Selasa, 31 Maret 2020

Kita, jadilah bijak bestari untuk keutuhan ekosistem di Papua

“Kalau Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, lalu saat tanah Papua lahir Tuhan sedang apa ya? Barangkali saat nonton film rating 9 di Netflix sambil makan popcorn alias mood sedang sangat baik”

Merekam ulang perjalanan di Jayapura
Saya selalu menerka seperti apa tanah Papua, yang kata orang-orang elok menawan, juga eksotis rupawan. Ternyata di bulan Oktober 2019 saya diizinkan melihatnya. Di malam pukul 23.45 dari terminal keberangkatan Soekarno Hatta, saya dan rekan-rekan kerja melangsungkan perjalanan dinas ke Kota Jayapura, Papua. Rasanya seperti menjemput kado saat ulang tahun di usia balita. Sumringah tak terlepas sejak saya meninggalkan Jakarta sambil menantikan sunrise pertama di atas awan. Ya walau pada akhirnya sudah bisa ditebak, rasa kantuk bagi saya adalah lebih besar daripada apapun hahaha. Jadi saya mengalah saja, tidak apa-apa jika harus melewatkan sinar matahari yang muncul menerangi penumpang melalui celah-celah jendela. Toh nanti akan ada pemandangan alam yang bisa dinikmati lebih banyak lagi.

Logat khas orang Papua asli adalah yang pertama kali bisa saya rasakan setelah mendarat dengan cantik di Bandara Sentani. Udara sejuk di pagi hari adalah yang kedua. Yang ketiga, peringatan untuk tidak kemana-mana jika waktu sudah di atas jam 8 malam, karena katanya akan ada orang mabuk di tengah jalan dan membahayakan. Ya itu adalah salah satu cerita dari Bapak supir di sepanjang perjalanan menuju penginapan. Selama melewati jalan yang mirip dengan Kelok Sembilan, saya memandangi bukit-bukit hijau dan pepohonan yang terbentang merata, bahkan sapi di tanah berumput ikut melengkapinya.
Kenapa jadi lebih mirip Harvest Moon Back to Nature ya?

Tidak hanya itu, kami juga menyempatkan diri menuju puncak Jayapura City sehabis beberes di hotel. Kalau saya diminta memberikan deskripsi, pesonanya kira-kira seperti perpaduan dari atas Puncak Sikunir Dieng dan Bur Telege Takengon. Tinggi dan menawan. Benar kata kebanyakan orang, Papua itu elok rupawan. Laut luas dan bukit-bukit hijau yang menghimpit permukiman di Kota Jayapura memecahkan dugaan saya: kalau Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, lalu saat tanah Papua lahir Tuhan sedang apa ya? Barangkali saat nonton film rating 9 di Netflix sambil makan popcorn alias mood sedang sangat baik.
Pemandangan dari hotel menghadap ke Teluk Yos Sudarso
sumber: dokumentasi pribadi 
Pemandangan dari puncak Jayapura City
sumber: dokumentasi pribadi 
Wajar saja jika yang saya temukan selama perjalanan di Kota Jayapura adalah bukit-bukit hijau dan pepohonan rimbun. Ternyata 38 persen hutan primer yang tersisa di Indonesia berada di Papua (tahun 2012). Beragam jenis pohon yang tumbuh liar di hutan hijau terbentang luas di Papua dan Papua Barat. Hutan yang lestari di Papua adalah napasnya Nusantara. Beberapa media menyebutkan, Papua menjadi harapan terakhir bagi hutan Indonesia yang utuh akibat kondisi tutupan hutan yang semakin berkurang di Sumatera dan Kalimantan.

Suatu hari nanti untuk perjalanan ke Taman Nasional Teluk Cendrawasih
Suatu hari nanti, saya ingin ke tanah Papua lagi, mengenal lebih luas tempat-tempat yang belum pernah dipijaki. Seperti yang paling memikat hati sejauh ini: Taman Nasional Teluk Cendrawasih.
Jika saat itu saya dapat menikmati pesona bukit-bukit hijau yang membentang di Kota Jayapura, maka suatu hari nanti saya ingin melakukan perjalanan ke Taman Nasional Teluk Cendrawasih. Bukan hanya hutan hijau yang bisa saya temukan di sana, tapi kekayaan alam yang penuh keeksotisan. Faktanya, Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) dengan keanekaragaman hayati yang unik menyajikan perwakilan 1ekosistem terumbu karang dan ikan hiu paus, 2pantai mangrove, 3hutan tropika dan daratan Pulau Papua yang indah.

1ekosistem terumbu karang dan ikan hiu paus
Taman nasional yang meliputi Pulau Mioswaar, Pulau Nusrowi, Pulau Roon, Pulau Rumberpon dan Pulau Yoop merupakan lokasi yang memiliki spesies ikonik “Gurano Bintang”. Walaupun saya tidak bisa berenang bebas di tengah laut lepas, keinginan untuk melihat cantiknya Gurano Bintang si ikan hiu paus masih dipupuk hingga kini. Keindahan perairan di TNCC juga kaya akan berbagai jenis ikan dan hewan laut, dilengkapi terumbu karang yang luas dengan kualitas terbaik di dunia. Terdapat lebih dari 500 jenis spesies terumbu karang dengan Pulau Purup dan Selat Numamurang sebagai tempat terbanyak ditemukannya keanekaragaman hayati. Saya janji, tidak akan memaksakan kondisi jika suatu hari nanti tidak bisa mengunjungi terumbu karang yang warna-warni, karena saya tahu kalau tempat ini adalah rumah bagi banyak populasi.  
Ekosistem Terumbu Karang dan Ikan Hiu Paus di TNCC
sumber: greenpeace//wondamakab.go.id
2pantai mangrove
Taman Nasional Teluk Cendrawasih membentang dari timur Semenanjung Kwatisore sampai utara Pulau Rumberpon dengan panjang garis pantai sekitar 500 kilometer. Di sana dapat ditemukan hutan/vegetasi mangrove di pesisir pantai. Terbayang di benak saya saat Shizuka berkunjung ke Hawaii di musim panas. Di daerah pantainya juga terdapat berbagai jenis penyu yang akan menambah keutuhan nuansa tropis kawasan ini.
3hutan tropika dan daratan pulau
Tidak berhenti di situ saja, keanekaragaman ekosistem di Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang berada di 5 wilayah dan 2 provinsi yaitu Papua dan Papua Barat menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna. Ada yang dilindungi, dan ada yang tidak. Di kawasan ini kita bisa melihat bahwa Papua adalah destinasi wisata hijau karena terdapat lebih dari 50 jenis vegetasi daratan pulau mulai dari hutan pantai sampai vegetasi hutan pegunungan daratan pulau (ketinggian 467 mdpl).
Hutan Tropika dan daratan Pulau di TNTC
sumber: wondamakab.go.id
Seperti Raline Shah yang tidak sengaja bertemu dengan ikan hiu paus pertama kali, saya juga ingin ke sana, menyapa mereka dari atas kapal: “hai salam kenal”. Semoga waktu yang baik akan berpihak ya!

Bijak Bestari untuk Taman Nasional Teluk Cendrawasih
Keutuhan ekosistem di kawasan Taman Nasional Teluk Cendrawasih adalah hal yang tidak bisa diganggu gugat. Banyak yang menjadikannya rumah. Tidak hanya flora dan fauna, tapi juga masyarakat lokal yang hidup di sekitarnya, memanfaatkan sumberdaya alam untuk keberlangsungan hidup mereka. Bahkan TNTC memiliki fungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, menunjang pemanfaatan lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, serta untuk dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan, juga menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (sumber: situs resmi Kab Wondama).

Menjadi bijak demi menjaga keutuhan ekosistem TNTC dilakukan karena ada beberapa ancaman yang mungkin terjadi, seperti: 1kehilangan tutupan pohon, 2kerusakan terumbu karang akibat pendangkalan, 3air laut tercemar karena sampah plastik, 4terjadi polusi di perairan akibat tumpahan minyak kapal, bahkan 5kehidupan biota air bisa terganggu karena eksploitasi penambangan emas. Saya tidak bilang kalau semua itu adalah ulah-ulah manusia, tapi mungkin bisa terjadi karena aktivitas di kawasan taman nasional dan sekitarnya sangat rentan terhadap keutuhan ekosistem. Entah kapan saya dan kita semua akan punya kesempatan ke sana, mungkin besok atau 20 tahun lagi, tapi keindahannya saat ini tidak akan bisa kita nikmati jika tidak menjadi bijak dari sekarang. Kita bisa ikut terlibat jika mau. Seperti halnya yang dilakukan Eco Nusa Foundation, organisasi non-profit yang bertujuan mengangkat pengelolaan sumber daya alam berkeadilan dan berkelanjutan di Indonesia dengan memberi penguatan terhadap inisiatif-inisiatif lokal.
sumber: EcoNusa
Eco Nusa Foundation fokus pada komunikasi antara pemangku kepentingan di Indonesia Timur (Tanah Papua dan Maluku). Perlindungan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam dilakukan melalui 10 program. Bahkan EcoNusa menyoroti kesadaran masyarakat menjaga lingkungan sebagai sudut yang penting. Di satu aspek, “Letter from the Ocean” pernah diikutkan untuk gerakan kelautan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Di sisi lain, EcoNusa juga turut melindungi hutan untuk penghidupan berkelanjutan dan iklim global melalui gerakan #BeradatJagaHutan. 
sumber: EcoNusa 
Ohya! Saya dan kamu bisa turut melakukan aksi serupa, yaitu bergabung sebagai sukarelawan atau magang di EcoNusa dengan cara berkirim pesan lewat website mereka. Menarik ya?

Bagi saya, Taman Nasional Teluk Cendrawasih adalah gambaran dari wajah Papua. Di sana adalah rumah bagi banyak spesies, flora dan fauna, juga masyarakat lokal. Kekayaan alamnya terbentang dari pulau satu ke pulau yang lain, ada perairan pun daratan, ada hutan juga lautan, ikan sampai burung elang bisa ditemukan.
Kita, jadilah bijak bestari dan manfaat untuk sekitar, supaya keutuhan ekosistem di sana selalu terjaga untuk Papua napasnya Nusantara, karena Papua itu Indonesia.
Artikel ini diikutkan dalam lomba Wonderful Papua
#BeradatJagaHutan #PapuaBerdaya #PapuaDestinasiHijau #EcoNusaXBPN #BlogCompetitionSeries


Sumber pendukung:
Eco Nusa
WRI Indonesia
WWF Indonesia
Green Peace Indonesia
Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Situs resmi Kab Wondama (www.wondamakab.go.id)

2 komentar:

  1. "Selama melewati jalan yang mirip dengan Kelok Sembilan, saya memandangi bukit-bukit hijau dan pepohonan yang terbentang merata, bahkan sapi di tanah berumput ikut melengkapinya."

    aaakkk jadi bikin rindu tanah papua! :"""

    BalasHapus
  2. Sampe sekarang belum pernah jalan-jalan ke Papua. Padahal ada saudara di sana.

    T_T

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.