Rabu, 11 Desember 2013

Scribbles of Maple







“Kopi akan terasa pahit jika tidak tahu bagaimana cara menikmatinya”
 
Selasa pagi (3/9) kali ini sepertinya akan sama dengan hari-hari sebelumnya. Embun dingin membasahi wajahku yang belum sempat dibasuh. Sepenggal pesona alam terlintas begitu saja.  Binatang kecil yang berkicau, beramai-ramai menyusuri pepohonan sebagai magnet alam ini. Kesempatan untuk menghirup kembali kesejukan udara dipagi hari benar-benar aku nikmati. Karena ketika asap kendaraan mulai menguasai atmosfer, aku tahu, aku takkan merasakannya lagi. 

Ketika fajar masih menyelimuti kota ini, aku bisa menerawang langit yang sedari tadi ditemani bintang kejora. Disaat ia mulai menyingsing, aku yakin, hanya segelintir orang yang ingin menyapa langsung “tuan matahari” yang duduk manis “di pelatarannya
Namun aku tak bisa berlama-lama disini sekedar untuk menyapa alam. Waktu yang terus bergerak memaksaku bergegas menuju tempat “manusia super sibuk” di bumi melanjutkan pendidikannya.  Kuda besi yang biasa aku tunggangi melaju kencang dengan jarum speedometer menunjukkan angka 60km/jam, dipadu dengan kepadatan jalanan. 
 
Dengan waktu relatif singkat, aku tiba ditempat yang memberikan pelayanan pendidikan, pengajaran dan keterampilan melalui berbagai proses dan pasti banyak ilmu baru yang akan aku terima hari itu. Namun siapa sangka, sekolah yang notabene-nya tempat menuntut ilmu pun dijadikan ajang gengsi dan obral polularitas. Sibuk dengan dunia sendiri dan mengesampingkan arti perjuangan pemuda-pemudi gagah berani tempo dulu. Mengabaikan hak-hak negara yang mestinya dipenuhi bersama oleh anak bangsa. Malang sekali nasib ibu pertiwi ini, ketika ia sudah tua dan butuh uluran tangan generasi muda, mereka malah terbuai dalam kekayaan yang fana, dimanjakan dengan gadget-gadget super canggih ala abad 20 ini.

Ketika matahari mulai merangkak dari ufuk timur dan membentuk posisi horizontal terhadap muka bumi, disaat itulah bel pulang sekolah terngiang ditelingaku, dan lagi-lagi aku terjebak dalam lautan manusia penuh sesak dijalanan.

Lampu di perempatan jalan masih setia dengan warna merahnya, ketika seorang anak kecil dengan tumpukan koran ditangannya yang mungil menghampiriku. Hanya sisa-sisa rasa lelah yang tergambar dari raut wajahnya yang kusam dan tubuh yang masih dibalut dengan seragam merah putih. Sugesti dari otak kanan menuntunku untuk menepi, melangkah menuju trotoar disepanjang jalan gubernuran itu.

Aku mengajaknya berbicara banyak hal, dan dari situlah, sejumput aktivitasnya terpampang jelas diingatanku. Ilham (10), seorang anak laki-laki yang masih terlalu dini untuk mengenal kerasnya hidup. Ibunya yang hanya seorang penjual jagung tidak sekedar mengajarkan pendidikan formal, namun juga arti kehidupan.

Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, tidak seharusnya ia memaksakan diri berjemur ditengah radiasi matahari demi mengumpulkan sekelumit rupiah. Apalagi sejak kepergian ayahnya tempo lalu, Ilham terbiasa hidup mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain, ia berani menghadapi “Elnino dimusim kemarau”. Apa yang ia lakukan hanyalah untuk mencoba bertahan hidup seperti “bluebells dimusim dingin dan bluebird dimusim panas”.  

Cuaca yang sedikit ekstrim tak melunturkan semangatnya untuk menjajakan koran kepada pengendara di perempatan jalan, tempat ia biasa mengais rezeki. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan, mengingat kehidupannya yang sederhana, uang sejumlah Rp31.000,00  itu pun diberikan kepada sang ibu. Walau tidak seberapa, tapi aku yakin, tidak semua anak di negeri ini bisa seperti Ilham, mengartikan hidup lebih sederhana. Memang tidak setiap hari dagangan korannya laku, bahkan ketika lampu lalu lintas padam dan para pengendara berlalu lalang seenaknya, ia memilih untuk beralih ke tempat yang jauh lebih baik.

Untuk usia yang masih dini, wajar jika sewaktu-waktu ia ingin seperti teman-temannya, menghabiskan masa kanak-kanak dengan bermain. Namun ketika senja mulai berganti malam dan rasa lelah menghujam tubuh, ia masih menyempatkan diri untuk meringankan pekerjaan ibunya dirumah. Menimba di sumur demi mendapatkan air sudah biasa dilakukan. Siapa sangka, disela-sela kesibukannya, ia masih meluangkan waktu khusus untuk menggali ilmu demi masa depan.

Awan cerah yang perlahan berubah mendung menggelayut, mendesakku untuk segera pulang ke rumah, ketika itu pula jalanan terlihat semakin lengang.  “ Memangnya nggak gengsi ya jualan koran seperti ini, Dik? ” tanyaku dengan antusias. “ Kenapa harus gengsi, kak? Sudah biasa kok   balasnya sambil tersenyum kecil.

Kehidupan Ilham yang sederhana mengajarkanku banyak hal, agar tidak ada lagi buku” yang tercecer. Karena mungkin saja ada “debu” yang menutupi keyakinan dalam  rak buku kehidupan, menyepelekan arti perjuangan dan menganggap keberhasilan semata-mata hanya keberuntungan, tetapi sebenarnya terselip sebuah pengorbanan. 


Ilham, teruslah  hidup layaknya Daun Maple yang tidak memiliki klorofil tapi tetap bertahan hidup dan memberikan warna disetiap mata yang melihat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.