Rabu, 14 Agustus 2019

Kami peluk kau dalam doa

Aku paling benci mendengar ini lagi: teriakan membuncah penuh amarah, tapi sebetulnya hati sedang rusak parah, tidak baik-baik saja.

Ini yang kedua kali. Setelah 2 tahun lalu adalah yang pertama bagiku, mendengar tangis bersahut-sahutan memenuhi ruangan.

Ini yang kedua kali, menghadapi situasi yang serupa. Suara rasa bersalah menguap ke udara, menyesali belum memberikan yang terbaik yang ia bisa, memaki diri sendiri karena tidak sedia di sisinya.

Ini yang kedua kalinya, setelah 2 tahun lalu, aku pulang, menepuk pundak Ibu, memeluknya erat meski hatinya sedang patah.

Kehilangan orang-orang terdekat nyatanya adalah bisu yang di dalamnya bercampur rapuh. Meski katanya, yang patah akan tumbuh, yang hilang berganti, tapi tetap saja kepingan yang sudah berserak tidak bisa utuh lagi.

Sewaktu-waktu ada yang datang seperti pencuri, tanpa tahu kapan malam itu tiba. Tanpa memberi aba-aba untuk bersiap-siap. Barangkali sebelum pergi bisa berpamitan, saling melempar senyum, berpegang erat, menguatkan hati, dan menghabiskan waktu yang baik bersama-sama.

2 tahun setelah kepergian seorang yang dekat, aku yakin luka kehilangan belum sembuh seutuhnya meski waktu berlalu, banyak hal sudah terjadi, yang tampaknya mengaburkan ingatan setiap orang. Aku tahu, hati Ibu belum baik-baik saja, meski semua seperti berjalan seperti sedia kala. Malah sekarang, tabrakan keras dalam ingatan kami terjadi berulang.

Dear maktua sayang, aku masih ingat 2 tahun lalu kita bertemu. Aku ingat kau masih salah memanggilku "yonik" meski sudah kubetulkan sejak aku kecil. Aku juga ingat, di rumah itu aku memelukmu erat, aku bilang kalau kau kini adalah satu-satunya maktua yang kami punya, yang bisa kami lihat senyumnya.
Ah, malah kau pula yang pergi tanpa pamit.
Malah lagu kepergian jadi terngiang lagi di kepala.
Malah kami jadi tidak sempat menyapamu.

We love you, dear maktua naburju. May God always be with you.


Dari Jakarta, Jambi, Papua.
Kami peluk kau dalam doa.

Rabu, 08 Mei 2019

Semoga setiap orang di luar sana mampu mengenali dirinya sendiri

Saya suka senja, barangkali kamu suka pagi. Kita beda? Tak apa, karena setiap
punya pilihannya masing-masing tentang apa yang ia suka
Source image: Akbar

23:27

Iya. Saya menulis ini di jam 23:27, yang satu jam sebelumnya baru saja selesai menelepon Ibu di rumah.
“Mam tau nggak sih, di sini orang-orang bangunin sahur udah kek ngajak ribut. Hahaha,” saya memulainya dengan kalimat sederhana. Saya tahu setelah ini yang kami bicarakan akan lebih berat, maka saya awali saja dengan yang lucu menggemaskan namun ingin lempar obor dari kamar, kalau bisa. Kalau tidak bisa? Ya lanjut tidur, lah.

“Halah kalau kau tidur di rumah juga banyak yang keliling bangunin sahur, kek nggak pernah aja.” Ibu menjawab begini biar menghibur sekadarnya, saya tahu itu.

“Hee beda tau. Di sini anarkis. Kek mau suporteran sepak bola.” Tentu saya tidak mau kalah.

“Ah, ikut aja sekalian biar rame.”

“Ok.”

Jika Ibu menghubungi saya dari seberang telepon, ia hanya ingin tahu tentang bagaimana harimu, apakah pekerjaanmu menyenangkan, pulang jam berapa tadi, kapan perjalanan dinas, mengapa tidak mau jadi cpns, dan seterusnya-seterusnya. Karena yang paling menarik adalah soal pulang jam berapa, maka itu saja yang saya jawab paling panjang.

“Jam 3 dong, kan puasa.” Tentu kalimat ini saya ucapkan dengan nada penuh kesombongan.

“Ih, orang yang puasa kau yang ambil hikmahnya ckck,” jawab Ibu datar.

“Hahaha, thanks to teman-teman yang puasa lah, mam.”

“Jadi kalau udah pulang, habis itu ngapain?” Ibu bertanya lagi.

“Tidur.”

“Apalah kerja anak-anakku ini, si abang kerjanya makan, kau tidur. Sibuk tidur terus. Weekend tidur, pulang kerja tidur. Halah.” Ibu mulai naik pitam. Tapi saya biasa saja tentunya, karena Ibu sudah sangat tahu apa yang menyenangkan bagi saya dan apa yang tidak.

“Hahahaha, biasalah. Passion, mam.” Balas saya mengejek.

“Kerjain yang lain kek.” Ibu saya ini paling anti jika melihat orang hanya ongkang-ongkang kaki, tidur, dan tidak berbuat apa-apa, lalu saya tanya dengan serius, “Mam, emang nggak suka tidur?”

“Nggaklah, buat apa,”

“Terus sukanya ngapain?”

“Hmm apa ya? Nggak tau.”

“Masa mama nggak tau sukanya apa. Aku sukanya tidur, kalau bosan ada opsi lain, bisa nulis. Abang sukanya makan, punya cadangannya lagi, main game. Adek suka make-up. Bapak juga suka tidur, kalau ada buku pas lagi makan, dibaca. Masa mama nggak ada?”

“Nah emang nggak tau sukanya apa,” Ibu saya mulai menjawab ini dengan serius.

Saya bertanya lagi, memberikan pilihan “Kemarin waktu bikin tanaman di sana suka, nggak?”

“Nggak.”

“Lah, ngapain dikerjain?”

Ibu saya diam.

“Ah masa nggak punya hobi sih? Suka masak kan, mam?”

“Nggak juga.”

“Lah? Tapi kok enak.”

“Nah aneh. Kan masakan enak karena udah biasa masak, belum tentu karena suka,” Ibu mulai ketus.

“Jadi sukanya apa?”

“Ya mana tau.”

Setiap kali Ibu saya jawab ‘tidak tahu’ saya jadi berpikir, apa yang selama 20 tahun ini saya kerjakan, sampai saya tidak tahu apa yang Ibu saya suka ketika melakukannya. Jangan-jangan ini adalah kali pertama seseorang bertanya padanya tentang apa yang ia suka. Saya tertegun.

Saya tanya lagi, masih dengan nada bercanda, “Mam, coba deh cari tau kesukaanmu apa. Menjahitkah, menyulam, berkebun, apa ajalah. Tapi jangan nyanyi ya, nggak bisa.”  

“Kampret, hahahaha.”

“Hahaha, nggak usah dipaksa kalau nggak bisa nyanyi mah.” Kami tertawa bersama.

“Emang kalau udah tau sukanya ngapain, terus kenapa?”

“Mam, aku kalau lagi bête, lagi sedih atau capek, aku tidur. Pas bangun udah lupa semuanya. Fresh lagi. Abang juga gitu. Kemarin dia jemput aku pulang kerja, sepanjang jalan ngomel-ngomel. Beh. Kacau. Tapi karena dia suka makan, setelah aku ajak makan, dia happy. Kan aku jadinya nggak kena omel. Jadi kalau kita udah tau diri sendiri, kita bisa ngerti harus ngapain, nggak perlu minta bantuan sama orang atau uring-uringan,” jawab saya serius.

“Oh gitu.”

“Iya. Kalau mau bikin orang lain di sekitar kita happy, kita juga harus happy dulu.”

“Hmm bener juga sih ya.” Kalau percakapan ini tatap muka, saya tahu kalau Ibu sedang mengangguk setuju.

“Jadi, sekarang hobimu apa, mam?”

“Tidur ajalah hahahaha.”

“Hadeh.”

Selama saya berusaha melihat diri sendiri, saya baru tahu bahwa orang yang paling dekat dengan saya bahkan belum mengetahui tentang dirinya. Lalu saya menyadari, Ibu sudah bahagia jika saya dan anak-anak Ibu yang lain juga bahagia. Bahkan jika dirinya sendiri tidak merasa cukup dengan apa yang sedang ia lakukan, ia juga bahagia, karena itu untuk saya. Untuk kami yang bahkan tidak tahu apa yang membuatnya bisa tersenyum.

“Ya udah, kalau gitu aku tunggu seminggu ya, mam. Cari tau hobimu apa. Pokoknya minggu depan aku tanya harus udah ada jawabannya.”

“Caranya gimana sih?”

“Cobain semua hal. Nanti kalau ada yang pas, berarti suka. Lakukan terus, nanti jadi hobi. Gitu, mam.”

“Iya deh iya. Mama udah ngantuk ini,”

“Dicoba ya? Bener ya?”

“Iya.”

“Oke, mam. Nite,”

“Nite, kak.”

“Yaa.”

“Malam.”

“Hah nite sama malam sama aja, mam. Ah udah matiin lah.”

“Yaa.”

-Tuuuut-


Semoga setiap orang di luar sana mampu mengenali dirinya sendiri, bisa membedakan apa yang menyenangkan baginya dan apa yang tidak, apa yang ia butuhkan, kapan merasa cukup, pilihan mana yang membuatnya bisa bahagia, cara apa yang ia suka, dan bagaimana ia tidak menjadi orang lain. Karena mengenali diri sendiri bukan tergantung dengan usia.


Jakarta, 00:23.
Iya. Saya selesai menuliskan ini pukul 00:23, ditutup dengan topik yang agak berat. Wha, sejak kapan saya bisa menasehati Ibu sendiri?



SELAMAT SAHUR 2 JAM LAGI!
SEBENTAR LAGI LAGU-LAGU YANG BERDENDANG MERDU ITU AKAN MENGISI MIMPIKU.

Rabu, 01 Mei 2019

Sebuah Surat Digital


Hari ini, pada tanggal saat semua buruh diliburkan termasuk saya, surat digital ini dituliskan.

Kau tahu kan bagaimana mekanisme sebuah surat digital? Tidak mungkin setelah menulisnya, saya titipkan pada merpati lalu diterbangkan ke awan-awan, tidak mungkin juga saya selipkan dalam botol untuk dihanyutkan di laut dan disampaikan lewat neptunus.
Tentu ketika surat ini diterbitkan, maka siapapun bisa menemukannya, siapapun bisa mengetahui apa yang hati saya sedang bicarakan.  
Untuk itu, saya ingin mengiba maaf: karena malah berterus terang lewat surat digital; bukan di dalam kamar, menutup pintu, melipat tangan, lalu berdoa; saya malah membiarkan orang lain membacanya.

Kau tahu kenapa saya ingin menulisnya di sini? Supaya saya terus mengingat, untuk banyak hal yang sudah saya lalui dan mengabaikannya.

Semua berjalan dengan baik. Kuliah, menjalani proses skripsi, diwisuda, dapat kerja. Tidak ada yang menjadi kendala, semuanya tepat waktu. Malah saya bertemu pengalaman baru. Berjabat erat dengan orang baru. Menikmati hal baru. Bahkan kalau orang lain melihat, rasanya saya melewatinya tanpa ada kesulitan meski hanya sedikit saja. Tapi karena itulah surat ini ada. Saya ingin kau melihatnya.

Saya paling benci ini: berdamai dengan diri sendiri. Bisakah kau ajar saya berdamai? Saya benci diri saya yang sering mengeluhkan hari-hari, menggampangkan kemudahan, mengabaikan kebaikan, mencaci kecukupan. Saya benci dikala saya terlambat menyadari sesuatu, merasa bersalah, lalu lupa mengadukannya padamu.

Ada teman yang belum selesai skripsinya, ada yang sudah berbulan-bulan belum mendapat panggilan kerja, ada yang dilema antara kesehatan atau cita-cita, ada yang kesusahan dengan lingkungan barunya, ada pula yang patah hati tapi mesti menjalani hari.
Sedangkan saya? Hanya menjalani saja, namun berontaknya banyak.

Buruh berdemo satu kali dalam satu tahun, tapi saya? Bahkan saya berdemo hampir setiap bangun tidur di pagi hari. Maka di hari ini, ketika para buruh berdemo di hadapan yang memerintah, maka saya sangat cukup untuk bilang terima kasih dihadapanmu. Ada kalanya saya tersenyum ketika jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Senyum itu tidak kunjung hilang saat saya tiba di sebuah rumah, membuka pagar, berteduh di bawahnya, dan melanjutkan malam. Dan sebelum esok pagi tiba, saya ingin sekali mengucap terima kasih berulang kali, karena hingga kini saya masih bisa mengulangi itu semua setiap hari.

Barangkali, kemudahan macam apalagi yang akan kau beri? Saya bertanya-tanya.


Salam,
Onix Octarina.
Untuk, Yang Maha Kuasa: Tuhan.

Minggu, 31 Maret 2019

Berdua Lebih Baik dengan Club Alacarte


Ke cafe bareng Kanels!

“Maaf mas ini internetnya kok nggak bisa ya?”
“Lagi trouble sepertinya, mbak.”

Halah.
Udah ke cafe bayar mahal, niatnya mau memanfaatkan fasilitas internet, malah zonk.
Pernah mengalami hal begini? Saya pernah. Percakapan di atas baru saja terjadi sekitar satu bulan yang lalu. Waktu itu saya pergi ke salah satu cafe di daerah Ciledug, Jakarta Selatan tanpa bertanya “WiFi-nya bisa diakses nggak ya?” setelah membayar makanan yang dipesan dan akhirnya hanya pasrah.

Dua jam di depan laptop tanpa WiFi, saya masih bisa bertahan, memasuki jam berikutnya saya benar-benar memutuskan untuk pindah ke cafe lain. Kondisi demikian memang jarang terjadi, namun kalau dihitung dengan cermat, hal ini termasuk pengeluaran yang berlebihan di akhir pekan. Huh. Meski internet di cafe berikutnya dapat digunakan dengan baik dan benar bisa diakses, saya jadi enggan untuk ke cafe lagi. Ya, cafe manapun.

Tapi kemarin, setelah baru saja membaca postingan seorang teman di blog tentang bagaimana nongkrong kece dengan cara hemat, saya mencoba ke cafe lagi. Dan taraa! Buy 1 get 1 free hahaha dasar anak kos!

But, wait. Hemat? Kok bisa?

Yap. Karena ada aplikasi ajaib bernama Club Alacarte.
Pertanyaannya, apa itu Club Alacarte? Bagaimana cara menggunakannya? Apakah semudah menghilang begitu saja biar dicari? *eh.

Nongkrong hemat dengan Club Alacarte
Club Alacarte atau yang dibaca Kləb Alakart (bukan Alakarte ya hahaha saya juga baru tahu setelah bertanya pada barista di Manhattan Coffee & Cuts) adalah aplikasi yang menawarkan hidangan ala resto dan resmi meluncur di Jakarta pada Desember 2018 lalu.

Alacarte didirikan oleh 3 founder yaitu Ferdinand Sutanto (CEO), Low Meng Ee Kenneth (COO), dan Philip Chen (Direktur). Ide untuk mewujudkan aplikasi ini berawal dari fakta bahwa terdapat lebih dari 380 juta transaksi di restoran senilai US$1,5 miliar dalam setahun di Jakarta.

Dari angka tersebut, saya mencoba untuk melakukan survei sederhana. 10 dari 11 orang dengan rentang usia 20-25th menyatakan kalau mereka ke cafe paling tidak 1 kali dalam 1 bulan. 8 di antaranya saat ini berdomisili di Jakarta. Hampir semua yang pernah ke cafe, memilih weekend sebagai waktu yang tepat. Fakta menariknya, alasan untuk ke cafe tidak hanya untuk nongkrong asik saja, melainkan melakukan hal-hal yang produktif, karena cafe dianggap menjadi tempat yang nyaman dan dapat meningkatkan fokus. Hal produktif seperti meeting, mengerjakan skripsi, membuat konten, menjalankan bisnis, belajar jadi barista, memberi makan kucing, mencuci mobil, memetik daun teh? Oke, siapa yang peduli.
Oh iya, tentu itu juga terjadi pada saya.

Daftar Menjadi Bagian dari Club Alacarte
Gaya hidup urban saat ini memang bisa saja membuat kantong cekak. Eh tapi, kita tidak perlu khawatir lagi. Jadilah bagian dari Club Alacarte!
Sebelum saya bercerita lebih jauh, bolehlah geser jempolmu ke Google Play Store atau App Store untuk mengunduh aplikasi Club Alacarte terlebih dulu. Tentu hal ini saya tujukan kepada pembaca budiman yang seringkali ke cafe apapun tujuannya. Ini semata-mata demi kebaikan dompet kalian. Karena practice makes perfect, maka akan lebih mudah jika saat membaca review ini kalian langsung mencoba aplikasinya.  
Oke, sudah diunduh?
.
.
Belum?
Baiklah, saya tunggu.
.
.
.
Sudah? 
Anggap saja sudah ya :(
Untuk bisa nongkrong hemat, hal pertama yang perlu dilakukan setelah mengunduh aplikasi Alacarte adalah mendaftarkan diri menjadi member. Caranya mudah, walau tidak semudah menjalani hubungan jarak jauh, sih~~

Ada 2 langkah sederhana yang perlu dilakukan. Iya, hanya 2 saja, karena berdua lebih baik dengan Club Alacarte, hiyaa.
Pertama, buka aplikasi Club Alacarte
Tentu aplikasinya harus dibuka terlebih dahulu. Setelah itu, klik menu “Register” untuk mengisi data diri. Seperti pada umumnya, kita akan diminta melengkapi data diri: nama lengkap, tanggal lahir, password, dan seterusnya. Kalau punya akun Facebook dan mudah terhubung, gunakan itu saja agar proses pendaftaran lebih ringkas.

Kedua, konfirmasi kode OTP
Aplikasi Club Alacarte akan mengirim 4 digit kode One Time Password (OTP) ke alamat email kita, maka segera cek inbox dan masukkan kode tersebut ke dalam aplikasi Club Alacarte. Atau bisa juga dengan klik tombol “Confirm My Account” yang dikirim bersamaan dengan kode OTP ke email.  
Mudah, kan? Tapi tidak cukup sampai di situ, saya akan cerita lebih panjang soal aplikasi yang satu ini.

Keuntungan Menggunakan Club Alacarte
Minggu lalu, saya memilih cafe Manhattan Coffee & Cuts yang terletak di Panglima Polim IX, Jakarta Selatan dan memutuskan untuk mengajak seorang teman, sapa saja dia Kanels. Hanya menghabiskan waktu sekitar 10 menit saja dari kost, kami gegas ke Manhattan Coffee sekitar pukul 4 sore. Oh ya, biar nggak salah kaprah, aplikasi ini bukan hanya untuk 1 atau 2 cafe tertentu saja ya, melainkan banyak!

Nah, yang menarik dari aplikasi Club Alacarte, kita bisa memilih kategori merchants dengan berbagai kriteria. Menu “Top Picks”, misalnya, akan menampilkan merchants yang sedang tren. Tapi kalau ingin mencari Cafe langganan yang kira-kira terdaftar di aplikasi, tinggal klik saja kolom “search” di pojok kanan atas ya. Setelah itu akan muncul Cafe yang dicari. Atau kalau ingin mencari Cafe yang terdekat dengan lokasi kita saat itu, juga bisa kok, seperti Manhattan Coffee & Cuts yang menjadi pilihan saya dan Kanels. Caranya? Mudah sekali tentunya, klik ikon di samping kolom “search” dan filter sesuai kebutuhan (misalnya lokasi) dan akan muncul merchants yang bisa dipilih (dapat dilihat pada kolom di bawah ini).
Jika dilihat secara keseluruhan, ada 3 keuntungan menggunakan aplikasi Club Alacarte. Keuntungan yang dimaksud adalah kategori promo yang ditawarkan oleh aplikasi ini.
Pertama, 50% discount on lifestyle services
Dengan memilih penawaran ini, kita bisa memperoleh potongan harga hingga 50% pada jasa tertentu yang ditawarkan oleh lifestyle merchants.

Kedua, IDR off on retail purchases
IDR Off memungkinkan kita untuk mendapat potongan harga saat berbelanja dengan nominal minimum tertentu. Ini bisa dimanfaatkan di berbagai retail merchants. Tapi saat itu bukan promo ini yang saya gunakan, melainkan:

Ketiga, Buy 1-Get-1 dining privileges
Dengan mengajak 1 orang teman/kekasih (asal bukan kekasih orang lain *ups) untuk quality time di Cafe, kita bisa mendapat tambahan 1 item gratis ketika membeli 1 item di berbagai dining merchants. Singkatnya, beli 1 gratis 1. Dengan syarat, harga item gratisan harus setara atau lebih rendah dengan item yang dibeli. Kategori promo yang menguntungkan ini saya sebut dengan promo Berdua Lebih Baik. Siapkan partnermu untuk datang ke Cafe di akhir pekan ya! Eh atau bisa juga jadi alasan untuk bilang “ke cafe yuk, ada promo nih buy 1 get 1” ke gebetan kalian hahaha.

(BUY 1- GET 1)
Berdua Lebih Baik dengan Club Alacarte
Promo Berdua Lebih Baik ini ternyata tidak hanya berlaku untuk 2 orang saja, melainkan untuk setiap kunjungan yang melibatkan 2 orang atau lebih. Bila berdua maka akan mendapat 1 item gratisan. Bila kumpul dengan 4 orang teman, maka bisa memperoleh 2 item gratis. Bahkan, kalau mau lebih rame lagi bisa juga mengajak teman se-kantor! Hitung sendiri tapi ya. 

Pertanyaan paling penting: caranya bagaimana?
Yap, ada 3 langkah cepat untuk bisa memperoleh promo Berdua Lebih Baik.
Pertama, lihat menu yang tersedia di café pilihan.
Di beberapa café, terdapat katalog atau menu yang tertera di aplikasi. Cara ini bisa sekalian menghitung-hitung estimasi biaya yang akan dikeluarkan. Nah setelah itu, pesan menu pilihanmu. Namun sebelum memesan, lihat dulu apakah di sekitarmu ada banner Club Alacarte. 
Jika tidak, bertanyalah pada karyawan cafe tersebut,“Mas, di sini bisa pesan kopi dengan aplikasi Kləb Alakart?“
Jika ada bannernya? Maka ganti pertanyaan menjadi “Mas, di sini bisa pesan kopi dengan aplikasi Kləb Alakart?”

Wait, kok sama aja ya? Hahaha.

Kedua, klik “Redeem” pada bagian kanan tampilan.
Setelah itu, kita akan diminta memasukkan 4 digit PIN saat mendaftar menjadi member tadi. Masih ingat kan? Kenangan manis bersamanya saja masih melekat, masa 4 angka mudah ini dilupa begitu saja, duh~~

Ketiga, berikan smartphonemu ke karyawan di kasir
Gunanya? Supaya ia percaya, bahwa kamu tidak akan kemana-mana, hiyaa.
Eh maksudnya, agar karyawan café memasukkan PIN milik merchant di smartphone kita hahaha. Gimana sih!
Ketika seluruh tahapan sudah dilakukan dengan benar, maka kita sudah bisa menikmati promo Berdua Lebih Baik. Nanti akan muncul notifikasi bahwa kita sudah melakukan redeem dengan baik. Hal ini juga berlaku untuk promo 50% off dan IDR Off, kok. Yang penting sesuai pilihanmu saja. Dan jangan lupa memberikan review yang sesuai dengan pelayanan yang kamu dapatkan di cafe itu, ya!
  
Oh, wait. Ada kabar baiknya nih! Tiga penawaran yang menguntungkan tadi dapat digunakan secara bersamaan. Malah bisa dimanfaatkan untuk acara makan bersama seperti weekend brunch atau family lunch.
Dan untungnya, kita bisa menggunakan promo yang sama lagi. Caranya?
Nah, setiap melakukan redeem, kita akan mendapatkan AlaPoints.
AlaPoints
AlaPoints adalah virtual currency Club Alacarte yang dapat ditukarkan dengan berbagai promo menarik lainnya. Misalnya saja menggunakan kembali promo Berdua Lebih Baik yang kita manfaatkan sebelumnya. Dengan menggunakan AlaPoints, maka promo tersebut bisa kita manfaatkan kembali kapan saja. Namun, AlaPoints baru bisa dimanfaatkan ketika sudah menjadi premium member dan bukan free member. Oleh karena itu, mari menjadi premium member Club Alacarte!

Mari Menghemat dengan Menjadi Premium Member
Ada dua tipe keanggotaan yang ditawarkan oleh Club Alacarte, yaitu lite membership dengan membayar IDR 199k yang berlaku untuk mencoba selama satu bulan sebelum membeli membership tahunan. Dan premium membership dengan membayar Rp599 ribu berlaku selama satu tahun. Anggota premium dapat memilih ketiga promo sekaligus dan bisa menghemat biaya di kantong untuk kalian yang sering ke cafe.

Lalu bagaimana caranya menjadi premium member? Sederhana saja, ada langkah 4 ringkas.
Pertama, silakan masuk ke menu “Shop” yang ada pada laman utama.
Ada 3 jenis premium member yang ditawarkan oleh Club Alacarte sesuai dengan masa berlakunya. Mulai dari 1 bulan dengan biaya Rp49.000, 6 bulan dengan biaya Rp249.000, dan 12 bulan dengan iuran sebesar Rp399.000. Setelah selesai menentukan pilihan, lanjut ke langkah beirkutnya.

Kedua, klik tombol “Buy” yang terletak di sisi kanan menu.
Pada bagian ini, kita juga bisa mendapatkan potongan biaya premium membership dengan memasukkan kode promo dan/atau referral.

Ketiga, klik tombol “Checkout” ketika sudah selesai.

Terakhir, masuk ke proses pembayaran.
Ada dua metode pembayaran yang disediakan, yakni kartu kredit (berlogo Visa dan MasterCard) dan transfer bank. Untuk pilihan kedua, bisa membayarnya melalui BCA, Mandiri, CIMB Niaga, Danamon, atau jaringan ATM Bersama, Prima, dan Alto.

Club Alacarte: Aplikasi Cerdas untuk Gaya Hidup Urban
Saat ini, Alacarte bermitra dengan restoran berskala menengah ke atas yang berlokasi di Jakarta dengan total lebih dari 100 restoran. Terdapat lebih dari 300 penawaran yang bisa dinikmati. Luasnya jaringan yang dimiliki Club Alacarte membuat aplikasi ini sangat menguntungkan. Dan kelebihannya, nggak hanya memudahkan kita untuk berhemat sewaktu nongkrong di cafe, tapi di berbagai jenis merchants lainnya yang melengkapi gaya hidup masyarakat di ibukota. Ada restoran, spa, beauty shop, gym, pet shop, barber shop, car wash, dentist, studio art, dan masih banyak lagi.

Dengan menjadi member Club Alacarte, kita tidak perlu khawatir ‘kapok’ ke cafe lagi. Kini, nongkrong berdua dengan teman menjadi lebih terjangkau. Mengadakan family dinner untuk perayaan ulang tahun di Honu Poke Southwest tidak membuat dompet cekak. Mau perawatan di ID Beauty Clinic pun sudah tidak ragu lagi. Tinggal sebut saja, semuanya tersedia.

Jadi, lebih mudah mana?

Mencari dia yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar atau menjadi member Club Alacarte dan rasakan sensasi berdua? Hahaha! Silakan mencoba, It’s your turn!

Sumber:

Diberdayakan oleh Blogger.