidak suka promo/diskon? Bahkan ada yang menggemari istilah berburu diskon/sale karena kapan lagi bisa menikmati diskon cuma-cuma? Dalam periode ini (hingga 30 Juni), Qwords menyediakan promo special untuk pembelian domain (dot) com dari 165k kini hanya cukup membayar 135k. Selain itu, terdapat syarat dan ketentuan yang berlaku seperti promo hanya berlaku untuk registrasi baru dan untuk 1 tahun pertama. Jika tidak memesan melalui halaman terkait, maka dapat menggunakan Voucher:COMJUN20. Yuk langsung aja meluncur ke website Qwords karena masih ada ketentuan lainnya yang harus dipastikan.

6. Metode pembayaran lengkap
Metode pembayaran di Qwords terbilang lengkap. Mulai dari bank transfer sampai bayar tunai juga bisa. Metode pembayaran untuk pembelian di Qwords bisa dilakukan melalui Bank transfer (BNI, Mandiri, BCA), Virtual Account (Mandiri, BNI, bii, Permata Bank, KEB Hana Bank, ATM Bersama), kartu kredit (Visa dan Master), Alfamat, DOKU Wallet, PayPal dan Cash (bayar dikantor Qwords atau pameran). Hal ini tentu memudahkan kita untuk melakukan transaksi, karena tidak menjadi alasan lagi jika berdalih “ah kena fee transfer” atau “yah, cuman bisa bayar lewat ini doang". Qwords sudah memfasilitasinya!

Kesimpulan
Kalau ke-6 bumbu utama sudah diracik untuk bisa memaksimalkan teknologi di tengah pandemi, kamu bisa menyimpannya rapat-rapat di notes/catatan pribadi. Tidak perlu disimpan dalam wadah kedap udara atau dalam lemari es. Bahkan kamu bisa menggunakannya berkali-kali demi menemani hari-hari dan dijamin tidak mudah basi. Barangkali setelah selesai pandemi ada skill/kemampuan yang bertambah ya disyukuri, namun jika tidak sama sekali juga tidak apa-apa. Intinya kita sama-sama sedang mencoba bertahan di rumah dengan memaksimalkan sumber daya yang ada.

Perlu diingat kalau kita tidak harus selalu aktif, karena masa sulit ini bukan kompetisi produktif.
Selamat mencoba!


Artikel ini diikutkan dalam Qwords Blog Competition #OnlineinAja dan #LombaBlogQwords

Minggu, 31 Mei 2020

Cerita anak kosan dan resep masakan dari Yummy App yang menyelamatkan

Cerita anak kosan 
Sudah hampir 6 tahun saya menjadi anak kosan dan hidup di perantauan. Sejak pertama kali meninggalkan rumah, segalanya harus bisa saya lakukan sendiri, kuat dilakoni, lek ra kuat ditinggal ngopi. Mulai dari berbenah diri, menyiapkan makan siang, belanja bulanan, sampai memilih titip absen atau nggak saat malas kuliah, semuanya saya lakukan sendiri. Kalau saat kuliah di Semarang dulu pulang ke rumah bisa setahun 2x, sekarang saat sudah kerja malah pulang hanya setahun 1x, ehtapi tahun lalu 2x ding hahaha. Intinya, konsultasi dengan Ibu atau Bapak di rumah hanya bisa dilakukan via daring. Keputusan menjalani hidup sepenuhnya ada di saya, termasuk mau makan apa hari ini.

Ini adalah tahun kedua saya bekerja di kantor yang sama dengan tahun sebelumnya. Seperti pegawai kantoran 8-5 pada umumnya, mencoba menu masakan baru tentu jarang saya lakukan karena alasan klasik: waktu. Selama jadi anak kosan, menu masakan dengan bahan pokok 3T atau tahu-tempe-telur yang diolah dengan resep itu-itu aja sepertinya sudah beradaptasi dengan baik di lidah. Namun di tengah situasi pandemi Covid-19 yang mengharuskan saya bekerja dari kosan (WFH/Work from home), saya memilih memasak menu sendiri agar kualitas dan kebersihan masakan tetap terjaga dengan baik. Hahaha! Gayanya selangit Gusti, padahal mah parno aja kalau pesan makanan dari luar rumah. Tapi ini serius, memasak menu makanan sendiri akan menguntungkan 2 hal: kebersihan masakan terjamin dan anak kosan jadi menghemat pengeluaran. Sialnya, mencoba menu baru ternyata menyulitkan karena saya tidak pernah mengeksplorasi berbagai resep. Alhasil ada Yummy App yang menyelamatkan. Sekarang udah nggak bingung mau masak apa. Apapun bahan yang saya punya, jadi #BebasMasakApaSaja karena ada kreasi masakan di Yummy App yang patut dicoba.

Review Yummy App via mobile
Yummy app adalah aplikasi resep masakan yang diluncurkan Yummy Indonesia by IDN Media di awal Mei 2019. Dilansir dari yummy.co.id, aplikasi gawai Yummy App dan situs yummy.co.id merupakan hasil pengembangan dari IDN Media. IDN Media sebagai perusahaan media multi-platform untuk Millennial dan Gen Z di Indonesia menaungi Yummy, Popmama, IDN Times, Popbela, GGWP.ID, Duniaku.com, IDN Creative, IDN Event dan IDN Creator Network.
Yummy app menampilkan kumpulan resep makanan, resep minuman, resep kue, resep masakan indonesia lainnya yang praktis, dan mudah hanya dengan mengikuti 5 langkah saja. Dengan Yummy app, kita tidak lagi bingung mau masak apa jika tanggal tua melanda. Saya mengakses Yummy app dari telepon genggam supaya memudahkan untuk meniru ataupun memodifikasi menu saat memasak langsung di dapur. Setelah beberapa kali mencoba aplikasi ini, ada 5 alasan positif menggunakan Yummy app dan bagaimana ia menyelamatkan anak kosan seperti saya, berikut di antaranya:

1. Tampilan ringan dan menarik
Yummy app memiliki tampilan yang ringan dan mudah digunakan. Aplikasi Yummy menggabungkan konsep desain visual yang clean dan intuitif. Apa itu intuitif? Secara sederhana, intuitif artinya layout aplikasi Yummy bisa dimengerti dengan mudah secara natural dan hanya dengan menggunakan insting saja. Kenapa saya katakan demikian? Yummy app memiliki desain yang familiar atau sesuatu yang sudah pernah saya lihat sebelumnya. Hal ini adalah poin penting bagi sebuah aplikasi, karena kalau kita sudah familiar dengan sesuatu, tentu sudah tahu kan apa yang harus dilakukan?
Tampilan Yummy app juga menarik bagi pengguna pemula seperti saya. Warna oranye yang menjadi ciri khas Yummy app membuat siapa saja mudah mengingatnya. Warna merupakan komponen utama dalam desain aplikasi. Ketika diaplikasikan dalam desain, kombinasi antara warna oranye dan putih memberikan makna kesegaran, antusias, dan pembaharuan. Warna oranye yang menampilkan view kontras juga bisa memperkuat pesan yang disampaikan dalam Yummy app, karena banyak informasi penting dan resep yang sifatnya call to action sehingga saya pun tidak ragu ingin mencoba menu baru. 

2. Informasi lengkap
Di Yummy app sudah tersedia dengan lengkap informasi yang dibutuhkan, mulai dari menu apa yang ingin kita coba, bahan dasarnya, cara membuat, sampai informasi resep (durasi memasak, porsi makan, biaya yang dikeluarkan, dan keterangan lainnya yang membantu). Caranya cukup mudah, tinggal cari resep di kolom Cari Resep dan Chef Yummy. Kalau mau coba cara lain, bisa juga scrolling halaman Home Yummy app. Di sana menyediakan berbagai kategori masakan yang benar-benar bisa membantu anak kosan menemukan resep baru yang mudah dan variatif. Ada makanan pembuka, makanan utama, makanan penutup, makanan pendamping, sampai cemilan, bahkan aneka resep minuman pun tersedia.
Uniknya lagi, Yummy app juga menyediakan resep-resep lainnya, seperti resep penjaga imunitas, dessert, resep terbaru, sampai cita rasa mancanegara! Ini sih definisi buku menu dalam satu aplikasi namanya. Kalau dulu saya masih mikir-mikir untuk beli buku menu karena harganya yang mahal, sekarang hanya dengan registrasi via facebook/email sudah bisa mengeksplorasi resep baru yang pas di lidah dan di kantong hahaha. 
Berhubung sudah ada kategori cita rasa mancanegara, mari ke dapur dan coba Cheesy Mashed Potato!
Ohya, hal penting lainnya yang tidak bisa dilewatkan adalah: Yummy app juga menyediakan fitur blog tersendiri dengan konten-konten yang bervariasi, mulai dari tips Yummy, resep chef favorit hingga event dan promosi yang bisa diikuti.

3. Fast loading dan responsif
Siapa yang betah berlama-lama nonton tutorial masakan di youtube karena buffering? Tentu bukan saya dong pastinya. Yummy app justru memiliki waktu loading yang tergolong singkat terutama saat mengakses resep untuk mencermati masakan. Padahal Yummy app juga menyediakan video tutorial memasak seperti halnya di youtube. Dari pengalaman saya menggunakan aplikasi ini, Yummy app termasuk responsif. Interface Yummy app bekerja dengan cepat. Kalau kita perlu menunggu sebuah aplikasi loading lama pasti juga jadi malas kan?

4. Mobile-friendly
Setelah menggunakan Yummy app dalam minggu terakhir ini, dapat disimpulkan kalau aplikasi kreasi resep masakan Yummy termasuk kategori mobile-friendly. Bahkan dari Test Mobile Friendly, Yummy app telah teruji mudah digunakan dalam perangkat seluler. Ya wajar saja, Yummy app terlihat lebih rapi dengan tulisan-tulisan yang singkat dan keterangan jelas, sehingga pengguna tidak menghabiskan waktu membaca penjelasannya. Pada bagian Cara Memasak Resep juga ditambahkan gambar setiap tahap dan video sederhana tinggi resolusi. Hal ini memudahkan pengguna untuk mencari menu dan resep yang ingin dicoba. Misalnya saja, saya ingin mencoba resep Keripik Jamur sambil membawa telepon genggam ke dapur, maka melihat step Cara Memasak Resep melalui gambar dapat menjadi pilihan.
Test Mobile Friendly via https://search.google.com/test/mobile-friendly

5. Bisa jadi chef ala-ala
Emangnya hanya Arnold dan Juna yang bisa jadi chef? xixi Kita semua bisa jadi chef di Yummy app lho!! Caranya mudah, kalau punya kreasi masakan yang baru, kita bisa publikasi resep tersebut beserta bahan-bahan, cara memasak dan juga foto resep di sana, lalu unggah di fitur "Upload Resep". Siapa tahu setelah mencoba belajar memasak, kita jadi bisa dapat ide untuk menu yang menarik kan? Ditambah lagi kita bisa mendapatkan uang tambahan Rp10.000 untuk setiap resep kreasi sendiri yang berhasil publish. Perhitungan konversi dari jumlah resep publish menjadi Yummy Point adalah: 1 resep publish = 100 Yummy Point = Rp10.000. Setelah mendapatkan Yummy point kita bisa melakukan redeem poin ke akun bank kita! Daebak! Selain itu, pengguna juga bisa memanfaatkan Fitur Ikuti Akun Teman dan Fitur Notifikasi Interaksi saat berinteraksi dengan komunitas Yummy lho! 

Resep masakan dari Yummy App yang menyelamatkan
Kalau dulu masih sering bingung mau masak apa hari ini, bosan mengolah bahan 3T (tempe-tahu-telur) yang itu-itu saja, maka sekarang ada Yummy App yang menyelamatkan anak kosan. Tidak perlu bingung lagi mau masak apa, tinggal pilih bahan yang tersedia di kulkas dan temukan inspirasi resep di menu “Masak”. Kalau tadi memanfaatkan fitur untuk bahan yang ada di kulkas, alternatif lain yang bisa digunakan di Yummy app yaitu filter harga. Misalnya saya hanya ada budget untuk belanja bahan masakan sebesar Rp20.000,00, maka Yummy app akan mengarahkan pengguna bisa memasak apa saja dengan biaya yang dipilih. Semudah itu dong! Pusing saya.
Oke kali ini saya mau mencoba mengolah tahu yang tersisa di kulkas. Setelah menerapkan bahan tersebut, saya langsung menemukan menu yang belum pernah saya coba, Tahu Domino Siram Sambal! Bahan-bahannya sudah ada dan cara membuat yang super mudah. Dulu yang hanya familiar digoreng aja, sekarang sudah ada kreasi baru hahaha. Terima kasih Yummy app yang sudah menyelamatkan cerita saya sebagai anak kosan. Kini saya menemukan inspirasi dan ide untuk masak berbagai masakan dengan mudah di tengah masa-masa sulit karantina.   


ratings & review

Tulisan ini diikutkan dalam Blog Competition Yummy x Popmama 2020

Kamis, 09 April 2020

Kabar-kabar yang hidup berdampingan

Dahulu kala jauh sebelum ada teknologi, sebelum bioskop belum popular di kalangan masyarakat, dan berkabar antar satu dengan yang lain masih melalui merpati, seseorang yang memiliki hak penuh atas langit dan bumi berkata, “Kamu akan bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan.” 
Setelah itu, tahun 1876 Alexander Graham Bell menemukan telepon. Manusia merayakannya.
Sekitar hampir 4 dasawarsa kemudian, pada tahun 1914-1918 perang dunia I terjadi. Lebih dari 9 juta orang gugur. Manusia berkabung. 

Ia berkata lagi, “Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari.”

Sampai hari ini, setelah teknologi ditemukan; peradaban manusia berkembang; gawai menjadi kebutuhan; pun COVID-19 menyerang, kalimatNya tidak pernah kedaluwarsa. Kabar bahagia dan dukacita selalu hidup berdampingan. Bahkan saya bingung bagaimana caranya merespon kondisi sekarang, kabar baik dan buruk berseliweran dalam satu waktu.

Memang begitu banyak perubahan yang terjadi sejak Koronavirus hadir di bumi, tapi tetap saja ada banyak hal yang bisa dipelajari:
Di satu sisi, ribuan nyawa menjadi korban, tidak peduli apakah dia orang hebat atau bukan, keluarganya tetap kehilangan. Di sisi lain, semua orang berupaya hidup sehat dan bersih.
Di satu sisi dukacita menyelimuti seisi muka bumi, tapi siapa yang tidak lega ketika tahu bahwa polusi udara di 7 kota besar menurun akibat pandemi ini?
Di satu sisi banyak yang bersedih karena ibadah umrah ditunda sepanjang tahun, kebaktian hari minggu tidak lagi di gereja, shalat jumat sudah lebih dari 3 kali harus dirumahkan. Tapi akibat adanya pembatasan mobilitas di Jakarta, sampah jadi berkurang 620 ton per hari; konsumsi listrik menurun sebanyak 30%, perubahan kualitas udara berubah dari unhealthy menjadi moderate; bahkan indeks kemacetan di jam sibuk turun drastis di angka 14%. Lagi dalam fakta lain, PHK terhadap ribuan karyawan terancam dan kondisi ekonomi menjadi rentan, tapi sikap kepedulian terhadap kemanusiaan bermunculan.

Saya bingung harus bahagia atau turut berduka. Harus berkabung atau merayakannya. Saat sedang sibuk-sibuknya bekerja, mengumpulkan semua anggota keluarga untuk bertegur sapa lewat video call whatsapp adalah sebuah prestasi. Kini seminggu bisa 2 kali diskusi bersama tanpa bingung harus menentukan akan bertatap muka di layar jam berapa.

Kabar-kabar memang ditakdirkan untuk hidup berdampingan. Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk meratap, dan ada waktu untuk menari.
Seperti juga yang terjadi di tengah situasi ini, saya sampai memutar ulang semua lagu-lagu karya Glenn Fredly karena Indonesia sedang berduka, sang legendaris telah berpulang ke pangkuan si Pencipta. Saya ingat betul, dulu saat pekerjaan tidak bisa ditoleransi, lagu yang berkali-kali menemani adalah terserah. 
“Terserah kali ini, sungguh aku takkan peduli, ku tak sanggup lagi, mulai kini semua terserah”
LIVE Streaming KompasTV, Suasana Pemakaman Glenn Fredly di TPU ...
Sumber: instagram/@kuyou.id
Saya bisa putar lagu Glenn sampai se-album saking karya-karyanya menghidupi banyak aspek. Saya tidak pernah bertemu beliau secara langsung, tidak pernah hadir dalam konsernya, juga tidak saling kenal. Tapi sedih dan patah hati tidak dapat disangkal. Ini adalah sebuah kabar duka di tengah pandemi. Saya ingin bercanda seperti biasa, tapi hati segan karena ikut kehilangan. Meski hal yang paling sulit dari mengetahui kabar duka ini adalah dengan menerimanya, tapi yang saya yakini adalah karya-karya Glenn tidak akan tergerus waktu. Usia terhenti, tapi ia abadi.

Semoga tulisan ini akan menjadi pengingat bahwa kabar-kabar yang hidup berdampingan bisa terjadi secara bersamaan dalam satu waktu. Saya tidak akan menyalahkan tahun 2020 yang seenaknya mencatat sejarah, karena seseorang yang memiliki hak penuh atas langit dan bumi ini pernah bilang, Ia akan menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.

Untuk semua generasi yang hidup dengan lagu-lagu Glenn yang juga kehilangan, I’m so very sorry for your loss, I’m going to miss him too, he will be missed by so many.
You’re in our prayers, buddy. Rest in Love, dear Glenn Fredly. 
Selamat jalan, selamat bertemu dengan si Pemilik penuh atas langit dan bumi.



Anw, kalian udah berapa kali bolos shalat jumat? Belum murtad kan?
Sungguh dark jokes L

sumber pendukung: ruangguru//kompas//kumparan

Selasa, 31 Maret 2020

Kita, jadilah bijak bestari untuk keutuhan ekosistem di Papua

“Kalau Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, lalu saat tanah Papua lahir Tuhan sedang apa ya? Barangkali saat nonton film rating 9 di Netflix sambil makan popcorn alias mood sedang sangat baik”

Merekam ulang perjalanan di Jayapura
Saya selalu menerka seperti apa tanah Papua, yang kata orang-orang elok menawan, juga eksotis rupawan. Ternyata di bulan Oktober 2019 saya diizinkan melihatnya. Di malam pukul 23.45 dari terminal keberangkatan Soekarno Hatta, saya dan rekan-rekan kerja melangsungkan perjalanan dinas ke Kota Jayapura, Papua. Rasanya seperti menjemput kado saat ulang tahun di usia balita. Sumringah tak terlepas sejak saya meninggalkan Jakarta sambil menantikan sunrise pertama di atas awan. Ya walau pada akhirnya sudah bisa ditebak, rasa kantuk bagi saya adalah lebih besar daripada apapun hahaha. Jadi saya mengalah saja, tidak apa-apa jika harus melewatkan sinar matahari yang muncul menerangi penumpang melalui celah-celah jendela. Toh nanti akan ada pemandangan alam yang bisa dinikmati lebih banyak lagi.

Logat khas orang Papua asli adalah yang pertama kali bisa saya rasakan setelah mendarat dengan cantik di Bandara Sentani. Udara sejuk di pagi hari adalah yang kedua. Yang ketiga, peringatan untuk tidak kemana-mana jika waktu sudah di atas jam 8 malam, karena katanya akan ada orang mabuk di tengah jalan dan membahayakan. Ya itu adalah salah satu cerita dari Bapak supir di sepanjang perjalanan menuju penginapan. Selama melewati jalan yang mirip dengan Kelok Sembilan, saya memandangi bukit-bukit hijau dan pepohonan yang terbentang merata, bahkan sapi di tanah berumput ikut melengkapinya.
Kenapa jadi lebih mirip Harvest Moon Back to Nature ya?

Tidak hanya itu, kami juga menyempatkan diri menuju puncak Jayapura City sehabis beberes di hotel. Kalau saya diminta memberikan deskripsi, pesonanya kira-kira seperti perpaduan dari atas Puncak Sikunir Dieng dan Bur Telege Takengon. Tinggi dan menawan. Benar kata kebanyakan orang, Papua itu elok rupawan. Laut luas dan bukit-bukit hijau yang menghimpit permukiman di Kota Jayapura memecahkan dugaan saya: kalau Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, lalu saat tanah Papua lahir Tuhan sedang apa ya? Barangkali saat nonton film rating 9 di Netflix sambil makan popcorn alias mood sedang sangat baik.
Pemandangan dari hotel menghadap ke Teluk Yos Sudarso
sumber: dokumentasi pribadi 
Pemandangan dari puncak Jayapura City
sumber: dokumentasi pribadi 
Wajar saja jika yang saya temukan selama perjalanan di Kota Jayapura adalah bukit-bukit hijau dan pepohonan rimbun. Ternyata 38 persen hutan primer yang tersisa di Indonesia berada di Papua (tahun 2012). Beragam jenis pohon yang tumbuh liar di hutan hijau terbentang luas di Papua dan Papua Barat. Hutan yang lestari di Papua adalah napasnya Nusantara. Beberapa media menyebutkan, Papua menjadi harapan terakhir bagi hutan Indonesia yang utuh akibat kondisi tutupan hutan yang semakin berkurang di Sumatera dan Kalimantan.

Suatu hari nanti untuk perjalanan ke Taman Nasional Teluk Cendrawasih
Suatu hari nanti, saya ingin ke tanah Papua lagi, mengenal lebih luas tempat-tempat yang belum pernah dipijaki. Seperti yang paling memikat hati sejauh ini: Taman Nasional Teluk Cendrawasih.
Jika saat itu saya dapat menikmati pesona bukit-bukit hijau yang membentang di Kota Jayapura, maka suatu hari nanti saya ingin melakukan perjalanan ke Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Bukan hanya hutan hijau yang bisa saya temukan di sana, tapi kekayaan alam yang penuh keeksotisan. Faktanya, Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) dengan keanekaragaman hayati yang unik menyajikan perwakilan 1ekosistem terumbu karang dan ikan hiu paus, 2pantai mangrove, 3hutan tropika dan daratan Pulau Papua yang indah.

1ekosistem terumbu karang dan ikan hiu paus
Taman nasional yang meliputi Pulau Mioswaar, Pulau Nusrowi, Pulau Roon, Pulau Rumberpon dan Pulau Yoop merupakan lokasi yang memiliki spesies ikonik “Gurano Bintang”. Walaupun saya tidak bisa berenang bebas di tengah laut lepas, keinginan untuk melihat cantiknya Gurano Bintang si ikan hiu paus masih dipupuk hingga kini. Keindahan perairan di TNCC juga kaya akan berbagai jenis ikan dan hewan laut, dilengkapi terumbu karang yang luas dengan kualitas terbaik di dunia. Terdapat lebih dari 500 jenis spesies terumbu karang dengan Pulau Purup dan Selat Numamurang sebagai tempat terbanyak ditemukannya keanekaragaman hayati. Saya janji, tidak akan memaksakan kondisi jika suatu hari nanti tidak bisa mengunjungi terumbu karang yang warna-warni, karena saya tahu kalau tempat ini adalah rumah bagi banyak populasi.  
Ekosistem Terumbu Karang dan Ikan Hiu Paus di TNCC
sumber: greenpeace//wondamakab.go.id
2pantai mangrove
Taman Nasional Teluk Cendrawasih membentang dari timur Semenanjung Kwatisore sampai utara Pulau Rumberpon dengan panjang garis pantai sekitar 500 kilometer. Di sana dapat ditemukan hutan/vegetasi mangrove di pesisir pantai. Terbayang di benak saya saat Shizuka berkunjung ke Hawaii di musim panas. Di daerah pantainya juga terdapat berbagai jenis penyu yang akan menambah keutuhan nuansa tropis kawasan ini.
3hutan tropika dan daratan pulau
Tidak berhenti di situ saja, keanekaragaman ekosistem di Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang berada di 5 wilayah dan 2 provinsi yaitu Papua dan Papua Barat menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna. Ada yang dilindungi, dan ada yang tidak. Di kawasan ini kita bisa melihat bahwa Papua adalah destinasi wisata hijau karena terdapat lebih dari 50 jenis vegetasi daratan pulau mulai dari hutan pantai sampai vegetasi hutan pegunungan daratan pulau (ketinggian 467 mdpl).
Hutan Tropika dan daratan Pulau di TNTC
sumber: wondamakab.go.id
Seperti Raline Shah yang tidak sengaja bertemu dengan ikan hiu paus pertama kali, saya juga ingin ke sana, menyapa mereka dari atas kapal: “hai salam kenal”. Semoga waktu yang baik akan berpihak ya!

Bijak Bestari untuk Taman Nasional Teluk Cendrawasih
Keutuhan ekosistem di kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat. Banyak yang menjadikannya rumah. Tidak hanya flora dan fauna, tapi juga masyarakat lokal yang hidup di sekitarnya, memanfaatkan sumberdaya alam untuk keberlangsungan hidup mereka. Bahkan TNTC memiliki fungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, menunjang pemanfaatan lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, serta untuk dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan, juga menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (sumber: situs resmi Kab Wondama).

Menjadi bijak demi menjaga keutuhan ekosistem TNTC dilakukan karena ada beberapa ancaman yang mungkin terjadi, seperti: 1kehilangan tutupan pohon, 2kerusakan terumbu karang akibat pendangkalan, 3air laut tercemar karena sampah plastik, 4terjadi polusi di perairan akibat tumpahan minyak kapal, bahkan 5kehidupan biota air bisa terganggu karena eksploitasi penambangan emas. Saya tidak bilang kalau semua itu adalah ulah-ulah manusia, tapi mungkin bisa terjadi karena aktivitas di kawasan taman nasional dan sekitarnya sangat rentan terhadap keutuhan ekosistem. Entah kapan saya dan kita semua akan punya kesempatan ke sana, mungkin besok atau 20 tahun lagi, tapi keindahannya saat ini tidak akan bisa kita nikmati jika tidak menjadi bijak dari sekarang. Kita bisa ikut terlibat jika mau. Seperti halnya yang dilakukan Eco Nusa Foundation, organisasi non-profit yang bertujuan mengangkat pengelolaan sumber daya alam berkeadilan dan berkelanjutan di Indonesia dengan memberi penguatan terhadap inisiatif-inisiatif lokal.
sumber: EcoNusa
Eco Nusa Foundation fokus pada komunikasi antara pemangku kepentingan di Indonesia Timur (Tanah Papua dan Maluku). Perlindungan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam dilakukan melalui 10 program. Bahkan EcoNusa menyoroti kesadaran masyarakat menjaga lingkungan sebagai sudut yang penting. Di satu aspek, “Letter from the Ocean” pernah diikutkan untuk gerakan kelautan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Di sisi lain, EcoNusa juga turut melindungi hutan untuk penghidupan berkelanjutan dan iklim global melalui gerakan #BeradatJagaHutan. 
sumber: EcoNusa 
Ohya! Saya dan kamu bisa turut melakukan aksi serupa, yaitu bergabung sebagai sukarelawan atau magang di EcoNusa dengan cara berkirim pesan lewat website mereka. Menarik ya?

Bagi saya, Taman Nasional Teluk Cendrawasih adalah gambaran dari wajah Papua. Di sana adalah rumah bagi banyak spesies, flora dan fauna, juga masyarakat lokal. Kekayaan alamnya terbentang dari pulau satu ke pulau yang lain, ada perairan pun daratan, ada hutan juga lautan, ikan sampai burung elang bisa ditemukan.
Kita, jadilah bijak bestari dan manfaat untuk sekitar, supaya keutuhan ekosistem di sana selalu terjaga untuk Papua napasnya Nusantara, karena Papua itu Indonesia.
Artikel ini diikutkan dalam lomba Wonderful Papua
#BeradatJagaHutan #PapuaBerdaya #PapuaDestinasiHijau #EcoNusaXBPN #BlogCompetitionSeries


Sumber pendukung:
Eco Nusa
WRI Indonesia
WWF Indonesia
Green Peace Indonesia
Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Situs resmi Kab Wondama (www.wondamakab.go.id)

Diberdayakan oleh Blogger.