Minggu, 31 Maret 2019

Berdua Lebih Baik dengan Club Alacarte


Ke cafe bareng Kanels!

“Maaf mas ini internetnya kok nggak bisa ya?”
“Lagi trouble sepertinya, mbak.”

Halah.
Udah ke cafe bayar mahal, niatnya mau memanfaatkan fasilitas internet, malah zonk.
Pernah mengalami hal begini? Saya pernah. Percakapan di atas baru saja terjadi sekitar satu bulan yang lalu. Waktu itu saya pergi ke salah satu cafe di daerah Ciledug, Jakarta Selatan tanpa bertanya “WiFi-nya bisa diakses nggak ya?” setelah membayar makanan yang dipesan dan akhirnya hanya pasrah.

Dua jam di depan laptop tanpa WiFi, saya masih bisa bertahan, memasuki jam berikutnya saya benar-benar memutuskan untuk pindah ke cafe lain. Kondisi demikian memang jarang terjadi, namun kalau dihitung dengan cermat, hal ini termasuk pengeluaran yang berlebihan di akhir pekan. Huh. Meski internet di cafe berikutnya dapat digunakan dengan baik dan benar bisa diakses, saya jadi enggan untuk ke cafe lagi. Ya, cafe manapun.

Tapi kemarin, setelah baru saja membaca postingan seorang teman di blog tentang bagaimana nongkrong kece dengan cara hemat, saya mencoba ke cafe lagi. Dan taraa! Buy 1 get 1 free hahaha dasar anak kos!

But, wait. Hemat? Kok bisa?

Yap. Karena ada aplikasi ajaib bernama Club Alacarte.
Pertanyaannya, apa itu Club Alacarte? Bagaimana cara menggunakannya? Apakah semudah menghilang begitu saja biar dicari? *eh.

Nongkrong hemat dengan Club Alacarte
Club Alacarte atau yang dibaca Kləb Alakart (bukan Alakarte ya hahaha saya juga baru tahu setelah bertanya pada barista di Manhattan Coffee & Cuts) adalah aplikasi yang menawarkan hidangan ala resto dan resmi meluncur di Jakarta pada Desember 2018 lalu.

Alacarte didirikan oleh 3 founder yaitu Ferdinand Sutanto (CEO), Low Meng Ee Kenneth (COO), dan Philip Chen (Direktur). Ide untuk mewujudkan aplikasi ini berawal dari fakta bahwa terdapat lebih dari 380 juta transaksi di restoran senilai US$1,5 miliar dalam setahun di Jakarta.

Dari angka tersebut, saya mencoba untuk melakukan survei sederhana. 10 dari 11 orang dengan rentang usia 20-25th menyatakan kalau mereka ke cafe paling tidak 1 kali dalam 1 bulan. 8 di antaranya saat ini berdomisili di Jakarta. Hampir semua yang pernah ke cafe, memilih weekend sebagai waktu yang tepat. Fakta menariknya, alasan untuk ke cafe tidak hanya untuk nongkrong asik saja, melainkan melakukan hal-hal yang produktif, karena cafe dianggap menjadi tempat yang nyaman dan dapat meningkatkan fokus. Hal produktif seperti meeting, mengerjakan skripsi, membuat konten, menjalankan bisnis, belajar jadi barista, memberi makan kucing, mencuci mobil, memetik daun teh? Oke, siapa yang peduli.
Oh iya, tentu itu juga terjadi pada saya.

Daftar Menjadi Bagian dari Club Alacarte
Gaya hidup urban saat ini memang bisa saja membuat kantong cekak. Eh tapi, kita tidak perlu khawatir lagi. Jadilah bagian dari Club Alacarte!
Sebelum saya bercerita lebih jauh, bolehlah geser jempolmu ke Google Play Store atau App Store untuk mengunduh aplikasi Club Alacarte terlebih dulu. Tentu hal ini saya tujukan kepada pembaca budiman yang seringkali ke cafe apapun tujuannya. Ini semata-mata demi kebaikan dompet kalian. Karena practice makes perfect, maka akan lebih mudah jika saat membaca review ini kalian langsung mencoba aplikasinya.  
Oke, sudah diunduh?
.
.
Belum?
Baiklah, saya tunggu.
.
.
.
Sudah? 
Anggap saja sudah ya :(
Untuk bisa nongkrong hemat, hal pertama yang perlu dilakukan setelah mengunduh aplikasi Alacarte adalah mendaftarkan diri menjadi member. Caranya mudah, walau tidak semudah menjalani hubungan jarak jauh, sih~~

Ada 2 langkah sederhana yang perlu dilakukan. Iya, hanya 2 saja, karena berdua lebih baik dengan Club Alacarte, hiyaa.
Pertama, buka aplikasi Club Alacarte
Tentu aplikasinya harus dibuka terlebih dahulu. Setelah itu, klik menu “Register” untuk mengisi data diri. Seperti pada umumnya, kita akan diminta melengkapi data diri: nama lengkap, tanggal lahir, password, dan seterusnya. Kalau punya akun Facebook dan mudah terhubung, gunakan itu saja agar proses pendaftaran lebih ringkas.

Kedua, konfirmasi kode OTP
Aplikasi Club Alacarte akan mengirim 4 digit kode One Time Password (OTP) ke alamat email kita, maka segera cek inbox dan masukkan kode tersebut ke dalam aplikasi Club Alacarte. Atau bisa juga dengan klik tombol “Confirm My Account” yang dikirim bersamaan dengan kode OTP ke email.  
Mudah, kan? Tapi tidak cukup sampai di situ, saya akan cerita lebih panjang soal aplikasi yang satu ini.

Keuntungan Menggunakan Club Alacarte
Minggu lalu, saya memilih cafe Manhattan Coffee & Cuts yang terletak di Panglima Polim IX, Jakarta Selatan dan memutuskan untuk mengajak seorang teman, sapa saja dia Kanels. Hanya menghabiskan waktu sekitar 10 menit saja dari kost, kami gegas ke Manhattan Coffee sekitar pukul 4 sore. Oh ya, biar nggak salah kaprah, aplikasi ini bukan hanya untuk 1 atau 2 cafe tertentu saja ya, melainkan banyak!

Nah, yang menarik dari aplikasi Club Alacarte, kita bisa memilih kategori merchants dengan berbagai kriteria. Menu “Top Picks”, misalnya, akan menampilkan merchants yang sedang tren. Tapi kalau ingin mencari Cafe langganan yang kira-kira terdaftar di aplikasi, tinggal klik saja kolom “search” di pojok kanan atas ya. Setelah itu akan muncul Cafe yang dicari. Atau kalau ingin mencari Cafe yang terdekat dengan lokasi kita saat itu, juga bisa kok, seperti Manhattan Coffee & Cuts yang menjadi pilihan saya dan Kanels. Caranya? Mudah sekali tentunya, klik ikon di samping kolom “search” dan filter sesuai kebutuhan (misalnya lokasi) dan akan muncul merchants yang bisa dipilih (dapat dilihat pada kolom di bawah ini).
Jika dilihat secara keseluruhan, ada 3 keuntungan menggunakan aplikasi Club Alacarte. Keuntungan yang dimaksud adalah kategori promo yang ditawarkan oleh aplikasi ini.
Pertama, 50% discount on lifestyle services
Dengan memilih penawaran ini, kita bisa memperoleh potongan harga hingga 50% pada jasa tertentu yang ditawarkan oleh lifestyle merchants.

Kedua, IDR off on retail purchases
IDR Off memungkinkan kita untuk mendapat potongan harga saat berbelanja dengan nominal minimum tertentu. Ini bisa dimanfaatkan di berbagai retail merchants. Tapi saat itu bukan promo ini yang saya gunakan, melainkan:

Ketiga, Buy 1-Get-1 dining privileges
Dengan mengajak 1 orang teman/kekasih (asal bukan kekasih orang lain *ups) untuk quality time di Cafe, kita bisa mendapat tambahan 1 item gratis ketika membeli 1 item di berbagai dining merchants. Singkatnya, beli 1 gratis 1. Dengan syarat, harga item gratisan harus setara atau lebih rendah dengan item yang dibeli. Kategori promo yang menguntungkan ini saya sebut dengan promo Berdua Lebih Baik. Siapkan partnermu untuk datang ke Cafe di akhir pekan ya! Eh atau bisa juga jadi alasan untuk bilang “ke cafe yuk, ada promo nih buy 1 get 1” ke gebetan kalian hahaha.

(BUY 1- GET 1)
Berdua Lebih Baik dengan Club Alacarte
Promo Berdua Lebih Baik ini ternyata tidak hanya berlaku untuk 2 orang saja, melainkan untuk setiap kunjungan yang melibatkan 2 orang atau lebih. Bila berdua maka akan mendapat 1 item gratisan. Bila kumpul dengan 4 orang teman, maka bisa memperoleh 2 item gratis. Bahkan, kalau mau lebih rame lagi bisa juga mengajak teman se-kantor! Hitung sendiri tapi ya. 

Pertanyaan paling penting: caranya bagaimana?
Yap, ada 3 langkah cepat untuk bisa memperoleh promo Berdua Lebih Baik.
Pertama, lihat menu yang tersedia di café pilihan.
Di beberapa café, terdapat katalog atau menu yang tertera di aplikasi. Cara ini bisa sekalian menghitung-hitung estimasi biaya yang akan dikeluarkan. Nah setelah itu, pesan menu pilihanmu. Namun sebelum memesan, lihat dulu apakah di sekitarmu ada banner Club Alacarte. 
Jika tidak, bertanyalah pada karyawan cafe tersebut,“Mas, di sini bisa pesan kopi dengan aplikasi Kləb Alakart?“
Jika ada bannernya? Maka ganti pertanyaan menjadi “Mas, di sini bisa pesan kopi dengan aplikasi Kləb Alakart?”

Wait, kok sama aja ya? Hahaha.

Kedua, klik “Redeem” pada bagian kanan tampilan.
Setelah itu, kita akan diminta memasukkan 4 digit PIN saat mendaftar menjadi member tadi. Masih ingat kan? Kenangan manis bersamanya saja masih melekat, masa 4 angka mudah ini dilupa begitu saja, duh~~

Ketiga, berikan smartphonemu ke karyawan di kasir
Gunanya? Supaya ia percaya, bahwa kamu tidak akan kemana-mana, hiyaa.
Eh maksudnya, agar karyawan café memasukkan PIN milik merchant di smartphone kita hahaha. Gimana sih!
Ketika seluruh tahapan sudah dilakukan dengan benar, maka kita sudah bisa menikmati promo Berdua Lebih Baik. Nanti akan muncul notifikasi bahwa kita sudah melakukan redeem dengan baik. Hal ini juga berlaku untuk promo 50% off dan IDR Off, kok. Yang penting sesuai pilihanmu saja. Dan jangan lupa memberikan review yang sesuai dengan pelayanan yang kamu dapatkan di cafe itu, ya!
  
Oh, wait. Ada kabar baiknya nih! Tiga penawaran yang menguntungkan tadi dapat digunakan secara bersamaan. Malah bisa dimanfaatkan untuk acara makan bersama seperti weekend brunch atau family lunch.
Dan untungnya, kita bisa menggunakan promo yang sama lagi. Caranya?
Nah, setiap melakukan redeem, kita akan mendapatkan AlaPoints.
AlaPoints
AlaPoints adalah virtual currency Club Alacarte yang dapat ditukarkan dengan berbagai promo menarik lainnya. Misalnya saja menggunakan kembali promo Berdua Lebih Baik yang kita manfaatkan sebelumnya. Dengan menggunakan AlaPoints, maka promo tersebut bisa kita manfaatkan kembali kapan saja. Namun, AlaPoints baru bisa dimanfaatkan ketika sudah menjadi premium member dan bukan free member. Oleh karena itu, mari menjadi premium member Club Alacarte!

Mari Menghemat dengan Menjadi Premium Member
Ada dua tipe keanggotaan yang ditawarkan oleh Club Alacarte, yaitu lite membership dengan membayar IDR 199k yang berlaku untuk mencoba selama satu bulan sebelum membeli membership tahunan. Dan premium membership dengan membayar Rp599 ribu berlaku selama satu tahun. Anggota premium dapat memilih ketiga promo sekaligus dan bisa menghemat biaya di kantong untuk kalian yang sering ke cafe.

Lalu bagaimana caranya menjadi premium member? Sederhana saja, ada langkah 4 ringkas.
Pertama, silakan masuk ke menu “Shop” yang ada pada laman utama.
Ada 3 jenis premium member yang ditawarkan oleh Club Alacarte sesuai dengan masa berlakunya. Mulai dari 1 bulan dengan biaya Rp49.000, 6 bulan dengan biaya Rp249.000, dan 12 bulan dengan iuran sebesar Rp399.000. Setelah selesai menentukan pilihan, lanjut ke langkah beirkutnya.

Kedua, klik tombol “Buy” yang terletak di sisi kanan menu.
Pada bagian ini, kita juga bisa mendapatkan potongan biaya premium membership dengan memasukkan kode promo dan/atau referral.

Ketiga, klik tombol “Checkout” ketika sudah selesai.

Terakhir, masuk ke proses pembayaran.
Ada dua metode pembayaran yang disediakan, yakni kartu kredit (berlogo Visa dan MasterCard) dan transfer bank. Untuk pilihan kedua, bisa membayarnya melalui BCA, Mandiri, CIMB Niaga, Danamon, atau jaringan ATM Bersama, Prima, dan Alto.

Club Alacarte: Aplikasi Cerdas untuk Gaya Hidup Urban
Saat ini, Alacarte bermitra dengan restoran berskala menengah ke atas yang berlokasi di Jakarta dengan total lebih dari 100 restoran. Terdapat lebih dari 300 penawaran yang bisa dinikmati. Luasnya jaringan yang dimiliki Club Alacarte membuat aplikasi ini sangat menguntungkan. Dan kelebihannya, nggak hanya memudahkan kita untuk berhemat sewaktu nongkrong di cafe, tapi di berbagai jenis merchants lainnya yang melengkapi gaya hidup masyarakat di ibukota. Ada restoran, spa, beauty shop, gym, pet shop, barber shop, car wash, dentist, studio art, dan masih banyak lagi.

Dengan menjadi member Club Alacarte, kita tidak perlu khawatir ‘kapok’ ke cafe lagi. Kini, nongkrong berdua dengan teman menjadi lebih terjangkau. Mengadakan family dinner untuk perayaan ulang tahun di Honu Poke Southwest tidak membuat dompet cekak. Mau perawatan di ID Beauty Clinic pun sudah tidak ragu lagi. Tinggal sebut saja, semuanya tersedia.

Jadi, lebih mudah mana?

Mencari dia yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar atau menjadi member Club Alacarte dan rasakan sensasi berdua? Hahaha! Silakan mencoba, It’s your turn!

Sumber:

Rabu, 19 Desember 2018

Film 'Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta & Rangga' Pas pada Porsinya

Gambar terkait
Source: di sini
Setelah selesai menonton premiere film Milly & Mamet: Ini Bukan Cinta & Rangga di Semarang, saya membatin: “Ini film terbaik Ernest!”

Dari kesempatan itu, saya ingin menuliskan bagaimana kelebihan dan kekurangan film ke-4 Ernest yang ia sutradarai sendiri. Merangkap sebagai aktor dalam film tersebut dan penulis cerita bersama istrinya, Meira, Ernest menciptakan drama komedi keluarga yang dekat dengan kehidupan kita. Masalah yang diulik sederhana, tapi ngena, dan pas pada porsinya. Tidak harus yang pelik, penonton dibuatnya hampir menangis (mungkin ada juga yang sampai menangis) karena persoalan keluarga kecil Milly dan Mamet seputar pekerjaan, perspektif dari Bapak mertua, dilema mengejar mimpi, tanggung jawab sebagai ibu atau kepala keluarga, dan rasa saling percaya. Berangkat dari aktor pendukung di AADC, kita disuguhkan karakter Denis Adiswara dan Sissy Priscillia sebagai pemeran utama yang dieksplorasi lebih dalam. Mamet yang penyayang keluarga, tanggung jawab dan ‘aku nggak jelek-jelek amat kok’. Juga didukung oleh karakter Milly yang pengertian, jujur, mom-able dan yang bilang ‘rasanya kayak kurang teri gitu’.  

Pada satu waktu, semua sudut di theater bioskop dipenuhi oleh gelak tawa, tidak sedikit penonton yang terpingkal malah sampai memukul teman di sebelahnya. Itu saya aja keknya hahaha. Namun di waktu yang lain, keheningan sangat terasa. Film ini saya ibaratkan seperti naik roller coaster, serba naik-turun, namun tidak sampai ingin muntah. Cuma rahang jadi capek aja, kita dibuat tertawa bebas, lalu terbawa dalam suasana haru.
Di bagian pembuka Denis memperkenalkan diri dengan apa adanya, memang tidak puitis seperti Rangga, tapi karakternya yang ceplas-ceplos itu selalu ditunggu, setelah ini apa lagi. Kehadiran geng Cinta di awal film juga dikemas rapi, dan ‘nyata’ bahwa mereka benar-benar melanjutkan kehidupan sampai saat ini. Bahkan scene geng Cinta terus berlanjut sampai ending, jadi bukan sekadar pemanis saja.

Komedi yang disajikan menghibur dan segar, dengan gaya yang baru namun tidak meninggalkan ciri khas Ernest, Milly & Mamet mampu mengocok perut dari awal hingga akhir film. Terutama bagian Isyana, saya ingin mengapresiasinya. Jika biasanya kita melihat Isyana yang anggun di panggung, maka di film perdananya ini ia sungguh berbeda. Meski sudah saya duga Isyana akan bermain dengan gaya cantik-cantik koplak, tapi benar-benar tidak bisa ditebak akan selucu itu.

Selamat Mas Aco sebagai komedi konsultan! Film ini sungguh ciamik!

Mengikuti film Ernest yang kedua yaitu CTS, lalu Susah Sinyal, dan terakhir Milly & Mamet, selalu ada talent yang tidak pernah absen mengisi film, seperti Aci Resti, Arafah Rianti, dan Adinia Wirasti. Tapi Ernest selalu mampu menemukan talent lain yang memberikan warna baru, seperti Eva Celia, Isyana, Yoshi Sudarso, Julie Estele, Ardit Erwandha, Melly Goeslow, dan yang lainnya. Ibarat tukang bakso, Ernest tidak cukup hanya jualan bakso saja, besoknya ia tambah pangsit di mangkok. Setelah laris, besoknya lagi ditambah dim sum, begitu seterusnya sampai saya berani memberikan nilai 8.7/10 untuk film Ernest kali ini. Porsinya benar-benar pas, ramah di lidah, perut, dan kantong.

Saya suka konklusinya, tidak mengada-ada. Dari awal karakter pemain yang ada dalam plot penutup sudah dibangun dengan kuat, hingga di bagian akhir kita dibuatnya tersenyum: “Halah, bisa aje lu Nest”

Ini adalah kali pertama saya menuliskan review film, maka bohong jika tidak ada kekurangan dalam film yang tayang perdana pada tanggal 11 Desember lalu. Dengan latar belakang kehidupan Mamet sebagai chef setelah berhenti mengurus pabrik ayah Milly, ada klimaks yang nanggung antara Mamet dan Milly. Klimaks yang disuguhkan seperti belum matang, karena menuju anti klimaks dan resolution awal dibuat dalam satu waktu yang berdekatan, sehingga saya sebagai penonton merasa itu semua terjadi terburu-buru. Scene drama antara Mamet, Milly, James, dan Alex seperti kebetulan yang disengaja dan tidak alami. Saya tidak tahu, apakah mungkin karena durasi, atau memang sengaja adegan tersebut tidak dibuat detail. Saya membayangkan, apakah dalam dunia nyata bisa terjadi hal seperti itu?

Meski demikian, film Milly & Mamet secara keseluruhan tetap pas pada porsinya. Drama komedi keluarga ini tidak wajib ditonton, namun sungguh sayang jika dilewatkan, karena kata Ernest segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik. Tapi jika tidak ingin ketinggalan dengan bagian Isyana yang lucu, maka catat saja: film ini akan tayang serentak tanggal 20 Desember 2018 di seluruh bioskop kesayanganmu, menjadi film yang pas untuk mengisi waktu liburan.

Ah, satu lagi hampir saya lupa. Jika biasanya soundtrack film Ernest diisi oleh The Overtunes, maka kali ini Jaz sebagai penyanyi genre R & B dan pop melantunkan lagu Berdua Bersama dalam film Milly & Mamet. Tonton segera ya! Soalnya, aku selalu salah tingkah saat di dekatmu ~~

Setelah pulang dari bioskop malam itu, saya kini semakin mengerti maksud Ernest: Hidup ini bukan perkara durasi, tapi kontribusi. Bagaimana Ernest dan Meira mampu menyajikan sebuah karya yang kreatif, saya menjadi paham, bahwa dengan memberikan yang terbaik adalah cara yang pas untuk berkontribusi di hidup ini.

Terima kasih kalian, ditunggu film tahun depan yang lebih pecah lagi!
Mari kita prediksi jumlah penonton Milly & Mamet. 3 Juta? 4 Juta? Entahlah~




Semarang, 12 Desember 2018



Onix Octarina
Si penikmat karya


Rabu, 07 November 2018

Kebahagiaan pada porsinya

Meski aroma tanah menyeruak ke permukaan dan udara pagi sedang sejuk akibat hujan deras tadi malam, saya memulai hari dengan biasa saja. Padahal sudah begitu lama Semarang tidak dihujani lagi seperti ini, tapi tetap saja, tidak ada yang istimewa.
Meski sudah ada daftar pekerjaan yang harus saya selesaikan di kampus, saya, masih saja merasa tidak ada sukacita yang menggebu dalam dada.
Meski sebenarnya tidak ada hambatan yang begitu berarti sepanjang hari atau hal yang menjengkelkan, tapi tetap saja, seperti ada yang hilang dari dalam diri saya.

Saya menerka-nerka apa penyebab jelasnya.
Hasil gambar untuk bahagia
Source: di sini
-++-
Sekitar pukul 8 malam, saya menelepon Bapak. Rindu. Padahal baru 3 hari lalu meninggalkan Semarang, tapi sepi cepat sekali muncul. Kami selalu berbincang sederhana: bagaimana harimu, apa kabar yang baru, bangun jam berapa tadi pagi, kenapa saya tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik, dan sebagainya.

Saya selalu mengusahakan agar kami membicarakan hal-hal yang menyenangkan, pun jika ada sesuatu yang sulit maka secukupnya saja.
Di sela-sela itu, obrolan kami pelan-pelan mengarah pada peristiwa duka dari kecelakaan pesawat Lion Air JT610 sepekan lalu. Membahas ini dengan Bapak, saya selalu merinding. Mengucap syukur berkali-kali.
-++-

Cara Tuhan selalu tidak pernah diduga. Tentang apapun yang terjadi dalam hidup kita.
Ada satu hal yang baru saya sadari hal apa yang hilang dari diri saya pagi ini. 
Ya, berbahagia secukupnya. Berbahagia pada porsinya. Itu yang hilang. 

Saya seringkali protes pada Tuhan, padahal selalu dicukupkan.
saya seringkali mengeluhkan dan menuntut ini itu, merasa semuanya selalu kurang, padahal segala sesuatu sudah baik-baik saja.
Saya seringkali fokus pada hal-hal yang belum tercapai, padahal ada banyak kebaikan-kebaikan kecil yang diterima setiap hari.
Saya seringkali berambisi supaya bisa melampaui ekspektasi, padahal punya harapan saja sebenarnya sudah cukup.
Berbahagialah sesuai porsimu.

Jika kurang, maka cepat kita risau. Jika mengusahakan yang lebih, maka cepat hati kita kosong.
Bahagialah pada apa dan siapa yang masih kita punya, selagi bisa berbincang sederhana dengan mereka. 
Rasanya, setiap hari saya ingin menyampaikan terima kasih dan maaf untuk Bapak dan Ibu saya. 


Semarang, 07 November 2018
Di luar dari semua tulisan ini, saya ingin mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya untuk seluruh awak dan penumpang Lion Air JT610 serta keluarga yang ditinggalkan.
Cara Tuhan selalu tidak terduga, senantiasalah berbaik sangka padaNya. Ia selalu menemukan langkah, merencanakan yang terbaik bagi kebahagiaan kita semua, umatNya.

Selasa, 23 Oktober 2018

Setiap orang punya alasannya sendiri

Kadang kala kita kerap lupa, menghakimi orang lain merupakan salah satu cara agar kita bisa merasa lebih baik, hingga tak dapat dipungkiri sudah menjadi kebiasaan. Entah penghakiman –yang sekedar argumen tanpa fakta- atau justru semakin dibahas semakin seru, padahal belum tentu demikian keadaannya-.

Apakah setiap orang punya cara tersendiri untuk bahagia? Jika iya, maka setiap orang punya alasan tersendiri pula untuk hal-hal yang ia lakukan. Adalah haknya, apabila alasan tersebut tidak diumbar. Bukan kewajibannya pula untuk memuaskan pertanyaan-pertanyaan dalam kepala orang-orang. Karena setiap orang punya alasannya tersendiri: mungkin untuk bertahan atau berusaha menghadapi.
Gambar terkait
Sumber gambar: di sini
Belakangan ini, setelah baru saja menyelesaikan proses skripsi, saya mengetahui sebuah fakta. Salah seorang teman di kampus yang tak kunjung juga mendekati sidang proposal (sidang pertama untuk mengajukan penelitian) berada di salah satu toko yang berada tidak jauh dari kampus.
Pertanyaannya, sedang apa? Bukan sebagai pelanggan, melainkan pegawai. Yang orang-orang ketahui dan simpulkan adalah, Ah si anu kan emang gitu orangnya, tau sendiri lah ya. Atau: kok lama banget ya dia belum proposal? Ngapain aja sih, padahal dosbingnya enak banget.

Bisa tebak apa yang membuat saya makin heran? Setelah beberapa hari dari mengetahui hal itu, saya melihatnya di salah satu franchise minuman. Benar, bukan sebagai konsumen, melainkan penjual. Saya tidak bisa memastikan apakah benar ia bekerja pada 2 jenis usaha atau tidak. 

Semoga, kalimat ‘ngapain aja sih dia’ tidak lagi ada dalam peredaran.



Salam,

Dari yang sempat berpikir kalimat tersebut.
OS
Diberdayakan oleh Blogger.