Senin, 09 Maret 2020

Fagetti Marmer: jawaban kebutuhan rumah impian minimalis bagi milenial

Beberapa waktu lalu, saya hanya menjadi penonton atas cuitan di media sosial yang mengusik para milenial. Sebut saja akun-akun konsultan keuangan yang dianggap sebagian orang memunculkan insecure karena membahas informasi seputar keuangan, mulai dari gaji, lifestyle, financial planning, investasi, sampai aset yang dimiliki. Kehadiran akun-akun seperti ini menjadi pro-kontra bagi pembaca, ada yang bilang kalau informasi yang diberikan mampu menjawab kebutuhan pengetahuan finansial bagi anak muda karena mendorong masyarakat lebih melek finansial. Namun ada juga yang menganggap bahwa mereka lebih sering melakukan fear-mongering atau kampanye dengan menjual rumor dan ketakutan untuk memengaruhi pendapat dan tindakan publik terhadap suatu tujuan/keputusan akhir (dikutip dari Wikipedia).
Sebetulnya pro-kontra yang muncul, kembali lagi pada pandangan masing-masing individu tentang bagaimana harus menyikapi fakta yang dibagikan. Sah-sah saja jika banyak yang tidak menerimanya, barangkali karena menyangkut kesiapan milenial dalam melanjutkan hidup ke jenjang yang lebih tinggi, atau mungkin sedang berada dalam fase bernama quarter life crisis, siapa yang tahu? Mari sama-sama bersikap bijak.

Tren memiliki rumah bagi milenial
Membahas soal informasi seputar finansial, hal yang paling menarik adalah saat ditanya mengenai apa aset yang sudah kamu miliki saat ini. Investasi dan rumah adalah aset yang popular di kalangan milenial. Segmen pasar properti beberapa tahun belakangan menunjukkan tren peningkatan (www.btnproperti.co.id). Dari survei yang dilakukan Rumah.com yaitu Consumer Afordability Sentiment Index, sebanyak 55 persen responden menyatakan memiliki rencana untuk membeli rumah di tahun 2019. 
Fun fact: sebagian besar responden yang menyatakan minatnya untuk membeli rumah berasal dari kalangan milenial.
Ada apa dengan milenial dan tren untuk memiliki rumah sendiri?
Generasi Milenial – atau Generasi Y, yang disebutkan oleh mayoritas peneliti serta ahli demografi sebagai generasi yang lahir pada dalam rentang tahun 1980-an hingga awal tahun 2000 merupakan generasi unik yang lahir di tengah-tengah pertumbuhan internet dan kemudahan informasi. Kelompok umur ini diidentifikasi memiliki karakter yang lebih kritis dan sangat dekat dengan teknologi. Walaupun karakteristik milenial berbeda-beda karena tergantung wilayah, kondisi sosial ekonomi, hingga pola hidup tiap individunya, namun ada karakteristik serupa yang dapat dikaitkan dengan tren memiliki hunian saat ini.  

Milenial adalah generasi kreatif dan cepat yang memanfaatkan perubahan dan peluang yang ada. Mereka (termasuk saya juga sih) saat ini sedang berada dalam Era Disrupsi atau era yang diramaikan dengan munculnya berbagai inovasi dalam teknologi digital serba canggih maupun dalam lingkup hidup sosial sehari-hari. Di era ini, sistem konvensional mulai ditinggalkan. Semua beralih menjadi online, entah itu sarana transportasi atau media massa sekalipun. Orang-orang gemar memulai sesuatu yang sifatnya anti mainstream dan tentunya tidak berbelit-belit.
Milenial merasa kemudahan-kemudahan yang ditawarkan dalam pembelian properti dan ketersediaan berbagai insentif menjadi faktor yang mendorong tingginya minat untuk membeli rumah. Katanya lagi, pembeli rumah pertama yang adalah milenial merupakan segmen pasar yang paling tertarik untuk memiliki hunian di kawasan dengan kemudahan akses transportasi.

Sampai di sini make sense berarti ya? Ada faktor kemudahan dan peluang yang dilirik oleh milenial.
Lagi kata Chairman CT Corp Chairul Tanjung dalam sebuah artikel, saat ini kita mengalami dua disrupsi yang luar biasa yaitu bidang teknologi karena revolusi industri 4.0 dan gaya hidup karena adanya perubahan generasi.
Fun fact:Tren pengeluaran masyarakat Indonesia per bulan pada 2014 paling banyak dihabiskan untuk keperluan bukan makanan, yaitu persentase terbesar untuk membiayai perumahan dan fasilitas rumah tangga, lainnya adalah kebutuhan barang dan jasa. Padahal sebelum tahun 2007, porsi belanja masyarakat lebih banyak dihabiskan untuk membeli makanan.
Sumber: databoks.katadata.co.id
Sekali lagi, mohon garis bawahi dan beri highlight: membiayai perumahan dan fasilitas rumah tangga. Dari fakta tersebut dapat digambarkan kalau gaya hidup masyarakat mulai beralih dari “yang mengedepankan perut” jadi lebih “memikirkan ketahanan atap rumah dan kenyamanan di dalamnya”. Ya nggak sih? Masyarakat mulai menilai bahwa memiliki rumah dan membiayai fasilitas rumah tangga adalah kebutuhan yang penting.

Rumah minimalis, impian bagi milenial
Memiliki hunian lewat KPR memang merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh bagi milenial, tapi bagaimana kalau mencoba untuk membangunnya sendiri? Mulai dari interior, kepemilikan lahan, sampai bahan material diatur dan ditata sendiri sesuai selera pemiliknya. Hal ini merupakan salah satu kelebihan dari memilih membangun rumah sendiri dibandingkan membeli rumah sudah jadi dari developer.

Tentu menjadi tantangan tersendiri, ya namanya juga impian kan. Tapi nggak apa-apa, tidak ada yang salah dari bermimpi. Mari mewujudkannya pelan-pelan.
 
Dari sumber yang saya dapatkan, ada baiknya sebelum membangun rumah, perhatikan beberapa hal agar rumah yang diimpikan bebas sengketa dan nyaman untuk ditinggali (https://kpr.online).
Caranya adalah: Pertama, tentu saja siap lahir batin alias ada dana cukup yang menyokong pembangunan rumah. Kedua, pastikan bahwa lahan yang akan dibangun bebas sengketa. Selanjutnya, jangan lupa untuk mengantongi IMB dan perizinan yang berkaitan. Setelah itu, baru eksekusi membangun rumah bersama tukang yang sudah ahli. Nah bagian eksekusi ini menjadi sangat krusial karena harus hati-hati memilih desain interior dan bahan material yang dibutuhkan. Bagi saya, rumah impian yang terpikirkan adalah rumah minimalis modern, nggak tau ya kalau Anda ehe ehe. 

Rumah impian yang saya maksud adalah rumah dengan desain yang hanya menggunakan kebutuhan paling mendasar dan menekankan pada hal-hal bersifat esensial dan fungsional. Arti minimalis cukup membuktikan kalau luas lahan rumah tidak perlu sampai 6000 m2 seperti rumah impian versi Dodit Mulyanto yang ada di lereng gunung, lengkap dengan peternakan ayam, kuda-kuda, sampai hamparan rumput hijau. Oh sungguh tidak perlu begitu dong.

Yang menjadi pe-er di sini adalah bagaimana membangun rumah dengan desain arsitektur minimalis namun modern. Tentu saya ini bukan lulusan arsitektur yang memahami seluk-beluk dan tindak-tanduk sebuah hunian, tapi saya mencoba menelusuri contoh hunian gaya modern yang bisa diwujudkan dengan bantuan bahan material berupa marmer. Ya marmer. Anda tidak salah baca. 

Kenapa marmer?
Marmer merupakan batuan alami yang termasuk jenis batuan malihan. Permukaannya yang mengkilap dengan corak alami yang cantik, menjadi alasan mengapa marmer dipilih sebagai bahan yang sangat popular di kalangan masyarakat. Tampaknya marmer akan membantu rumah minimalis memiliki kesan mewah. Harus diakui kalau marmer adalah bahan material yang cukup mahal, jadi saya pikir marmer digunakan di dinding dapur saja untuk melengkapi interior modern. Beberapa gambar menarik berikut ini saya cuplik untuk ilustrasi rumah impian milenial.

3 alasan kenapa Fagetti Marmer menjadi jawaban kebutuhan bahan material rumah impian
Batu marmer merupakan salah satu bahan material untuk pembangunan rumah yang sudah banyak digunakan pada hunian modern. Tidak hanya menjadi material untuk lantai, marmer juga dapat digunakan untuk pelengkap perabot rumah tangga seperti meja makan dan dinding dapur. Tapi yang jadi persoalan adalah, marmer mana yang bisa menjadi jawaban kebutuhan bahan material untuk rumah minimalis? Kira-kira marmer mana yang terjamin kualitasnya dan terpercaya dapat memenuhi keinginan pemilik hunian?

Setelah riset, saya menemukan Faggeti Marmer sebagai jawabannya. Tentu karena 3 alasan ini:
Alasan 1: Fagetti merupakan perusahaan marmer dengan jenis marmer terlengkap, terpercaya, dan memiliki kredibilitas tinggi 
PT. Fajar Gelora Inti atau Fagetti merupakan produsen marmer dan batu alam yang didirikan oleh Ferdinand Gumanti sejak tahun 1986 dan telah memiliki koleksi lebih dari 900 jenis batu alam. Dengan waktu yang cukup lama berkecimpung dalam industri marmer, Faggeti membangun branding yang tidak tanggung-tanggung: menjadi supplier marmer utama di Indonesia.
Faggeti dipercaya untuk bekerja sama dengan mega proyek seperti Park Hyatt – MNC Media Tower, Menara Astra – BOD Area, Intercontinental Hotel Pondok Indah, Arkadia Tower Blog G dan PIK Office. Dan proyek lainnya seperti Jakarta Box, Kota Kasablanca 3, Mangkuluhur City, Eka Hospital Cibubur, Graha Binakarsa dan Green Sedayu Apartment.
Alasan 2: Fagetti Marmer memiliki kualitas premium serta warna dan corak eksklusif
Fagetti menciptakan jenis marmer dengan kualitas tinggi, serta warna dan motif bervariatif. Hal ini didukung oleh teknologi canggih yang dapat menghasilkan permukaan marmer yang halus seperti sutra hingga tekstur kasar yang dipahat. Faggeti Marmer mampu memenuhi keinginan para arsitek, product designer, juga pelanggan dengan detail dan ukuran yang sangat presisi. Bahkan sebelum digunakan, marmer yang dihasilkan harus melalui uji kekuatan dan kualitas terlebih dahulu. Jadi tidak dapat diragukan lagi kalau “karya yang rapi dan estetik” melekat pada marmer kelas premium ini.
Beberapa marmer dan batualam yang diproduksi oleh PT. Fajar Gelora Inti antara lain Marmer Putih, Marmer Statuario, Granit, Travertine, Limestone, Quartzsite, Silverstone, Basalt, dan Onyx. Ya Onyx. Jenis batu marmer keluaran Fagetti. Bukan pemilik blog ini dong tentu. 

Alasan 3: Material Fagetti marmer mewah yang memesona
Guratan cantik pada permukaan marmer Fagetti dapat menimbulkan kesan eksotis yang mewah. Marmer Fagetti dipenuhi mineral yang berkilau dan mampu memberikan nuansa ketenangan. Dari tampilannya yang elegan dan cantik, Fagetti marmer sangat cocok digunakan pada hunian-hunian modern karena karakteristiknya yang kokoh. 

3 alasan di atas adalah yang menguatkan saya untuk memilih Fagetti Marmer dalam memenuhi rumah impian minimalis versi milenial. Dengan Fagetti Marmer, dapur idaman yang saya impikan tidak mungkin akan berubah kusam dan tentu akan selalu berkilau. Emang sih harganya bisa tiga kali lipat dibanding material keramik biasa. Ya nggak apa-apa mahal, karena untuk mendapatkan sesuatu yang berkualitas, kamu memang harus mengeluarkan yang lebih kan?

Artikel ini diikutkan dalam Fagetti Blog Competition #Fagetti #MarmerTerbaik #MarmerFagetti #FagettiWold.


Sumber Pendukung: 
www.fagetti.com/blog 
www.rumah.com/ 
www.99.co/
www.idntimes.com/
www.situsnesia.com
databoks.katadata.co.id/
www.btnproperti.co.id/
www.aca.co.id/
kpr.online/
www.hipwee.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.