Selasa, 31 Oktober 2017

Rawa Pening, dan alasan-alasan kenapa saya selalu ingin melihatnya lagi

“Tau kenapa namanya disebut Danau Rawa Pening? Sebelumnya memang seperti rawa yang airnya bening, tapi karena eceng gondok, rawa ini jadi bikin semua orang pening.” Seorang profesor dari Ilmu Lingkungan membuat seisi ruangan pecah dengan gelak tawa karena kalimat pembukanya pagi ini.

Danau yang terletak di Kabupaten Semarang ini tidak pernah kehabisan topik untuk dibahas ulang. Seperti dongeng sebelum tidur, ia selalu menarik untuk diceritakan setiap malam. Parasnya yang elok selalu bikin siapa saja ingin mendatangi, pun saya yang tak pernah bosan memandangnya dari berbagai sisi.

“Lil, pertama kali aku ke Rawa Pening itu pas survei ke Tuntang, jadi kita naik perahu. Baru tau di kabupaten ini ada yang cantik begitu.” Menceritakannya ke Lillah saat kami ke Eling Bening tempo hari rasanya seperti lagu Raisa saja, ku terjebak di ruang nostalgia~


Saya ingat betul, lansekap gunung juga kabut putih yang samar-samar kala itu menjadi alasan kenapa saya jatuh hati pada Rawa Pening pertama kali. Diikuti dengan semilir angin yang menyisir ke setiap celah eceng gondok membuat saya terlena, takut kalau nanti malah terikat dan tidak berhenti menganggumi. Berawal dari survei tugas, saya malah ketagihan untuk ke sini lagi, untuk melihatnya lagi.  



Saya ingat betul, momen itu yang membawa saya kembali lagi untuk melihat Rawa Pening dari sisi lain, dari perspektif kedua untuk meyakinkan apakah indahnya masih sama. Nyatanya, Eling Bening menjadi pilihan tepat bagaimana saya terpatri lagi pada pesona Rawa Pening. Dari ketinggian, saya bersama Lillah menikmati keindahan yang tidak hanya berlatar belakang gunung, tapi juga awan yang berarak di langit, jalan arteri dengan hiruk pikuk kendaraan yang melintasinya, lahan sawah tersebar acak yang mendiami di sekelilingnya, atau rumah penduduk yang tersebar berantakan di dekatnya. 

“Nggak bohong Lil, aku deg-deg-an nih, semacam jatuh hati pada pandangan pertama hahaha.” Celetuk saya saat itu membuat Lillah berkomentar “Wah kacau, Rawa Pening bisa bikin Onix meleleh.”
Seperti magnet yang menghidupi, saya tidak bosan menanti keelokannya hingga menjelang malam, hingga saya menyadari bahwa Rawa Pening akan tetap sama, pun dalam gelap dan kejauhan. 
Bahkan seorang teman pernah mengatakan kalau kami berpose di depan lukisan. Hahaha! 


Kenangan itu membuyarkan saya saat seorang bapak paruh baya memberi argumen di tengah workshop bertajuk Merajut Masa Depan Danau Rawa Pening yang sedang berlangsung. “Kalau kita tidak bersama-sama mengambil langkah tepat, jangan heran kalau nanti 10 tahun lagi anak cucu kita main sepak bola di atas Rawa Pening.”
Entah dianggap sebagai sindiran atau peringatan, bagi saya kalimat itu bisa dijadikan meme di instagram. Lucu, tapi pedas kayak irisan rawit dalam semangkok indomie kornet.

Kekhawatiran akan keberlanjutan Rawa Pening menjadi topik yang dibahas kali ini. Akibat gulma eceng gondok, pendangkalan atau sedimentasi yang terjadi menjadi ancaman serius. Bahkan, danau ini tercatat sebagai salah satu dari 15 danau prioritas dalam pengelolaannya di Indonesia. Miris, bukan?
Bagaimana jadinya jika Rawa Pening tidak bisa lagi dinikmati keindahannya? Bagaimana kalau saya sudah tidak punya alasan lagi untuk ke sana? Bagaimana jika cerita saya terhenti sampai di sini saja? 
Rawa Pening yang tidak seluas Danau Toba ini terletak di 4 wilayah kecamatan, yaitu Ambarawa, Tuntang, Bawen dan Banyubiru. Berada di perbatasan antara Salatiga dan Ambarawa, ia menjadi destinasi favorit bagi para pelancong. Sekitar 80% eceng gondok memenuhi permukaannya. Jika hal itu terus terjadi, maka peranannya sebagai reseravoir alami untuk PLTA, sumber baku air minum, irigasi, perikanan, dan pariwisata tidak bisa lagi berfungsi seperti sebelumnya.  
Tentu banyak yang peduli, tentu yang pernah mengabadikan tidak ingin kehilangan. Padahal jika penanganan terhadap pertumbuhan eceng gondok terkendali, akan ada berbagai dampak positif yang dirasakan masyarakat. Tidak hanya saya, tapi juga kita.  
“Keberadaan UMKM Berbasis Rumah kerajinan tangan berbahan baku eceng gondok berpotensi untuk menambah pendapatan rumah tangga, juga mengembalikan kerusakan ekosistem di Rawa Pening. Dengan mengedepankan kearifan lokal, kerajinan tangan itu bisa menjadi ciri khas Kabupaten Semarang jika serius untuk dikembangkan.” Kalimat itu menjadi penutup di penghujung materi yang saya sampaikan di hari yang sudah makin sore ini.
Penuturan ibu Ar, seorang penjual kerajinan sekaligus pengepul eceng gondok di tepi jalan raya mengatakan, jika mendapat order maka beliau segera memesan pada tetangganya dan menjemurnya. Setelah itu menyetor eceng gondok dalam kondisi kering atau sudah dibentuk jalinan yang dijual dalam satuan meter. Ada juga yang sudah dalam kerajinan tangan, seperti furnitur, keranjang, vas, dan lain-lain. 
Saya mulai menyadari satu hal, kalau pesona Rawa Pening bukan terletak pada keindahannya saja, tapi bagaimana kebermanfaatannya bagi banyak orang. Tentang bagaimana ia bisa mendukung perekonomian, mempertahankan lingkungan agar tetap terjaga, membangun kerja sama, mempererat silaturahmi, juga menjaga komitmen bersama.

Saya, dan seisi ruangan itu mungkin hanya menjadi tombak ide dan diskusi saja. Karena untuk merajut masa depan Rawa Pening butuh uluran setiap tangan yang sedia terlibat. Demi Rawa Pening yang tetap damai, juga menghidupi orang-orang di sekitarnya. Rawa Pening butuh kita semua, dan alasan-alasan kenapa banyak orang ingin melihatnya lagi agar tetap menjadi cerita.
Sebahagia itu di Rawa Pening
Bersama 24 orang lainnya dalam kelompok survei

Regards,
OS


Sumber foto: dokumentasi pribadi

1 komentar:

  1. Dulu saya sering ke sini mbak, setelah ada yang cerita pernah dilihatin ular naga bermahkota saya jadi takut. Walaupun sempat bikin saya ngeri, tapi menurut saya itu hoax karena gak ada cerita-cerita yang aneh-aneh tentang rawa pening lagi...Tfs mbak... :)

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.