Selasa, 31 Juli 2018

Untuk Ibu, dari putrimu yang sedang berada di fase kritis

Ibu, biarkan kelak saya bisa mengajakmu kemanapun kau mau

Untuk Ibu,
Sebelumnya saya ingin bilang, kalau tulisan ini bukan supaya dibaca banyak orang. Bukan, bukan begitu, bu. Anggaplah sebagai surat terbuka, yang tidak bisa saya sampaikan langsung padamu. Kalau-kalau nanti saya lupa, saya bisa membuka halaman ini, membacanya, kemudian mengingat bagaimana saya berada di fase kritis seperti sekarang.

Ibu, pasti kau sudah tau kenapa saya sebut ini sebagai fase kritis.
Mendengar jawabmu dari seberang telepon setelah saya bilang harus bayar ukt lagi untuk perpanjangan skripsi, napasmu berat. Tentu sudah saya prediksi, nada bicaramu berubah.

Taukah Ibu, kalau saya membutuhkan beberapa minggu untuk menyusun nyali, memberanikan diri untuk membicarakan perihal ini padamu? Setelah tau proses yang saya jalani melebih target, setiap pagi bangun tidur, dan setiap malam saat laptop terbuka, saya memikirkannya. Bagaimana menyusun kalimat yang tepat, tanpa harus mengarang cerita, tanpa menciptakan kesan kalau progress saya lambat, atau tanpa menyakiti karena saya baru saja menambah beban di pundakmu yang sebelumnya sudah berat.

Untukmu Ibu,
Walau saat ini saya menjalani dengan rasa bersalah, bahkan tidak bisa menjanjikan apa-apa, maka biarkan saya mengiba maaf padamu. Biarkan maaf ini tidak hanya sekedar kata, tapi menjadi sebuah upaya. Saya tau, kalau saya sungguh tidak mampu membayar kembali apa yang sudah Ibu berikan untuk saya. Tapi bu, biarkan saya mengusahakan senyummu di hari saya mengenakan toga nanti.

Ibu,
Tidak ada yang tau bagaimana caramu berjuang menyelamatkan saya sampai akhir mendapatkan gelar sarjana. Tidak ada yang tau bagaimana kau bersusah payah melakukan itu.
Terima kasih karena darimu, saya jadi menghargai setiap detil kesempatan yang bisa saya peroleh.

Untuk Ibu,
Maafkan saya kalau sampai sekarang masih membiarkanmu terikat pada keluarga ini tanpa bisa melakoni cara-cara bahagia yang kau suka. Ibu, biarkan kelak saya bisa mengajakmu kemanapun kau mau, tanpa harus memikirkan apakah saat ini hari kerja atau akhir pekan, apakah tanggal merah ini kita harus buka toko atau tidak, apakah kerja ini sudah selesai atau belum, apakah besok harus bangun pagi atau tidur larut. Tanpa itu semua, Ibu.

Untukmu, Ibu.
Terima kasih untuk segala yang tidak pernah setengah-setengah kau berikan. Terima kasih karena harapan dan doa selalu kau haturkan padaNya untuk saya, putrimu yang sedang berada di fase kritis.



Salam,
OS



Minggu, 15 Juli 2018

Bola Raksasa Diarak di Simpang Lima: Ini Cara Sedulur Semarang Mendukung Asian Games 2018

Hari minggu lalu, kira-kira jam setengah enam pagi, saya melaju dari kost ke Stasiun Poncol Semarang untuk menjemput adik yang tiba jam enam di Semarang. Hanya sedikit saja waktu yang saya butuhkan untuk tidak terlambat.
Kakak udah di pintu luar 
Di luar nian kan?
Iyo
Demikian isi chat room saya dengan adik. 15 menit berlalu setelah petunjuk dari pengeras suara yang mengatakan kalau kereta dari Jakarta sudah tiba. Belum juga dia kelihatan, saya panik.
Dimano sih?
Ee kan di pintu luar, ini aku udah di pinggir jalan nah
Hadeh
Dipikirnya saya menunggu di pintu terluar setelah area parkir, hahaha. Tapi berhubung sudah di Semarang, itu tidak lagi dipersoalkan. Kami pulang ke kost mengambil rute seperti biasa mengambil jalur Simpang Lima. 
Kok jalan ditutup. Pikir saya waktu itu.
“Apo tuh kak rame-rame?” Si adik yang saya bonceng, bertanya.
Halah, CFD. Hahaha. Saya tertawa.
Di jam sepagi itu di hari minggu, saya memang jarang sekali melewati area CFD (car free day), sampai lupa kalau jalan ditutup. Tapi ada hal yang menarik perhatian kami. Ada bola raksasa yang digulir rame-rame!
https: img-o.okeinfo.net content 2018 07 08 601 1919642 bola-raksasa-diarak-keliling-simpang-lima-semarang-untuk-sambut-asian-games-2018-co5209oQu3.jpg
Bola Raksasa Memeriahkan Asian Games 2018 di Semarang
(Foto: Taufik Budi/SindoTV)
Kemeriahan Asian Games XVIII 2018
Euforia Asian Games sudah sangat terasa di Jawa Tengah, apalagi di Kota Lunpia ini. Ajang olahraga se-Asia yang bakal diikuti 45 negara akan berlangsung tanggal 18 Agustus- 02 September di Jakarta dan Palembang.

Diselenggarakan empat tahun sekali, masyarakat Indonesia tentu tidak mau melewatkannya. Menjadi salah satu pesta rakyat, ajang bergengsi ini menghadirkan pembalap downhill putri dari Semarang yaitu Tiara Andini Prastika yang berusia 22 tahun. Untuk pemanasan Asian Games, ia mengikuti Kejuaraan Asia MTB 2018 di Filipina dan meraih medali perunggu. Selain Tiara, ada Dimas Arif Fauzi dan David Aldi (bola tangan), Dewi Setyaningsih (loncat indah), Hening Paradigma (paralayang) dan Lavinia Tananta (tenis lapangan) yang juga berasal dari Semarang.   

Bola Raksasa Tanda Penyambutan Asian Games 2018
Walaupun tidak diselenggarakan di Semarang, tapi antusiasme masyarakat Jateng menyambut Asian Games ini begitu terlihat. Gegap gempita Asian Games 2018 yang akan datang sebentar lagi disambut dengan sebuah bola raksasa yang diarak keliling Kota Semarang. Bola berdiameter 3,5 meter itu pun menjadi pemandangan menarik masyarakat Kota Semarang yang memadati area CFD di kawasan Simpang Lima Semarang, termasuk kami pengguna jalan yang lewat.
Antusias Sedulur Semarang Mendukung Asian Games 2018
(Foto: https://sports.okezone.com/)
Hari Minggu (8/7/2018), kegiatan yang digagas Kementerian Pemuda dan Olahraga itu semakin meriah dengan iringan Marching Band Akademi Kepolisian. Bola diarak dari halaman Mapolda Jateng menuju Lapangan Pancasila Simpang Lima. Kawasan pusat Kota Semarang itu juga sedang dipenuhi masyarakat yang mengikuti Pesta Rakyat dalam rangka HUT ke-72 Polri.
Sedulur Semarang Mengarak Bola Raksasa di Area CFD Simpang Lima
(Foto: https://sports.okezone.com/)
Selamat Bertanding, Kami Padamu!
'Sukses untuk Asian Games 2018', 'Selamat Bertanding, Kami Padamu'
Begitulah yang tertulis jelas di spanduk putih sepanjang 30an meter.
Tidak hanya arakan bola raksasa saja, masyarakat yang tengah menikmati kegiatan Car Free Day juga mendukung ajang olahraga bergengsi ini dengan menuliskan kalimat semangat. Pun tidak hanya sebatas kalimat tersebut, aksi tanda tangan oleh masyarakat turut dibubuhkan pada kain yang dibentangkan di sepanjang Jalan Pahlawan arah Simpang Lima. Ramainya masyarakat yang antusias dalam acara ini merupakan bentuk kepedulian untuk Indonesia sebagai tuan rumah setelah sekian puluh tahun lamanya. 
CFD Semarang: Sukses untuk Asian Games 2018, Selamat Bertanding, Kami Padamu
Aksi Tanda Tangan Untuk Pertandingan Atlet Asian Games 
(Foto: http://jateng.tribunnews.com/)
Usut punya usut, ternyata nantinya bola berukuran besar yang menggelinding dan spanduk ini akan dibawa ke Jakarta dan ditunjukkan di sana untuk memberikan dukungan bersama dari Kota Semarang menyemarakkan Asian Games 2018 sekaligus ajang kebangkitan olahraga di Indonesia.

Kemeriahan Asian Games juga terasa kental. Di mana-mana terlihat banyak poster dan banner bergambar logo dan maskot Asian Games: di bandara dan juga di stasiun. Logo Asian Games 2018 yang terinspirasi dari bentuk Stadion Utama Gelora Bung Karno yang menggambarkan Energy of Asia. Busur warna-warninya mewakili keberagaman budaya di Indonesia dan Asia.
Hasil gambar untuk logo asian games di bandara ahmad yani
Logo Asian Games di Bandara Ahmad Yani Semarang
(Foto: http://www.jatengpos.com)
Ya, antusiasme ini tak hanya dirasakan oleh warga Palembang dan Jakarta, wong Jateng juga antusias!
Kami Sedulur Semarang berharap kegiatan Asian Games 2018 berjalan lancar dan sukses, ayo kita dukung bersama agar harapan untuk atlet Indonesia bisa terwujud!



Selamat Bertanding, Kami Padamu
Tertanda,
Sedulur dari Semarang



Sumber pendukung: 
http://jateng.tribunnews.com/
http://www.semarangcoret.com

Diberdayakan oleh Blogger.