Sabtu, 21 Maret 2020

Kalau bumi hancur, kita juga

Ilustrasi//shutterstock
“Aku, biarlah seperti bumi. Menopang meski diinjak, memberi meski dihujani, diam meski dipanasi. Sampai kau sadar, jika aku hancur, kau juga.” Fiersa Besari

Merebaknya Koronavirus adalah bencana yang tidak hanya membahayakan, tapi juga mematikan. Data dari John Hopkins University per tanggal 20 Maret, terdapat lebih dari 200.000 pasien positif Coronavirus Disease (Covid-19), dengan lebih dari 9.000 orang meninggal dunia, dan 80.000 lebih orang sembuh. Sedangkan di Indonesia, per tanggal 20 Maret, terdapat 369 kasus, 32 meninggal, dan 17 sembuh.

Terhitung sejak Presiden RI mengumumkan 2 pasien yang terjangkit Korona di Indonesia, virus ini ditetapkan sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa) di Kota Solo dan Provinsi Banten. Tidak hanya itu, efek dari keberadaan Covid-19 yang mendunia benar-benar menimbulkan banyak perubahan maupun kebijakan baru.   

Sepanjang sejarah Indonesia, baru kali ini saya melihat kondisi tidak biasa yang terjadi secara bersamaan seperti: wisuda ditunda, sistem belajar di sekolah berubah daring, mahasiswa belajar di rumah sampai 1 semester selesai, tercipta “Work From Home” untuk para pekerja, Monas dan Dufan tutup sementara, sterilisasi terjadi di beberapa tempat, harga rempah-rempah melonjak, hand sanitizer juga masker diburu, bahkan ibadah dianjurkan di rumah.
Dampak wabah ini juga melebar sampai ke industri hiburan: jadwal rilis film diundur, konser musik tanah air memasuki masa penundaan, standup comedy show diberi “libur”, proses shooting beberapa film dihentikan sementara, sampai Resepsi Jesika Iskandar juga ditunda banyak industri travel merugi bahkan terancam kolaps.

Dampak dari Korona memang tidak main-main. Untuk skala besar: Liga Inggris dan Liga Spanyol sudah ditunda, berbagai tempat wisata di belahan dunia ditutup dalam waktu yang tidak ditentukan, warga Jepang sebagai yang paling sibuk pun tidak terlihat keluyuran, Italia sudah mirip kota mati, sampai Pemerintah Arab Saudi menutup Masjidil Haram untuk kegiatan ibadah umrah.

Se-gila itu, cuk!
Malah yang lebih gila lagi, warga Iran sampai keracunan alkohol karena mengira dengan meneguknya akan menjaga diri tertular dari Korona. Belum lagi di Korea Utara, siapapun yang terjangkit Korona akan ditembak mati jika meninggalkan karantina tanpa izin. 

Di sini saya tidak menyoroti bagaimana kondisi perekonomian dunia setelah virus ini semakin meluas atau Korona yang menjadi isu “pembunuh” umat manusia, tapi bagaimana Bumi diminta untuk beristirahat sejenak dari tugasnya menopang manusia-manusia dan segala tindak-tanduknya, termasuk ulah nakal yang melakukan penyelundupan satwa liar. Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi atau wabah penyakit global yang berasal dari satwa liar seperti kelelawar. Dalam kurun waktu 1 dekade, banyak satwa liar yang masuk pasar internasional secara ilegal.
Mungkin kita diminta untuk sadar dan berhenti menyusahkan lingkungan, atau barangkali kita ditegur agar berupaya menjaga keseimbangan ekosistem di bumi sebaik mungkin, dan hidup berdampingan dengan alam yang sudah memberikan tumpangan pada kita.
Faktanya, sebelum terjadinya wabah Korona, perubahan iklim hanya disibukkan dengan tanggung jawab kita untuk mengurangi emisi karbon. Tampaknya hanya menciptakan kesan “iya iya aku ngerti kok” saat isu perubahan iklim menjadi masalah besar. Kita masih bandel jika diminta untuk ikut terlibat dalam mencegah situasi lingkungan yang semakin kritis. Dari data  yang saya temukan (baca:NOAA) tahun 2019 merupakan tahun kedua yang terpanas setelah 2015. Suhu bumi mencapai 2 derajat Celcius yang dapat menyebabkan kekeringan ekstrem dan kenaikan permukaan laut.

Namun akhir-akhir ini, kabar dari ESA-NASA cukup mengejutkan saya. Katanya, udara di Italia lebih bersih dari polusi sejak pemerintah setempat memberlakukan lock down. Terjadi penurunan emisi nitrogen-dioksida secara drastis. Hal ini juga berlaku di Cina, polusi udara mengalami penurunan tajam antara awal Januari dan akhir Februari.
ESA, NASA
Memang tidak ada yang menyebutkan “untung” dari situasi sekarang. Bukan karena Bumi jadi bebersih, kedatangan Koronavirus adalah sebuah keuntungan. Bukan, bukan begitu konsepnya. Kita tetap tidak boleh panik, harus selalu waspada, jaga kesehatan agar imunitas tidak turun, tetap produktif dan istirahat cukup, juga tidak ngeyel saat diminta untuk melakukan penjarakan sosial, bukan malah liburan dan makan siang ke mall dong ((Otaknya pada ketinggalan apa gimana, hadeh)).

Jika memang ini adalah saatnya, maka izinkan Bumi untuk istirahat sebentar saja. Semoga dengan mengurangi aktivitas di luar rumah, Ibu Pertiwi juga ikut membaik kondisinya, kembali seperti sedia kala, entah itu karena Korona atau perubahan iklim yang semakin melanda. Kalau yang kemarin melakukan sesukanya, maka kali ini tahan sebisanya. Cuci tangan sesering mungkin, pakai masker saat sedang sakit, dan tidak nongkrong dulu di cafe ala-ala. 

Ah, ayolah, kerja sama. Kurangi gobloknya. 

Betul juga kata Fiersa, kalau Bumi hancur, kita juga.



Sumber pendukung:
www.kompas.com
www.mongabay.co.id
ESA, NASA (www.nasa.gov)

4 komentar:

  1. Itu maksudnya suhu bumi naik dua derajat celcius kali ya? Masa suhu 2 derajat bisa menyebabkan kekeringan ekstrem. Muehehe.

    Gue suka kalimat, "Kalau yang kemarin melakukan sesukanya, maka kali ini tahan sebisanya." Bagus dijadiin kuot haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Onix Octarina
      23 Maret 2020 12.22
      Aku nggak paham, kenapa Anda ini konsisten sekali blog walking? :)
      anw, thank u koreksinya ya! hahaha

      Tapi...kayaknya emang 2 derajat celcius itu suhu yang udah tinggi bagi bumi, ini cuplikan tulisan dari Mongabay:
      "satu misi yang akan dijalankan oleh Pemerintah Indonesia adalah menjaga agar suhu bumi di Indonesia tidak melebihi 2,5 derajat celcius. Jika memungkinkan, bahkan suhu bumi bisa dijaga jangan melebihi 2 derajat celcius"

      Entahlah, aku bukan anak fisika atau sejenisnya

      Hapus
  2. Oke nih tulisannya didukung oleh data-data kaya gini buat memperkuat opini yang ditulis! :)

    Then again, setuju dengan selain untuk tetap waspada dan menjaga diri dan sekitar (biar engga ikut ketularan, atau berpotensi tertular) lebih bagus juga kalau sambil refleksi soal konsep antroposentris sambil mengisi hari selama karantina ini berlangsung.

    Finally, a writing from you <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. *setelah baca komen ini langsung buka KBBI: antroposentris*

      Thank u dear selalu mampir ke warung yang tidak seberapa ini xD

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.