Senin, 25 September 2017

Mengetahui Potensi Tak Terduga di Laut Indonesia Melalui Geospasial

Ada Apa dengan Laut Indonesia?
Indonesia merupakan negara maritim, dengan luas wilayah perairan 6.315.222 km2 dengan panjang garis pantai 99.093 km2. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, terdapat 16.056 pulau di Indonesia yang terpisahkan oleh lautan. Melalui Geospasial diketahui bahwa lautan yang membentang tersebut ternyata memiliki potensi energi yang besar. Pemetaan potensi sumberdaya laut juga perlu dilakukan sebagai awal dalam pengelolaan sumberdaya dalam tahapan eksplorasi pendahuluan. Penginderaan jauh (Inderaja) merupakan alat bantu yang merekam rona lingkungan bumi yang mampu menginterpretasi potensi eksplorasi kelautan. Dengan menggunakan data citra satelit, biaya eksplorasi akan lebih rendah, termasuk efisiensi dalam mendukung pemanfaatan energi. 
Crystal Bye, Nusa Penida Bali
Photo by: Aswad

Nusa Penida, Bali
Photo by: Aswad

Setangi Lombok
Photo by: Aswad
Saat ini data spasial menjadi media penting untuk pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan pada cakupan wilayah continental, nasional, regional maupun lokal. Mengingat wilayah Indonesia dua per tiga bagiannya adalah laut, Informasi Geospasial diperlukan untuk perencanaan pembangunan pada wilayah pesisir, kelautan dan perikanan. Hal ini bertujuan untuk mendukung penataan ruang laut nasional.
Pulau-Pulau Indonesia
Sumber: NASA via Goodnews from Indonesia
Undang-Undang No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (UU IG) merupakan undang-undang pertama yang mengatur tentang penyelenggaraan Informasi Geospasial di Indonesia. Undang-undang ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan dan kemudahan akses Informasi Geospasial yang dapat dipertangungjawabkan.
Lahirnya undang-undang ini membawa konsekuensi perubahan Bakosurtanal menjadi Badan Informasi Geospasial (BIG), dengan tugas dan fungsi yang lebih besar dari pada Bakosurtanal. BIG menjadi lembaga yang tidak hanya mengkoordinasikan kegiatan survei dan pemetaan untuk menghasilkan peta, namun lebih dituntut pula kepada hasilnya sebagai sumber Informasi Geospasial yang dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian program pembangunan nasional dapat direncanakan dan dilaksanakan secara tepat lokasi dan tepat sasaran (Badan Informasi Geospasial, diakses 2017). 

Potensi Tak Terduga di Laut Indonesia
Dalam mendukung pembangunan wilayah kelautan, pesisir dan pulau-pulau kecil di seluruh Indonesia, BIG telah melakukan Pemetaan Karakteristik Laut. Selain itu, BIG juga menyediakan data dan informasi geospasial berupa Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) berbagai skala, Peta Lingkungan Laut Nasional (LLN), Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) dengan berbagai skala.
Peta Energi OTEC di Seluruh Dunia
Sumber: Lockheed Martin via Goodnews from Indonesia 
Berdasarkan pemetaan sumberdaya kelautan, diketahui bahwa Indonesia memiliki cadangan panas laut atau yang disebut dengan Ocean Thermal Energy Conversion/OTEC. Angka potensinya diklaim bisa mencapai 41 gigawatt dan total ada 17 lokasi yang dapat dimanfaatkan (Goodnews from Indonesia, 2017).
Teknologi energi alternatif OTEC merupakan energi terbarukan yang memanfaatkan panas air laut sebagai sumber energi yang mudah ditemukan pada perairan laut tropis. Panas air laut tersebut didapatkan dari sorotan sinar matahari yang memanaskan air laut. 
"Potensi OTEC di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia, tersebar di pantai barat Sumatera, Selatan Jawa, Sulawesi, Maluku Utara. Bali dan Lembata NTT. PPPGL telah mengkaji dan meneliti potensi OTEC pada 17 lokasi sebesar 41 GW” -Ediar Usman, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL)
Indonesia bagian timur memiliki suhu yang lebih besar dibandingkan lautan di Indonesia bagian barat. Potensi energi panas laut di perairan Indonesia diprediksi menghasilkan daya sekitar 240.000 MW. Potensi ini menjadi sumber energi alternatif yang menjanjikan di masa mendatang. Pihak PPPGL melakukan Sea Trial  untuk menghitung potensi dari OTEC. Sea trial merupakan persiapan pelaksanaan penelitian identifikasi cekungan sedimenter untuk mendukung penyiapan wilayah kerja (WK) minyak dan gas bumi (Migas). Percobaan ini telah dilakukan di Perairan Arafura, Papua dan OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) di perairan Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

PPPGL telah merancang langkah strategis dalam riset OTEC, terutama menentukan lokasi prospek seluruh Indonesia sebagai dasar investasi OTEC. Langkah tersebut meliputi survei potensi regional dan rinci, teknis dan ekonomis, survei potensi di Bali Utara dan Lembata menggunakan Geomarin III pada tahun 2017, dan dilanjutkan pra-studi kelayakan dan studi kelayakan pada tahun 2018. Selain itu, kajian aspek teknis dan ilmiah lainnya termasuk sosial, budaya dan ekonomi, pemilihan lokasi pilot project di Indonesia serta dukungan pemerintah pada pengembangan OTEC.

Pentingnya Informasi Geospasial untuk Mengembangkan Potensi Laut Indonesia
Pemanfaatan OTEC akan berdampak positif bagi perekonomian masyarakat. Energi ini bernilai ekonomi lebih tinggi dibanding sumber energi lainnya karena menghasilkan listrik dan air murni akibat penguapan air laut. Geospasial memudahkan pihak pemerintah untuk mengetahui pemetaan sumber energi baru di Laut Indonesia. Informasi geospasial menjadi penting sebagai sarana untuk merencanakan pembangunan di segala sektor, termasuk ruang perairan. Karena pada hakikatnya Informasi Geospasial adalah informasi ruang kebumian, yang menyangkut aspek lokasi, letak suatu objek atau peristiwa (pada, di atas dan di bawah) muka bumi.


Referensi:
http://www.bakosurtanal.go.id/berita-surta/show/pentingnya-informasi-geospasial-untuk-menata-laut-indonesia
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/09/26/menakjubkan-potensi-energi-panas-laut-indonesia-terbesar-di-dunia-ini-jumlahnya

Artikel ini diikutkan dalam lomba Kompetisi Blog #Geospasial untuk Kita dengan tema Gaya hidup memanfaatkan #geospasial

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.