Saya
ingat, belakangan ini banyak keluarga dekat bertanya: "kapan berangkat"
Dan
ya! Spontan saya menjawab: "oh..masih lama". Besok, kemudian lusa,
satu minggu, dua minggu. Bahkan masih saja ada menanyakan hal yang sama. Saya
masih merasa keberangkatan itu belum didepan mata.
Iya,
saya menganggap hal itu biasa. Hari pasti berlalu, kan? Kecambah yang kemarin
ditanam pasti bertambah usia, kan? Itu yang saya pikir. Tapi ternyata ada yang
salah. Bukan waktu yang berlalu begitu cepat, bukan rasa ingin pergi yang
selalu mendesak, tapi ada rindu yang datang disaat yang salah. Saya rindu
untuk pulang, saya rindu berkumpul dengan orang-orang yang sebelumnya saya
anggap menyebalkan, saya rindu menikmati masakan seorang wanita yang selalu
mengomeli saya, saya rindu malam-malam yang menyenangkan: saat dimana tawa bisa
meledak seketika bahkan berulang-ulang, saya rindu mendekap senyum mereka, saya
rindu semua sudut rumah, saya rindu rasa aman dan nyaman saat saya terlelap
dalam gelap dan rasa lelah, saya rindu sosok yang selalu mengerti apa yang saya
butuhkan. Apa perlu saya beritahu semua rasa rindu yang berlebihan ini?
Pergi
untuk kembali. Iya, saya tahu itu. Tapi untuk berapa lama? satu jam? dua hari?
Berminggu-minggu? Atau sampai rasa rindu ini kadaluarsa?
Saya
pikir ini hanya omong kosong! Keluhan para pendatang yang meramaikan sosial media,
saya pikir ini adalah hal yang mudah untuk dilewati. Tapi ternyata... ah
entahlah.
Doa
kecil ini hanya bisa saya gantungkan diatas langit-langit, agar terus
terlihat dan tak lupa untuk saya ucapkan, siang dan malam.
Bahkan
saya selalu ingin menyempatkan diri untuk bertemu senja, menyampaikan rindu dan
kata-kata kepada mereka bahwa :
“Alone like a bluebell, waiting for the bluebird to
come, and against me with the warmth of its love,
forever more” –Rizky Amallia
Setangkai
bluebells yang menunduk malu ternyata menjadi latar jendela berembun dikamarku.
Padahal musim untuk para bunga lonceng ini bermekaran sudah tiba, tapi yang aku
lihat ia hanya sendirian, menikmati suasana kota yang ramai dipenuhi oleh
sekawanan manusia yang sedang mengadakan festival tahunan. Entahlah, tidak bisa
dipastikan apakah ia benar-benar menikmatinya atau sedang menunggu kedatangan
bluebells-bluebells yang lain.
Sementara
itu disurat kabar diberitakan tentang seorang pendaki gunung yang konon
tersesat setelah melihat manusia kerdil di ujung lembah atau seorang manusia
yang masih bertahan hidup dengan penyakit lamanya-kanker paru-paru-. Tak ada
yang menarik. Bahkan dimusim ini begitu banyaknya objek yang bisa dilihat, tapi
bagi pria berkumis tipis ini, berdiam diri di dalam kamar adalah pilihan
terbaik.
Sambil
menatap nanar keluar jendela, ia menyeruput segelas kopi pahit ditemani
sejuknya embun pagi. Berulang-ulang bayangan seorang gadis melintas
dipikirannya.Sesekalilelaki
yang biasa disapa Mr.Potato inimelirik
bingkai foto berhias kerang putih yang terpampang di atas meja. Dirinya dan
malaikat yang manis. Ada pesona senja yang cantik disana, dengan
rangkaian bunga tulip berbentuk angka 18.
“Oh,
jadi laki-laki yang sudah tiga tahun terakhir hilang, ternyata berlibur ke city
of Windmill ?”. Ternyata ada seorang wanita yang sedari tadi memperhatikan apa
yang sedang dilakukannya. Tapi jujur saja, ia sudah tahu kedatangannya
kemari.
“Kapan
kau tiba disini? Tadi malam? Tapi aku tidak lihat seorang pun di apartmentmu.”
Lagi-lagi
ia mengusik kediamanku!
Pertanyaan
basa-basinya tak digubris sama sekali. Tatapan pria itu kosong, sementara
teriknya siang hari mulai memasuki ruangan melalui celah ventilasi. Ternyata
wanita itu masih saja tak berubah, selalu mengintrogasi hal-hal tak penting.
“Wow,
apa aku ketinggalan sesuatu? Sejak kapan kau punya ini?” katanya sambil
menunjuk pohon sakura kecil di sudut kamar.
“Hmm...kau
baru saja dari Jepang? Mengapa tak pernah mengabariku?” Mr.Potato membiarkan
wanita itu berceloteh panjang lebar, seolah-olah tidak ada lawan bicara.
Kemudian ia mengambil sepucuk kertas dari pohon sakura kecil itu. Tingkahnya
benar-benar merusak suasana.
“Teruntuk
bluebells,
Aku
tidak tahu apa yang sedang kau tunggu, mungkin seorang teman yang ingin memetik
kemudian merawatmu dengan penuh cinta. Aku hanya berharap kesendirian yang kau
rasakan berakhir secepatnya.
Seperti
aku yang dulu pernah merasakan kesepian tak berujung, hidup seperti nyawa yang
segan untuk mati. Tapi kemudian seseorang yang penuh arti hadir secara
cuma-cuma dalam hidupku, lalu seperti daun Ek yang menyisir ke lautan, ia
hilang dan tak pernah kembali.”
“Tidak
untuk yang itu! Jangan sentuh apapun yang ada dikamarku!” Spontan lelaki
berusia 20 tahunan itu berteriak karena sempat membaca harapan yang selalu
disimpan rapi disetiap ujung pohon sakura.
Pria
itu menatapnya tajam, seperti menyimpan masa lalu.
“Jadi
siapa dia?” Wanita itu balas dengan tatapan yang sama sinisnya.
“Kau
tidak perlu tahu soal itu, Anne!” Kemudian ia berlalu, kembali menatap ke arah
luar jendela.
“Kemarin
kasus pembunuhan George telah terungkap, dan pelakunya adalah Stefanus,
bukankah itu rekan lamamu? Berhati-hatilah karena kabarnya kau adalah target
berikutnya.” Anne berusaha mengalihkan.
“Bukankah
itu berita baik? Aku juga sudah muak hidup setengah mati dengan kanker ini, tak
ada yang bisa aku lakukan selain menunggu.” Tangan kirinya diselipkan ke dalam
saku, berusaha bersikap tenang.
“Tapi...aku
tidak mau itu terjadi.” Wanita itu menambahkan.
“Maksudmu?”
“Aku
ingin menjadi bluebells yang lain.” katanya lagi.
Pria
berbaju hijau pupus itu diam, berusaha mencerna kalimat yang ia ucapkan.
“Mungkin
ini mengejutkan, tapi jujur, selama kau pergi, aku merasakan kehilangan yang
sangat mendalam. Aku berharap kau mengerti.”
Apa
yang diingankannya?!
“Aku
hanya tidak mau terlambat lagi.” Kalimat yang dilontarkan Anne semakin tidak
masuk akal, pria itu masih saja tidak paham. Entahlah, hal yang tidak jelas
berkecambuk dalam hatinya.
Keduanya
diam, tak seorang pun berani memulai pembicaraan. Keheningan memenuhi ke
seluruh penjuru ruangan yang dibalut karpet merah dan gorden yang senada.
Tak
lama itu Anne menyodorkan kotak yang dibungkus dengan kain berwarna merah
marun, persis dengan warna kesukaan lelaki itu. Tapi tetap saja, Mr Potato
memilih untuk bungkam, ia menggenggam bingkai foto yang sedari tadi dilihatnya.
“Baiklah,
jika kau tidak mau bicara. Secepatnya aku akan pergi dari sini. Besok Chand
akan melamarku, dan kami akan ke Frankland untuk pernikahan. Selamat berakhir
pekan.” Volume suaranya merendah, tidak seperti saat pertama ia berbicara di
awal pertemuan. Kemudian tersirat kesedihan yang amat sangat, air matanya
menetes menyentuh pijakan.
Wanita
itu beranjak dari tempat ia berdiri, bergegas meninggalkan apartment itu dan
tak lupa menghapus semua kenangan tentang yang baru saja terjadi.
Mr
Potato masih saja diam, ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Anne, tangan
kanannya kemudian merogoh kotak kecil yang diletakkan wanita itu di atas meja.
“Selamat
ulang tahun, Hans. Selamat tanggal 18 untuk yang kesekian kalinya, aku
akan merindukanmu.” Begitu ia membukanya, suara lembut Anne terdengar jelas
ditelinganya. Ia teringat sesuatu. Tanpa disadari, pria bermata coklat itu berlari
ke luar kamar, ia mengikuti kata hatinya.
Sosok
gadis itu ternyata masih dalam jangkauan mata, ia berjalan tanpa gairah,
seperti baru saja melepas seseorang yang berarti dalam hidupnya. Entahlah,
rasanya seperti dicabik-cabik oleh belenggu, sakit sekali.
Lelaki
itu terus saja berlari, hingga akhirnya meneriakkan sebuah nama.
“Anne!
Tunggu!”
Anne
terus berjalan tanpa arah, ia bahkan tak menyadari Mr Potato mengejarnya.
Hans
memanggilnya untuk yang kedua kali. “Anne, aku mohon.”
Kemudian
wanita itu berbalik arah menoleh ke belakang dan mendapati lelaki itu
berkeringat setelah berlari cukup lama. Ia masih diam, tidak memberi komentar
apapun.
Hans
menatapnya dalam dan menemukan mata yang sama, yang dulu selalu membuatnya
tenang.
“Your
eyes are the last thing I wanna see.” katanya memberikan jawaban.
Jadi
pada -malam-malam dimana semua manusia di rumah sudah terlelap, melepas kantuk
yang meraja, saya masih saja ada disini. Di depan layar laptop, menuliskan
sesuatu mengenai warna. Entahlah, disaat semua orang memilih untuk memejamkan
mata dan rehat sejenak, saya bahkan ingin mengumbar-umbar apa yang baru saja
terjadi atau bagaimana kedepannya.
Ada
enam warna berbeda disini. Merah, kuning, hijau, biru, nila dan ungu.
-Ayah,
sosok penuh arti dalam hidup saya, yang memberi kekuatan disaat hal tak terduga
sewaktu-waktu terjadi, yang mendekap saya penuh cinta jika melihat ada
kesedihan dari mata. Dia-lah yang kini kerap memanggil saya 'putri kecil'.
julukan
manis yang nantinya akan selalu dirindukan.
-Ibu. Walau
terkadang, seringkali memberi pengertian dengan cara yang salah, tapi bagi saya
dia-lah seorang malaikat penyejuk hati. Ibarat makanan, akan hambar jika tidak
diberi garam. Sosok wanita yang sesungguhnya kuat, memperjuangkan apa yang
terbaik untuk keluarga, memberi kehangatan pada anak-anaknya, ya! dia-lah ibu
saya yang luarbiasa!
-Abang.
Hmmm
Manusia
yang sebenarnya menyebalkan, keras kepala, egois, bla dan bla.
Sungguh!
kerap kali saya kecewa terhadapnya. Tidak bisa tegas dalam mengambil keputusan,
terkadang semena-mena dengan keadaan. Miris, bukan?
Tapi,
yang benar saja! Saya, tidak ingin kehilangan dia! sosok yang sesungguhnya
menyatukan keluarga dengan kehangatan, tempat berteduh jika panas dan hujan
menghampiri adik-adiknya.
Tidakkah
kau mengerti? bahwa ada warna hijau sebelum aku. Tidakkah kau tau bahwa
aku, kami sungguh mencintaimu? Itu caraku untuk bisa mengenalmu lebih jauh,
tidakkah kau sadari itu? Mungkin, nanti, disaat aku tidak lagi ada didekatmu,
kau adalah sosok yang paling aku cari.
-Evelin.
Adik
saya yang paling membosankan. Saya memberi pernyataan seperti itu, jelas karena
alasan.
Dialah
sosok yang -paling-keras-kepala, tidak mau kalah, selalu menganggap dirinya
benar. huh.
Terkadang
jika hati dan mulut tidak bisa diajak kompromi, saya kerap kali menyuruhnya
untuk diam, sama persis dengan suara yang dilontarkannya.
Tapi,
sungguh! saya menyayanginya lebih dari yang dia tau!
-Dina.hmm
Adik
yang sebenarnya lebih mengerti keadaan dibanding yang lain, diluar dari semua
hal negatif dalam dirinya, saya percaya bahwa nantinya dia-lah yang akan
memberi pengertian diantara kami, mendengarkan keluh kesah satu sama lain.
Sibungsu yang sebentar lagi beranjak dewasa.
tapi,
ketahuilah sayang, kakak pasti akan merindukanmu. nanti.
Mereka.
Iya mereka semua. adalah 5 warna yang berbeda.
Jika
hanya ada biru didalamnya, maka tidak akan ada pelangi.
Kita.
adalah warna-warna yang berbeda, namun akan indah jika disatukan.
Dari
sisi kamar, saya menuliskan sebuah kehidupan yang dinaungi satu atap beralaskan
kasih.
Bapa,
kiranya Kau pertemukan kami lagi satu-persatu didekatMu, menjadi keluarga yang
utuh dan penuh cinta:)
Bukan tentang tujuan hidup, jodoh,
atau masa depan.
Bukan itu semua. Karena aku juga tau,
untuk hal-hal yang terjadi, sudah ada yang mengatur : Tuhan.
Pertemanan. Terdengar klasik memang, tapi
itu yang selama ini menjadi teka-teki dan sebenarnya sudah ada jawaban. Untuk
sekian banyak orang, mereka malas memperdebatkan. Tapi tidak bagiku.
Aku ragu untuk semua pertemanan yang
sudah pernah ter-rangkai, kemudian dengan tidak sengaja menjadi sebuah cerita
lalu diikat dengan tali yang mempereratnya. Bahkan sampai
saat ini, aku masih tidak yakin.
Time passed away, and I just can't get you off my mind.
I keep on searching but I can't find you.
Terlalu banyak klise yang aku dengar dari
mulut-mulut tak terkunci: "I always remember you."
Nyatanya?
Seminggu setelah tak ada lagi perjumpaan :
"Heei...ada waktu kosong kan?kita kumpul bareng ya."
Sebulan setelah itu : "Aaa udah lama
nggak cerita,ketemuan
yuuk."
Setahun kemudian : "Halo... apa
kabar?long time no see."
Lalu bagaimana 20tahun mendatang?
Jelas aku ragu.
Dua insan yang pernah Tuhan pertemukan,
kemudian karena "salahnya" waktu, mereka tak lagi saling mengenal
baik, seperti dulu. Masing-masing sudah menjadi hal asing dalam hidupnya,
sudah lupa dengan cerita, canda tawa, tangis haru, bahkan semua hal indah yang -kabarnya- akan menjadi kenangan.
Entahlah, aku masih tidak paham.
"But, sorry ifI'm too shy to ask about you, I'm too proud to lose..
“Alone like a bluebell,
waiting for the bluebird to come, and against me with the warmth of its love, forever more” -RA
Setangkai bluebells yang menunduk malu ternyata menjadi
latar jendela berembun dikamarku. Padahal musim untuk para bunga lonceng ini
bermekaran sudah tiba, tapi yang aku lihat ia hanya sendirian, menikmati
suasana kota yang ramai dipenuhi oleh sekawanan manusia yang sedang mengadakan
festival tahunan. Entahlah, tidak bisa dipastikan apakah ia benar-benar
menikmatinya atau sedang menunggu kedatangan bluebells-bluebells yang
lain.
Sementara itu disurat
kabar diberitakan tentang seorang manusia yang masih bertahan hidup dengan
penyakit lamanya-kanker paru-paru-. Bertahan?
Omong kosong! Percuma berjuang jika hasilnya nihil! Tak ada yang menarik. Bahkan
dimusim ini begitu banyaknya objek yang bisa dilihat, tapi bagiku merokok adalah
hal yang paling me-legenda.
“Kenapa tidak ada
masalah semenarik bunga tulip yang aku lihat di Monet’s-Garden waktu itu ya?” Sambil
menatap nanar keluar jendela, tak segan bibir ini menyeruput segelas kopi pahit
ditemani dengan tiga bungkus rokok kretek.
“Oh, jadi laki-laki yang sudah tiga tahun terakhir
hilang, ternyata berlibur ke Frankland?”. Ternyata ada seorang wanita yang
sedari tadi memperhatikan apa yang sedang aku lakukan. Tapi jujur saja, aku
sudah tahu kedatangannya kemari. Pertanyaan basa-basinya tak aku gubris sama
sekali. Tatapanku kosong, sementara empat batang rokok sudah habis hingga
ujungnya.
“Kapan kau tiba
disini? Tadi malam? Tapi aku tidak lihat seorang pun di apartmentmu.” Lagi-lagi
ia mengusik kediamanku. Heh!Dasar tikus! Gerak-geriknya
membuat aku tak nyaman, bukan mulutnya saja yang tak berhenti berceloteh, tapi
tangannya pun ikut mengintrogasi benda-benda antik milikku.
“Wow, apa aku
ketinggalan sesuatu? Sejak kapan kau punya ini?” katanya sambil menunjuk pohon
sakura kecil disudut kamar.
“Hmm...kau baru
saja dari Jepang? Mengapa tak pernah mengabariku?” Aku membiarkan wanita itu
berceloteh panjang lebar, seolah-olah tidak ada lawan bicara. Kemudian ia
mengambil sepucuk kertas dari pohon sakura kecil itu. Tingkahnya membuat aku
geram, tapi berusaha mengendalikan emosi yang menggebu, karena sebenarnya aku
paham, ia hanya mengumpan.
“Teruntuk bluebells,
Aku tidak tahu apa yang sedang kau tunggu, mungkin
seorang teman yang ingin memetik kemudian merawatmu dengan penuh cinta. Aku
hanya berharap kesendirian yang kau rasakan berakhir secepatnya.
Ya, dulu aku pernah merasakan kesepian yang tak ada ujung,
hidup seperti nyawa yang segan untuk mati. Dulu temanku hanya penyakit yang
lebih buas dari singa betina, siang malam aku bersamanya menikmati hari-hari
penantian. Tapi kemudian seseorang yang penuh arti hadir secara cuma-cuma dalam
hidupku, lalu seperti daun Ek yang menyisir ke lautan, ia hilang dan tak pernah kembali.”
“Tidak untuk yang
itu, nona! Jangan sentuh apapun yang ada dikamarku!” Spontan aku berteriak
karena ia sempat membaca harapan yang selalu aku simpan rapi disetiap ujung
pohon sakura itu.
Aku menatapnya
tajam, ia seperti menjaga diri, takut kalau-kalau emosiku meledak seketika.
Sesaat ia hanya diam, tapi kemudian berkomentar.
“Jadi siapa dia?”
Ia menatapku sinis.
“Kau tidak perlu
tahu soal itu, Anne. Hidupku sudah ditakdirkan untuk sendiri hingga keganasan
penyakit yang dari dulu meronta-ronta ini berakhir.” kataku pasrah.
“Kemarin kasus
pembunuhan George telah terungkap, dan pelakunya adalah Stefanus, bukankah itu
rekan lamamu? Berhati-hatilah karena kabarnya kaulah target berikutnya.” Ia berusaha
mengalihkan.
“Bukankah itu berita
baik? Aku juga sudah muak hidup setengah mati dengan kanker ini, tak ada yang
bisa aku lakukan selain menunggu.”
“Tapi...aku tidak
mau itu terjadi.”
“Maksudmu?”
“Aku ingin menjadi
bluebells yang lain.”
Aku terdiam,
berusaha mencerna kalimat yang ia ucapkan.
“Mungkin ini
mengejutkan, tapi jujur, selama kau pergi, aku merasakan kehilangan yang sangat
mendalam. Aku berharap kau mengerti.”
Apa yang diingankannya?!
“Aku hanya tidak mau terlambat lagi.”
Aku menatapnya
dalam dan menemukan mata yang sama, yang dulu selalu membuat aku tenang.
“Your eyes are the
last thing I wanna see.” kataku memberikan jawaban.
Keraguan senja untuk
memasuki masanya tampak dikala itu, ia tidak berani memancarkan sinar oranyenya
dimuka sebuah rumah berdinding krem,
bersembunyi dibalik pohon berkayu yang tinggi. Ia kehilangan nyali.Sesekali senja yang cantik ini mengetuk pintu
lalu tak ada jawaban, ia takut, kemudian mengintip melalui celah jendela, ingin
tahu keributan apa yang sedang terjadi di dalam.
Ibu. Itulah yang saat
ini menjadi penyebab senja segan memasuki rumah kami. Apa
yang sudah terjadi? Entahlah, aku juga tak tahu pasti,
yang jelas saat aku pulang malam itu,
suasana api yang
baru saja padam sangat terasa. Jelas
berbeda dari senja-senja biasanya, yang selalu terselip cerita, yang membawa
kami satu-persatu larut dalam kehangatan, bahkan canda tawa.Inilah yang sering disebut masalah.
Aku merasa ini bukan
persoalan daun Ek yang sesekali jatuh tidak gugur langsung ke jalan setapak,
terbang jauh menyisir-nyisir udara, kadang-kadang terbang sangat tinggi,
kadang-kadang nyaris sekali menyentuh daratan. Tampaknya ini seperti hujan yang
datang bersamaan dengan rekannya, petir, kemudian menyambar-nyambar, dan
menumbangkan pohon-pohon yang lemah tanpa pondasi.
Bukan
waktu yang menjawab. Ia hanya memperingatkan seluruh manusia untuk
berjaga-jaga, kalau-kalau masih ada diantara mereka yang masih membekukan hati,
tak memberi ruang sedikit saja untuk mendamaikan keadaan.
Kemudian malamnya, aku mulai membiarkan pikiran ini diam,
tidak kelayapan untuk hal yang saat ini bukan
menjadi tujuan utama. Lama aku berpikir, mata yang hampir lelah menatap
langit-langit kamar menangkap sinar redup dari arah tenggara tempat tidurku.
Ternyata laptop yang tergeletak diatas meja masih terbuka lebar, dengan bunga
anyelir yang menghiasi latar desktop. Aku
terperangah, baru menyadari memori tentang keperkasaan bunga itu, ia mampu
menginspirasi rakyat Portugal untuk mengedepankan revolusi yang berlangsung
damai, tanpa banyak penumpasan darah, sehingga membuat kudeta terbebas dari
kekerasan. Peristiwa ini secara efektif mengubah
rezim Portugis dan menghasilkan perubahan besar pada sendi-sendi sosial,
ekonomi, dan politik. Ini jelas karena kelembutannya yang memberikan perubahan
besar dan menciptakan keadaan yang lebih baik.
Keesokan paginya kudapati mata sudah melihat pagi, menelan
sejuknya embun-embun yang setia menemani. Aku masih berdiam diri, melihat ibu
yang sedari tadi melihat kearah yang sama terus-menerus, ia melamunkan sesuatu,
matanya sembab seperti habis menangis semalaman. Aku sedih melihat keadaan ini
masih sama, hingga akhirnya kurangkul ibu penuh kelembutan, seperti Anyelir
yang tak pernah bosan menyejukkan jiwa yang baru saja terbakar. Ibu menangis,
ia menceritakan apa yang sudah terjadi kemarin, jelas mewakili hatinya yang
lesu.
“Semua akan baik-baik saja, ma. Tenanglah dan berdoa. Tuhan
tidak pernah sia-sia dengan rencanaNya.”
Aku
masih memeluknya dalam hangat, membisikkan sesuatu yang memberikan ia kekuatan.
Ibu tersenyum, ia yakin semuanya pasti akan
indah pada akhirnya, karena jika tidak indah, maka
itu bukan akhirnya. Hingga senja kembali datang, kali ini ia tidak takut lagi
menampakkan diri. Karena tahu senyuman manis yang membawa ia kembali pulang, ke
rumahku, ke hati kami masing-masing. Aku tinggalkan pintu dan menutupnya sampai
malam menjemput.