Tampilkan postingan dengan label jawa tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jawa tengah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 September 2018

Biarkan Batik Melekat Erat di Setiap Generasi

MERAYAKAN WAKTU LUANG
Seni merayakan hidup adalah menikmati setiap waktu yang kita punya. Tidak ada cara yang benar atau salah. Ada yang bahagia ketika hari libur hanya leyeh-leyeh di kamar sambil mendengarkan musik kesayangan lalu berganti menonton film jika sudah bosan, ada yang melakoni hobi seperti menulis atau memasak sepanjang hari hingga lupa kalau ia punya waktu 24 jam saja, ada juga yang merasa cukup jika hanya duduk di samping ayah ibu bercerita ini itu tanpa kenal waktu sambil menyeruput kopi kesukaan, atau ada pula yang bahagia dengan menjajaki tanah rantau seperti saya dan kawan-kawan barang sehari saja.
Saya dan kawan-kawan di Kampung Batik Semarang
Sumber: dokumentasi pribadi
Kami anak rantau, punya waktu setiap hari kapanpun untuk keliling Kota Semarang jika mau, tapi tidak kami lakukan. Seni merayakan waktu luang tidak selalu dengan melakukan perjalanan, entah itu dengan jarak jauh atau tidak. Setiap orang, termasuk saya tentu punya ruang masing-masing.
Untuk kali ini, sebagai mahasiswa akhir yang kira-kira 17 Agustus tahun depan kemungkinan tidak lagi bisa merayakan di tanah rantau, maka kami memutuskan untuk mencari momen unik hari kemerdekaan di Kampung Batik Semarang. Kampung ini terletak di gang dengan Gapura Besar bertuliskan Jl. Batik, Bubakan.
Nuansa Kampung Batik Semarang
Sumber: dokumentasi pribadi
Lokasi Kampung Batik Semarang dengan wajah barunya berada dekat dengan Kota Lama dan Pasar Johar. Tanpa memasang ekspektasi berlebih. Tanpa berpikir bahwa Kampung Batik akan begini dan begitu. Kami justru menemukan euforia di sana seperti kebahagiaan sederhana kala merayakan lebaran di kampung halaman. Disambut baik oleh warga, menghabiskan waktu tanpa terasa, dan menikmati nuansa batik yang disuguhkan lewat corak di dinding, meski terik di siang hari awalnya bikin kami cranky. Setelah bertanya-tanya dengan Bapak yang melukis corak batik di sana, ternyata tidak hanya asal gambar, lukisan di dinding berisi cerita pewayangan dan legenda asal-usul Kota Semarang. Dari hal tersebut saya menjadi tahu, bahwa Pesona Indonesia tidak berhenti pada kain Batik saja, melainkan pesona Batik bisa diperkenalkan pada khalayak lewat kampung wisata bertema yang sama. Ini menjadi salah satu cara agar Batik dan budayanya senantiasa melekat erat di setiap generasi, apalagi generasi z dan milenial yang kini aktif di media sosial. Kebanggaan itu bisa kita bagikan lewat kanal pribadi masing-masing dengan ceritanya yang unik, bukan?
Peta Kampung Batik Semarang
Sumber: dokumentasi pribadi
Nuansa Kampung Batik Semarang
Sumber: dokumentasi pribadi
Hingga menjelang sore, kami habiskan waktu di sana dengan memburu foto-foto autentik. Siapa bilang konsep Batik akan membuatmu terlihat tua? Nuansa warna-warni di Kampung Batik tidak membatasi siapapun dari kalangan usia. Anak-anak, muda, tua, menikmatinya.
  
KAMPUNG WISATA BATIK CIREBON
Lantas, apakah memburu foto instagramable sambil mengenal sejarah Batik Indonesia hanya bisa dirasakan di Kota Semarang saja?
Tentu tidak. Ada begitu banyak kampung wisata batik yang dibangun di berbagai wilayah Nusantara.
Dilansir dari infobatik.id, salah satu daerah terbaik dengan desa wisata batik khas Indonesia adalah Kampung Batik Trusmi Cirebon yang berada di Desa Trusmi, terletak sekitar 4 KM sebelah barat pusat kota sebagai jantung dari produksi Batik Cirebon. Bukan hanya dikenal sebagai salah satu kota yang memiliki tempat wisata budaya yang menarik untuk menjadi tempat plesiran, Cirebon memiliki destinasi wisata menarik di setiap sudut untuk ditelusuri. Wisata Batik Trusmi saat ini menjadi Wisata Cirebon yang wajib dikunjungi bagi para pemburu batik. 
Gambar terkait
Berburu Batik di Kampung Batik Trusmi
Sumber: di sini
Desa Batik Trusmi di Cirebon adalah destinasi yang lengkap. Wisatawan tidak hanya menikmati nuansa Batik saja, tapi juga wisata kuliner sampai memborong oleh-oleh di dalam satu kawasan. One stop destination, menjadi konsep Desa Batik Trusmi saat ini. Yang tadinya sebuah desa pengrajin batik yang mungil, wisata Batik Trusmi menyebar ke desa tetangga, diikuti pertumbuhan kawasan wisata dengan aneka fasilitas wisatanya.

Wisata Batik Trusmi Cirebon
Sumber: di sini
Kalau wisata ke Desa Batik Trusmi, ada banyak pilihan destinasi wisata kuliner yang bisa kita coba. Biasanya wisatawan berkunjung ke kawasan wisata kuliner Empal Gentong khas Cirebon di Battembat, di ujung kawasan Desa Batik Trusmi sebelum memasuki wilayah pusat Kota Cirebon. Pilihan menunya ada Empal Gentong alias soto daging yang berkuah santan, Empal Asem yang berkuah bening, sate dan Nasi Lengko yaitu nasi dengan tahu tempe disiram bumbu kacang. Jika berburu batik sampai malam, ada tambahan wisata kuliner khas Cirebon yaitu Bubur Sop Ayam. Ini adalah perpaduan yang unik, bukan? Melihat konsep one stop destination seperti ini, siapa yang tidak ingin ke Kampung Batik Trusmi?

BT BATIK TRUSMI
Di Kampung Batik Trusmi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon menyuguhkan beragam hal unik, sebab di sana terdapat nuansa kain berpola khas Nusantara yang bisa dirasakan. Sambil mengenal sejarah Batik Cirebon, menikmati wisata kuliner, kita juga bisa belanja batik khas Cirebon dan belajar membatik di BT Batik Trusmi di Jalan Syekh Datul Kahfi No. 148, Plered, Weru Lor, Weru. 
Logo BT Batik Trusmi
Sumber: di sini
BT Batik Trusmi adalah salah satu sentra Batik terbesar di Cirebon, bahkan di Indonesia. Namanya pernah tercatat dalam rekor MURI pada 2013. Dari segi desain dan filosofi, Batik Trusmi konsisten dengan motif tapi sangat terbuka dengan modifikasi. Batik yang dijual adalah batik khas Cirebon yang sarat pola Mega Mendung. Motif awan Mega Mendung merupakan akulturasi budaya China dan Islam sejak era Wali Songo. Motif ini terus dijaga sampai sekarang, namun kemudian lahir aneka variasi warna, motif dan bahan. Produk turunan mulai aneka jenis busana, sampai pernak-pernik batik juga tersedia. Harga yang dibanderol untuk batik itu beragam, mulai yang puluhan ribu sampai ratusan ribu, cocok untuk dijadikan oleh-oleh. 
Hasil gambar untuk KAMPUNG WISATA BATIK TRUSMI
Sentra Batik BT Batik Trusmi
Sumber: di sini
Batik Cirebon motif Mega Mendung merupakan salah satu Batik Indonesia yang diakui sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO. UNESCO mencatat bahwa batik adalah identitas budaya Indonesia. Makna simbolik warna serta motifnya menunjukkan kreativitas dan spiritualitas masyarakat Indonesia.
Jadi tidak perlu khawatir lagi ya. Jika ingin memburu foto unik, menikmati nuansa kampung batik, belanja oleh-oleh Batik sekaligus menjajaki wisata kuliner, kita bisa berkunjung ke Kampung Batik Trusmi kalau sewaktu-waktu liburan ke Cirebon.
Hasil gambar untuk bt BATIK TRUSMI store
Toko BT Batik Trusmi
Sumber: di sini
WHEN TRADITION MEETS MODERNITY
Batik sudah melekat pada saya selama masa perkuliahan, mulai saat menjadi mahasiswa baru, sampai berada di semester tua. Bagi saya, Batik lebih baik menjadi outfit untuk mencari ‘aman’ jika kehabisan ide. Entah itu untuk mengikuti kuliah di kampus, menghadiri acara resmi, atau di saat kuliah lapangan ke Bangkok tahun 2016 lalu. Demi menjaga ciri khas, saya memilih Batik untuk terlihat berbeda. Sayangnya, masih banyak anak muda yang menganggap bahwa mengenakan Batik akan terlihat tua atau dikira mau ke kondangan hahaha.
Memakai Batik mulai dari buluk sampai tetap buluk :D
Foto 1-3: Masih maba-semester 2-saat Kuliah Lapangan
Sumber: dokumentasi pribadi
Di Kampung Trusmi, ada lebih dari 1.000 perajin batik yang bekerja setiap hari untuk menghasilkan karya-karya yang menawan. Batik di Trusmi ini lebih modern jika dibandingkan dengan batik-batik daerah lain. Fakta uniknya, BT Batik Trusmi menarget para pembeli muda untuk memilih memakai batik dengan corak dan warna yang cerah.

When tradition meets modernity, BT Batik Trusmi mampu mengikuti perkembangan zaman melalui desainnya yang unik dan modelnya yang adaptif. BT Batik Trusmi berupaya agar Batik melekat pada setiap generasi, muda ataupun tua tidak enggan mengenakan Batik. Untuk outfit anak muda supaya tidak terlihat tua atau dikira mau ke kondangan, Batik akan lebih baik dipadupadankan dengan cara berikut ini.
Outfit untuk wanita:
1.      BOLERO TROPIS KLASIK SOGAN
Bolero Tropis Klasik Sogan adalah batik asli produksi Desa Trusmi dengan motif klasik sogan kawung cocok digunakan sebagai pakaian kantor atau acara resmi. Dipadukan dengan celana bahan juga oke. 

BOLERO TROPIS KLASIK SOGAN
sumber: di sini
2.      ADOREA MONOCHROMIC VEST
Adorea Monochromic Vest yang terbuat dari bahan katun dengan motif batik abstrak kombinasi kawung yang nyaman dan bahan yg adem. Cocok dikenakan sebagai pakaian kantor, pesta dan hang out.
ADOREA MONOCHROMIC VEST
ADOREA MONOCHROMIC VEST
sumber: di sini
3.      DRES MEJIKU
Dress Mejiku yang terbuat dari bahan katun tenun dengan kombinasi warna pelangi dengan bahan yg adem sehingga sangat cocok dikenakan sebagai pakaian kantor, pesta, sehingga terlihat elegan ketika dipakai.
DRES MEJIKU
DRES MEJIKU
sumber: di sini
Bagi teman-teman yang mengenakan hijab, jangan khawatir karena outfit untuk kalian juga ada lho.
1.      JUMPSUIT LIRIS HITAM
Jumpsuit Batik Daun yang terbuat dari perpaduan bahan shifon dan paris yang nyaman dan bahan yg adem dan jatoh. Cocok dikenakan sebagai daily outfit.

JUMPSUIT LIRIS HITAM
sumber: di sini
2.      BLAZER RANGRANG PELANGI
Blazer Rangrang Pelangi adalah batik asli produksi Desa Trusmi dengan menggunakan bahan dasar dobi yang terbuat dari bahan katun polyester dan motif Tribal berwarna ungu kombinasi biru dan putih yang di desain khusus oleh perancang busana kami menjadikan pemakain batik ini terlihat elegan.
BT BATIK TRUSMI BLAZER YK RANGRANG
BLAZER RANGRANG PELANGI
sumber: di sini
Atau kalau sedang tidak ingin mengenakan Batik, kamu juga bisa menambah syal/scraft Batik Cirebon Mega Mendung Wanita. Syal sutra ini cocok digunakan sebagai hiasan leher saat bersantai di pantai atau untuk dipadupadankan dengan pakaian harian.
Scraft Batik Cirebon Mega Mendung Wanita
Outfit untuk pria:
1.      BATIK MEGA MENDUNG MERAK
Batik Mega Mendung Merak terbuat dari kain katun yang lembut. Kemeja batik lengan panjang ini merupakan produk batik asli produksi Desa Trusmi Cirebon, dipadu dengan menggunakan motif khas batik Indonesia. Dapat digunakan untuk kegiatan sehari-hari maupun untuk kegiatan formal.

BATIK MEGA MENDUNG MERAK
sumber: di sini
2.      BATIK HEM SOGAN MEGA MENDUNG
Batik HEM Sogan Mega Mendung terbuat dari bahan katun halus dengan proses batik cap kombinasi tulis. Kemeja batik lengan pendek ini diproduksi langsung dari pengrajin Desa Trusmi yang membuatnya terlihat elegan dan cocok untuk dipakai kegiatan formal.

BATIK HEM SOGAN MEGA MENDUNG
sumber: di sini
Untuk melihat lebih banyak katalog, sila kunjungi di sini
Abis nulis ini saya jadi khawatir, jangan-jangan malah saya borong membeli Batik Trusmi! Jangan sampai ketinggalan ya kankawan! Mumpung masih September, masih ada kesempatan buat memborong Batik di BT Trusmi untuk dikenakan tanggal 2 Oktober nanti dalam menyambut Hari Batik Nasional hehe.

BT Always Batik, bangga memakai produk-produk batik buatan Indonesia, kurangi rasa gengsi, tinggikan rasa bangga, dan mari lestarikan budaya. Biarkan batik melekat di setiap generasi di Indonesia.

Sumber pendukung:
https://www.msn.com
https://travel.detik.com
https://jakrapp.id/
http://mommiesdaily.com

Selasa, 06 Maret 2018

Cara mudah atasi mood travelling ke Telomoyo dengan Insto


“Travelling is not only for sightseeing, but also to see more, understanding deeper and doing better”- Kadek Arini

Untuk kali pertama, setelah melalui berbagai cerita, tujuan perjalanan saya kali ini tidak bisa mencapai akhir.
Melewati *Jalan Nasional Rute 14 dari Utara-Semarang menuju ke arah Selatan-Magelang, saya bersama Aswad, Akbar, dan Megy berkutat selama 1 jam di jalan menuju Telomoyo yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Magelang dan Semarang. Gunung ini lebih tinggi sedikit dari Gunung Andong yang memiliki ketinggian 1726 Mdpl.

Kami memulai perjalanan pada jam 3 sore dari Tembalang dan baru saja menyadari kalau jalan arteri nasional yang ditempuh akan seramai dan sepadat itu. Beralasan lupa rupanya bisa menghambat perjalanan dan ketepatan waktu untuk tiba di tujuan akhir. Namun hal mutlak ini tidak bisa mengubah apapun seperti rencana awal. Belum lagi track menuju puncak Telomoyo yang kami susuri dengan motor, bikin siapa saja ingin turun karena jalannya yang labil kayak ABG.
“Tau nggak sih, perjalanan itu ibarat hidup. Pas ketemu jalan rusak kayak gini rasanya pengen balik ke bawah lagi, kalau ada sesuatu yang sulit dan nggak selesai rasanya pengen langsung menyerah,” Aswad yang bersama saya saat itu hanya mengangguk sambil menyelesaikan rute jalan yang rusak. Duh, lagi-lagi saya sok menggurui.
“Terus?” Jawabnya menunggu kelanjutan saya.
“Iya, sama halnya dengan perjalanan, hidup itu ibarat jalan rusak ini. Terlanjur ke bawah karena nggak telaten menempuh, padahal kalau sabar sedikit langsung nemuin jalan bagus, tau-tau udah sampe puncak kan. Kita nggak tau ternyata hal sulit tadi cuma datang sebentar aja, ngetes nyali, padahal jalan itu yang sebenarnya menguatkan kita,” drama saya panjang lebar, lalu diikuti dengan tawa.
“Siap!” Aswad yang sedang fokus mengemudikan motor hanya mengiyakan, lalu celetuk, ”Eh kamu tau Genta Kiswara nggak? Selain Fiersa Besari, aku juga suka tulisannya di caption instagram tentang perjalanan.”
Masyarakat tengah merayakan hasil panen ketika kami lewat di jalan
Dok.pribadi
Ada begitu banyak hal yang baru kami mengerti selama di perjalanan, sampai menyadari kalau saat itu kabut awan mulai meninggi dan menutupi pandangan ke bawah, sampai kami akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan rute ke puncak Telomoyo karena waktu sudah hampir petang.
“Duh, gimana nih kabutnya udah naik. Dilanjut ke atas nggak?” Tanya Aswad ragu.
“Emang di atas kita bisa liat apa to?” Interupsi Megy.
“Rawa Pening,” jawab Aswad seadanya.
“Gunung-gunung yang lain juga bisa keliatan,” lanjutnya.
“Kalau kita ke atas, nanti malah nggak dapat gambar apa-apa. Udah jam 5 ini soalnya, gerimis lagi,” Akbar memberi argumen yang akhirnya menjadi pertimbangan kami berempat untuk kembali ke bawah.  
Kami lupa sebuah fakta kalau pergi ke Telomoyo saat menjelang senja, resikonya adalah kabut dan gelap, fatal jika niatnya ingin mengabadikan gambar dari atas gunung. 
Track Telomoyo yang kabut
Dok.pribadi
Kami juga lupa kalau selama di jalan arteri yang disibukkan oleh kendaraan berat dengan roda berlipat ganda tadi bisa menghalangi pandangan para penglaju: mahasiswa biasa yang ingin menikmati lansekap dari Telomoyo, menambah urusan Millennials dengan mood yang baik saat travelling. Yap, karena debu dan asap kendaraan yang menggumpal, perjalanan menjadi tidak se-cozy sebelumnya.
Di saat Aswad berhenti karena menemukan spot foto yang apik saat kami menuju ke bawah, Akbar yang menggunakan helm tanpa kaca malah bergumam, “Kok perih ya.”
Helm Akbar tanpa kaca
“Eh ini bagus lho treknya, kayak di Bandung,” komentar Aswad setelah memarkirkan motor ke pinggir jalan, diikuti oleh Akbar.
“Iya ya, kayak di Korea gitu jalannya, kurang daun-daun musim gugur aja,” kata Megy menambahkan.
Aswad mulai memberi aba-aba, “Eh ayo foto.”
“Sek to mataku ini lho,” kata Akbar sambil mengucek mata.
“Kenapa Gel?” Demikian saya memanggil namanya.
“Karena debu di jalan nih pasti.” Saya merogoh kantong jaket dan menemukan kotak hijau yang baru saja dibeli saat sebelum perjalanan. Ini dia! Batin saya dalam hati.
“Aku tadi beli insto. Nih.” Begitu saya memberikan obat mata itu, sejurus kemudian, mood Akbar sudah kembali membaik. Tadinya masih enggan ikut berfoto, sekarang malah paling banyak gaya!
“Makasih teng,” katanya girang.
Yap, Insto Regular yang sepertinya akan selalu sedia di dalam kantong bisa digunakan saat mata perih karena debu, asap, angin, dan kebiasaan Millennials saat ini: main gadget. Termasuk Akbar, Insto memudahkan perjalanan kami yang singkat ini.

Dok.pribadi
“Udah kan? Ayo foto, mumpung spotnya bagus nih,” ajak Aswad sembari menunjuk posisi yang pas untuk berpose.
“Foto berempat dong. Pake tripod aja,” Megy tidak sabar mengabadikan momen, karena takut kalah cepat dibanding kabut dan gelap.
“Gini ya posenya, ikutin aku.” Saya mulai memberi aba-aba untuk pose foto yang lucu dan unforgettable.

Bermodal tripod, kami semua bisa dalam satu frame
Dok.pribadi

Nyatanya perjalanan tidak melulu soal destinasi, tidak selalu soal lansekap, tapi tentang bagaimana kita bisa memaknainya, menemukan hal baru yang kemudian menghinggapi pikiran kita. Jalanan menanjak yang rusak membuat saya mengerti, bahwa sesuatu yang sulit bisa dihadapi tanpa keluhan, ia menjadi cara terbaik untuk belajar, mengikis ambisi, dan menempah sabar.

Jika perjalanan adalah tentang seberapa banyak tujuan yang sudah kau tempuh dalam listmu, maka tidak untuk kali ini. Nyatanya kami bisa menikmatinya tanpa harus mengubah makna, tanpa abai dengan hal-hal sepele. Yes, Insto mudahkan perjalanan millennials seperti kami yang ingin memburu gambar dari ketinggian, yang ingin menambah feed di instagram, yang rela menukar hiruk pikuk di jalan dengan sebuah cerita.
Terima kasih Insto! Kali ini perjalanan kami bisa selesai tanpa mengurangi mood seorang teman. Terima kasih karena baru saja mengubah mindset bahwa mutlaknya sebuah lupa bisa diatasi dengan memaknai perjalanan dari sisi lain.
Dok.pribadi


*Jalan Nasional Rute 14 adalah jalan arteri nasional dari Semarang di utara dan berakhir di Kota Yogyakarta di selatan. Jalan ini melintasi pegunungan Merapi dan Merbabu di Timur dan pegunungan Sumbing dan Sindoro di Barat. Rute ini sejajar dengan Jalan Tol Semarang-Solo seksi 1 dan 2.
 


P.S Tulisan pernah dipublikasikan di sini kemudian memenangkan lomba menulis Weekend Escape berhadiah jalan-jalan ke Labuan Bajo gratis

Thankyou Insto!



Senin, 25 September 2017

Tidak Hanya Sebatas Halaman Rumah

“Dunia tidak hanya sebatas halaman rumah, jalanan macet, sepetak kubikel kantor yang sempit. Dunia juga kaya rasa, jauh lebih bercitarasa jika dibandingkan dengan sekotak nasi sayur bekal makan siang. Ada banyak cara untuk menjelajahinya selagi masih bisa.” – Fahmi Anhar


Dari kiri: Nadia, Aswad, Bogel, Onix, Siti, Agas

Menjadi ‘anak rumahan’ rupanya telah lama merayap diam-diam dalam diri saya. Konsisten pada sepetak meja dan layar laptop tampaknya menjadi alasan untuk enggan beranjak. Mengklaim kalau itu adalah sebuah nyaman, saya pernah merasa cukup untuk tidak kemana-mana, karena ada begitu banyak hal yang memberi batas pada langkah tanpa sengaja.

Dulu, saya bermimpi bisa memupuk kebanggaan pada suatu pencapaian. Dulu, saat saya belum mengenal ruang di luar rumah. Lantas sejak satu-dua-kali perjalanan yang mengajari saya untuk mendengar alam lebih jernih dan menjajal rasa takut pada hal-hal tak terduga, perlahan ironi monoton dalam keseharian saya berangsur hilang, walau belum tuntas sepenuhnya.
Dulu, saya mengira kalau menenggak tawa butuh waktu lama. Pernah saya mengira hal tersulit adalah keluar dari suatu zona. Nyatanya dengan mencipta memori perjalanan bisa mencakup semuanya.
-**-
Aswad yang iseng kami ajak main saat itu mengaku punya jadwal lain. Sekitar pukul 8 malam, ia malah menawarkan di chat room yang saya dan Nadia sebut MPC terselubung “Jogja atau Wonosobo? Silakan dipilih”. Antusias? Jelas! Wonosobo adalah wish list saya tahun ini, entah Aswad sedang bercanda atau tidak, spontan saya balas “Wonosobo gas”.

Kadang sebuah perjalanan tidak perlu itinerary, entah kemana tujuannya dan bagaimana bisa sampai di sana. Hanya butuh beberapa jam untuk ‘mencari massa’ walaupun dengan sedikit drama. Dengan meeting point di kontrakan Bogel, kami gegas meluncur ke Wonosobo kira-kira pukul 2 dini hari. 

Jarus. Itulah sebutan bagi pejalan yang tidak perlu pikir panjang untuk menyiapkan babebubibo perjalanan. Setelah kurang lebih 3,5 jam melewati rute Sumowono-Temanggung, kami berenam tiba di gardu pandang Dieng. Ya, setelah berbagai umpatan mahasiswa-mahasiwa semester 7 yang sudah sedikit jam terbang ini akibat suhu 15 derajat. Rupanya menggigil karena dingin tidak sebercanda kala bernyanyi Sembilan, Sepuluh, biarlah berlalu~~~ HAHA LOL.

Sejenak Aswad, Agas, Bogel, dan Siti menunaikan shalat subuh di sana. Sementara saya, Nadia, dan sekelumit ­kebodohan, tertawa menggigil sambil menyeruput secangkir popmie. Jangan heran jika saya lebih menggunakan kata ‘seruput’ di sini, karena ketika suhu tidak bisa diajak kompromi, maka semua adalah mungkin.
“Orang-orang di sini kok bisa tahan banget ya,” cetus Nadia saat kami melahap popmie.
“Kalo nggak dingin bukan Dieng namanya, mba.” Suara bapak paruh baya yang sedang menyalakan tungku terdengar samar.
“Ya kan udah biasa, Nad,” jawab saya sekenanya.

Namun, sekatrok-katroknya saya dengan suhu yang kontras dari Semarang ini, lebih katrok lagi saat saya menyaksikan fajar-dengan-warna-keemasannya yang ingin menampakkan diri. Percaya atau tidak, saya ingin menangis melihatnya. Maaf katrok, karena selama 20 tahun, saya menyadari kalau ada begitu banyak hal yang ternyata sudah saya lewatkan. Hamburan cahayanya, perpaduan gunung yang menghimpitnya, warna langitnya antara biru dan kelabu, lampu-lampu rumah penduduk yang tersebar berantakan dari kejauhan, dingin menggigil yang menusuk, adalah satu paket yang bisa saya nikmati karena baru saja keluar dari zona nyaman.


“Ayo selfie!” Ajakan mainstream untuk mengabadikan momen menjadi pelengkap di pagi itu.
“Satu, dua, ti...”


Ke hadapan kami berenam dan sekian banyaknya wisatawan di gardu pandang, terima kasih Dieng karena telah membuat saya jatuh hati dan ingin ke sana lagi.
-**-
Dengan alasan ‘tidak keburu’ melihat Golden Sunrise di Sikunir, kami baru beranjak sekitar pukul 6 pagi.
Akibat ulah Agas yang tidak terkendali seperti pertumbuhan Eceng Gondok di Rawa Pening-_- alhasil sarung tangan sebelah kanan saya sudah berpindah kepemilikan ke mas-mas-di pinggir jembatan. Jangan tanya kenapa bisa zz
Menyusuri jalan menuju Sikunir, lagi-lagi kami gagal menahan keluhan.
“Mulih, mulih!”
Saya yang tadinya kesal dengan suhu dingin tertawa mendengar Agas berdalih demikian. Entah berapa banyak gerakan tambahan yang kami ciptakan untuk berhadapan dengan lingkungan.  
“Eh aku tadi sama Akbar malah balas-balasan kentut,” gumam Nadia dengan wajah polosnya.
Sontak kami tertawa.
“Iya tau, tadi dia bilang, aku angkat dulu ya mau kentut,” tambahnya.
“Hahaha. Iya kan dingin, Nadia sampe hapal suaranya lagi,” jelas Akbar.

Untuk waktu yang sebentar, kami menepi ke pinggir jalan menyepakati sesuatu. Baru saja berhenti, Bogel a.k.a Akbar menginstruksikan untuk melihat ke belakang.
“Liat tuh bapaknya nyetir pake handuk,” ujar Bogel usil.
“Tadi aku kira handuknya buat di kepala, ternyata di tangan hahaha,” tambahnya.
“HAHAHA,” tawa kami meledak bercampur gigil.

Melihat banyaknya orang-orang yang turun, mungkin mereka menerka ‘kenapa baru jam segini naik ke Sikunir’. Seperti bisa membaca pikiran, seorang bapak menanyakan hal tersebut.
“Mau liat Sunpride, pak,” jawab Agas spontan. Si bapak berangsur pergi, tidak lagi membalas sahutannya.
Kami hanya nyengir, lantas Siti bergumam, “Ayo ah, nenek kakek aja kuat.”
Diantara kami, ia yang paling bersemangat menapaki anak tangga. Berbeda dengan saya yang kerap kali tertinggal di belakang.
“Nafasku pendek,” alibi saya saat dicemooh haha. 

Setibanya di atas, semua momen yang diabadikan menjadi kewajiban tersendiri bagi juru foto, Aswad dan Bogel. Mulai dari siluet, lansekap, selfie, sampai video-video tak berfaedah bisa diciptakan dengan baik. 






Dari ketinggian, saya bisa merasakan kedamaian yang tidak ada dalam setumpuk tugas, sederet deadline, dan sepanjang koridor kos-kampus. Tidak pernah ada. Saya bisa melihat rumah penduduk lokal, danau, gunung, terasering ada dalam satu lansekap, ditambah dengan keramahan khas alamnya.





“Lari ya ke sana, nanti aku rekam,” Bogel mengawali.
“Ih kan, nggak ada yang lari,” protes Siti karena tidak ada yang mengikutinya.
“Iya beneran divideoin ini,” Aswad mempertegas.
“Satu, dua...” pandu Bogel memberi aba-aba.

Baru sekitar 2 meter berlari, Nadia berhenti dan menoleh “Heh pembodohan kan ini, nggak direkam kan? Aku nggak mau ikutan ah udah,” gerutu Nadia karena tidak percaya.
“Zz beneran direkam loh ini Nad, ya udah kamu nggak usah ikut. Ayo ulang lagi,”
Mendengar Bogel mulai mengomel, saya jadi teringat dengan logatnya yang khas saat mengatakan “Iya di sana ada Stoberi.”
S-T-O-B-E-R-I. HAHAHA!
Sama halnya dengan Nadia yang sebelumnya bergumam, “Kayak Raksaksa itu lho.”
R-A-K-S-A-K-S-A. HAHAHA!
Belum lagi saat Aswad bertingkah konyol layaknya Koala, atau Nadia dan Bogel bersahut-sahutan menirukan suara monyet, dan Agas yang merasa mirip Kuda (aku doang yang normal haha).


Tak peduli seberapa terlihat bodohnya kami, karena yang saya tahu bahagia bukan dicari, tapi diciptakan. Nyatanya kami juga punya sekelumit problematika, tapi tetap bisa menciptakan tawa.





Selepasnya dari Sikunir dan merehatkan diri, kami gegas menuju Menjer. Butuh waktu sekitar 30 menit dari lokasi sebelumnya. Dengan alibi kelelahan, kami berlima terlelap bebas beratapkan langit, beralas rumput dan kain.
Kenapa berlima? Karena Siti udah nggak dianggap. HAHA.   





Merebahkan diri di pinggir telaga adalah hal pertama kali yang saya lakukan. Dari sekian banyak kesempatan untuk bisa tidur di atas kasur kosan yang nyaman, saya memilih untuk berada di sana. Seperti lagu favorit Bogel, saya memilih untuk keluar dari zona nyaman. Daripada pagi ke pagi, ku terjebak di dalam ambisi, mending sembilan, sepuluh, biarlah berlalu~~
Karena percayalah, dunia tidak hanya sebatas halaman rumah, jalanan macet, atau sepetak kubikel kampus yang sempit. Ada banyak cara untuk menjelajahinya selagi masih bisa.



Salam hangat,
dari yang baru pertama kali ke dataran tinggi Dieng, dan kemudian jatuh hati.
OS,


-Semarang-

Thanks to Aswad dan Bogel untuk dokumentasi yang bikin semuanya terlihat nyata. Terima kasih sudah menjadikan perjalanan ini terjadi eaaaa~~
Diberdayakan oleh Blogger.