Tampilkan postingan dengan label letter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label letter. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 September 2015

Gudang Transit


Aku lupa entitasnya, serupa apa dia? Mungkin hanya pikiran yang terus saja dibubuhi rasa bersalah, atau sesuatu yang samar, sulit untuk dilihat oleh kasat mata: hati yang hablur. Hahaha. Cepat sekali dia mengkristal?

Pelak. Kau keliru. Dia hanya belum ingin menampakkan diri, belum berani memandang mentari kala biasanya, belum berani berdiri memaki salah, ya, karena dia yang melukis salah. Dia kecolongan!

Kau tahu kapan tiba saatnya ia mengalah pada waktu?

Dia hanya ingin mengakui keadaan, bahwa luka yang ditorehnya masih basah. Hanya butuh waktu untuk lupa, hanya ingin menyibukkan diri hingga tiba saatnya hati yang hablur kembali hangat J

Maksudmu, mereda karena mengikuti intuisi?

Kau benar. Ia tidak menghilang, tenang saja. Hanya sedang mencari gudang transit, meluapkan apa yang dirasa, dan setelah itu melanjutkan perjalanan, merengkuh hingga sampai ke tujuan, ke arah mana hati berlabuh.

Sehari semalam aku terkatung-katung menunggunya kembali, bahkan dahaga pun entah berapa kali meraja. Kapan ia pulang? Berhenti untuk diam?

Nanti. Bila nama dinyatakan. Bila ia sudah lupa... 
Ia akan menyemat harapan lagi, seperti biasanya J

  


Teruntuk Onix Octarina,

Belajarlah menghargai pagi, selelah apapun malam, ia akan datang lagi. 

Minggu, 21 Juni 2015

Teruntuk Puan yang Kerap Meninggalkan Jeda,



Teruntuk puan yang baru saya kenal kemarin sore,
Saya lupa entah sejak kapan saya bisa berekspresi sebebasnya dihadapanmu. Terkadang disaat kau merasa begitu lelah menghadapi waktu, aku justru memaksamu untuk mengeja ingatan. Setiap cela dalam baris di pikiran. Aku selalu mendesakmu hingga kau ingin sekali terlelap begitu saja. Kau tahu, bukan karena lakumu yang lupa menapakkan jejak karena kesibukan, tapi justru aku yang waktu itu memaksakan pelangi agar tiba lebih awal. Memaksakan keadaan harus begini dan begitu. Maaf untuk kata-kata menyebalkan yang kerap saya lontarkan, bahkan peluh yang sering saya tambahkan padamu.

Teruntuk puan yang kerap meninggalkan jeda,
Kau selalu saja begitu, meninggalkan jeda lalu lupa untuk melanjutkannya.
Entah bagaimana caranya saya bisa menanggalkan rutinitas. Kau tahu untuk apa? Untuk menunggu ceritamu kembali, yang kerap tidak kau selesaikan, yang lupa kau beri titik pada ujungnya. Hahaha. Konyol bukan?
Kau mengingatkanku pada seseorang dengan nama Faradina. Kemiripan itu membuat saya ingin tahu tentangmu lebih banyak. Saya lupa pernah melakukan kesalahan apa hingga ia menghilang hanya dalam satu sapuan ombak. Kalian persis. Sama-sama mengajarkan saya banyak hal, terutama tentang warna.

Kepadamu puan penyejuk pagi,
Katamu waktu itu, kau adalah embun yang dingin dan telah kering. Ingat saat itu kita beradu mulut? Saya mengakui kesetiaan senja, lalu kau menimpali. Oh tidak, aku tidak ingat sudah berapa banyak perbedaan argumen yang terselip di setiap percakapan-_-
Berapa pun itu, saya tidak acuh, karena pada dasarnya kau mengajarkan saya untuk lebih berani. (berani menghadap senior maksudnya hahaha :p)

Beginilah saya yang selalu lupa mengkhawatirkan perasaanmu saat kalimat demi kalimat bebas saya ucapkan.
Beginilah saya yang kerap lupa harus memilah kata demi kata untuk saya ajukan.
Beginilah saya yang punya semangat tapi butuh penyemangat.
Inilah saya, Onix Octarina.

Kepadamu puan si pelupa,
Menangislah, jika memang yang kau ceritakan waktu itu menyakitkan. Akuilah, jika memang luka itu ada, agar kau tidak lupa untuk melunak pada luka. Kau yang pelupa, kerap menganggap luka yang menganga ialah biasa.  Kau yang pelupa, kerap membiarkan cemas mendidih tiap malam.

Kepadamu puan tanpa nama,
Selamat ulang tahun untuk yang kesekian kalinya, selamat menempuh pendidikanmu yang saat ini ada di depan mata, selamat berhak bahagia di usiamu yang tak lagi muda :p
Tetaplah menjadi Anisa Rachmawati aka Mb Anon yang saya kenal: menyebalkan, jahat, tetapi penuh dengan warna. Tetaplah menjadi kakak yang baik untuk saya, yang sabar menghadapi saya, pun omelannya hihi.
Semoga jutaan kata “aku baik-baik saja” akan terus menjajah isi kepalamu hingga pagi tiba dan malam kembali.




I’ll be there.
Tertanda,


Bunga yang manis J



Nb: Pegel ya nulis sepanjang ini pft-_-“

Rabu, 03 Juni 2015

Kepadamu Puan yang Abadi dalam Ingatan,



Kata Pramoedya, apa yang ada di depan manusia hanya jarak. Dan batasnya adalah ufuk. Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh. Begitukah kita?
Kurasa tidak.
Demikian waktu yang cukup lama, aku yakin 4 tahun diksi buatanmu masih tetap sama, tetap layak untuk dinikmati.

Pernah aku mengumpat. Kala itu aku lelah menggapai tujuan, saat berhasil tak bisa diucapkan, tapi aku ingat, kau bilang gagal adalah proses bahwa kita pernah belajar.

Pernah aku nelangsa, merasa salah berada di tempat asing ini, tapi aku ingat, malam itu kau yang ingatkan bahwa tak semua orang punya kesempatan. Aku simpan nestapa itu jauh, hingga bahagia yang kini ku usahakan.

Kau ingat kita pernah bersama menyemat impian yang terlalu tinggi itu? UK, negeri impian? Kala itu aku pesimis karena merasa tidak mungkin untuk menggenggamnya, tapi karenamu aku yakin sebuah perjuangan yang akan membayar.

Banyak hal yang tertimbun dalam pikiranku, seluruh jejak waktu yang pernah kita habiskan bersama. Lantas saat itu kau ceritakan kisah tentang pangeranmu. Ah, aku senang mendengar bahagia itu. Kini, usiamu telah bertambah satu tahun, bukan waktu yang lama untuk menimbang kedewasaan.

Kau tahu bahwa jarak adalah bahaya? Aku takut nantinya kita bisa lupa tentang perjalanan yang sudah dibangun ini, yang tidak semua orang mengetahuinya, bahkan kepada senja saja kita enggan mengumbar.

Tapi kini aku yakin jarak adalah bahaya yang lekas jadi pudar, karena aku selalu ingat katamu waktu itu, kau selalu berjaga, menunggu aku berjalan dari bawah hingga berada disisimu dan mencapai ujung pelangi bersama.

Kepadamu puan yang abadi dalam ingatan,
Selamat ulang tahun untuk yang kesekian kalinya, aku berharap kabarmu senantiasa baik-baik saja, pun mimpi dan cita-citamu.
Apapun kisahmu, ceritakanlah. Aku disini siap menjadi telaga, karena kau adalah perahunya.
Apapun keluh kesahmu, kisahkanlah. Aku disini siap menjadi telaga yang kau ribak dengan airmu.
Selamat menjadi bahagia di hari lahirmu, selamat menjadi Rizky Amallia yang membanggakan di masa depan, selamat menempuh perjuangan bersamaku, sahabatmu.


Senin, 01 Juni 2015

Kepadamu Tuan Si Telaga Biru,



Kepadamu tuan yang abadi dalam ingatan, 
Keraguan senja untuk memasuki masanya kala itu terpampang jelas diantara sudut mata, kira-kira pukul 6 sore, ia tidak berani memancarkan semburat oranye yang cantik dimuka  sebuah rumah berdinding krem. Ia kehilangan nyali, lantas bersembunyi dibalik pohon berkayu yang tinggi.
Kau tahu kenapa?
Karenamu. Pulang tidak tepat pada waktunya adalah hal yang kerap kau sepelekan. Ingat saat itu emosi ibu sudah diluar kendali? Oh iya, aku lupa. Lupa kalau membuat masalah adalah kebiasaanmu.

Kepadamu tuan yang keras kepala,
Pernahkah kau sadari setiap jenjang kehidupan yang kau sia-siakan? Kala itu kau tak pernah mau tahu tentang masa depanmu, tentang apa yang nanti akan terjadi dengan istri atau anakmu kelak.
Ingatkah kau tentang lakumu yang semena-mena dengan keadaan ? Kau terlalu sering membakar isi kepala ayah, bahkan aku, adikmu.
Lalu bagaimana dengan kebiasaanmu tidur larut kemudian bangun disaat matahari tak lagi ada di timur? Oh, tidak. Aku benci dengan itu, aku benci saat aku harus membangunkan dirimu yang ogah-ogahan itu. Ingatkah dirimu saat amarah ibu melebihi kekuatan peluru yang gaungnya berlangsung hanya sepersekian detik itu? Mungkin sangking banyaknya masalah yang kau ciptakan, kau lupa. Lupa sering mengecewakan kami.

Kepadamu tuan yang pertama kali dilahirkan ibu,
Ingatkah kau tanggung jawabmu sebagai penyangga keluarga? Kata Ibu, alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak dihadapan orang lain. Lalu apa tanggapanmu? Kau hanya bergeming.  Tidak pernah lebih baik dari daun Ek yang terbang jauh menyisir-nyisir udara, walau ia selalu senyap sepertimu, tapi ia tahu jalan pulang untuk kembali. Ingat saat ayah mengajarimu tentang kedewasaan? Kala itu kau ugal-ugalan saat menyetir mobil hendak menuju jalan pulang. Ayah hanya memperingatkanmu untuk berjaga-jaga, kalau-kalau kau masih membekukan hati, tak memberi ruang sedikit saja untuk mendamaikan keadaan.

Kepadamu tuan yang tidak pernah ingat dengan waktu,  
Kau tau filosofi kopi? Kata Dee, seindah apa pun huruf terukir, ia tidak dapat bermakna bila tak ada jeda, kita baru bisa bergerak jika ada ruang. Lantas malam itu ayah menasihatimu soal apa yang ingin kau gapai, aku ingat betul beliau memberimu waktu untuk menentukan masa depanmu sendiri. Tetapi apa? Kau tidak pernah acuh untuk itu.  

Kepadamu tuan yang namanya selalu saya ucapkan dalam doa,
Aku tidak tahu apakah kau mengerti tentang diamku beberapa bulan lalu, saat aku kembali ke rumah dan masih kecewa dengan lakumu. Lantas kau ingat kala kita beradu mulut untuk suatu komitmen? Kau terlihat ingin punya masa depan, tetapi apa? Perkuliahanmu saja kau tinggalkan. Menurutmu pantaskah seorang adik memarahi abangnya? Kendati demikian, "Tahukah kau mengapa aku memperhatikanmu lebih dari siapa pun? Karena kau adalah abangku. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”
Tidakkah kau mengerti bahwa aku, kami sungguh mencintaimu? Itu caraku untuk bisa mengenalmu lebih jauh, tidakkah kau sadari itu? Kini aku mengerti mengapa aku harus merantau. Agar aku tahu makna sebuah pulang. Disini tidak ada lagi perdebatan, pun omelan kecil di saat kau bangun kesiangan. Aku rindu.

Teruntuk tuan si telaga biru,
Aku ingat saat untuk pertama kalinya aku meninggalkan rumah dan memilih jarak yang jauh untuk menempuh pendidikanku. Sepi. Jauh darimu. Tapi aku tahu kaulah si telaga itu, yang membiarkan aku berlayar diatasmu, yang mengantarkan aku sampai di seberang dan menjaga perahuku agar tidak terseret arus. Kaulah si telaga itu, yang sesungguhnya menyatukan keluarga dengan kehangatan, tempat berteduh jika panas dan hujan menghampiri adik-adiknya. Aku mengerti, kau membiarkan perahuku menyibakkan riak-riak kecil ditelaga itu untuk apa. Untuk melihat bahwa aku bebas berekspresi, bukan?

Pada suatu nanti, ketika ragaku sudah tidak ada lagi, maka bacalah surat ini. Kau akan mengerti, bahwa dalam setiap baris kalimat ini berarti aku menyayangimu.  
Pada suatu nanti, ketika suaraku tak terdengar lagi, maka bacalah surat ini. Diantara kata dalam kalimat ini ada makna yang berarti.
Pada suatu nanti, ketika impianku tak dikenali lagi, maka bacalah surat ini. Karena aku tahu, kau takkan pernah letih untuk menjaga diri dan menyiapkan hari.
Pada suatu nanti, ketika tak sempat senja kembali, maka bacalah surat ini. Karena aku tahu, kau takkan membiarkanku sendiri walau lelah kaki ini pergi. 



 Tertanda, adik kecilmu. 

#662 kata tanpa judul



Diberdayakan oleh Blogger.